Pengakuan Napi Narkoba di Kupang, Mengaku Dijebak Hingga Tak Diperhatikan Manajemen

Ben merasa dijebak dan Rez kecewa karena setelah ditangkap, ia tidak pernah diperhatikan oleh manajemen tempatnya bekerja.

Pengakuan Napi Narkoba di Kupang, Mengaku Dijebak Hingga Tak Diperhatikan Manajemen
KOMPAS.COM
Ilustrasi Narkoba 

Pengakuan Napi Narkoba di Kupang, Mengaku Dijebak Hingga Tak Diperhatikan Manajemen 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Terpidana kasus narkoba yang saat ini menjalani masa tahanan sebagai warga binaan di Lapas Kelas IIA Kupang NTT memberi kesaksian mengejutkan.

RT (35) alias Rez, warga binaan yang telah menjalani satu tahun masa hukuman dan BB (36) alias Ben yang telah menjalani dua tahun masa hukuman di Lapas Kupang itu menceritakan kisah mereka kepada POS-KUPANG.COM.

Ben merasa dijebak dan Rez kecewa karena setelah ditangkap, ia tidak pernah diperhatikan oleh manajemen tempatnya bekerja.

Rez yang berprofesi sebagai  "anak band" itu ditangkap saat ia manggung di DH Kupang pada medio Februari 2018 silam. Penangkapan itu dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Nusa Tenggara Timur (NTT). 

"Penangkapan saya itu di bulan Februari 2018. Saat saya lagi manggung tiba-tiba ada BNN datang buat tes urin begitu di Dancing Hall," tutur pria kelahiran Bandung itu. 

Saat itu, kisahnya, sembilan kru band dites urinenya dan dibawa. Tiga diantaranya kemudian diketahui urine mereka positif mengandung narkotika, termasuk dirinya. Saat penangkapan, pihak BNN juga menemukan barang bukti 0,5 gram sabu-sabu di sekitar lokasi mereka. Namun demikian, ia mengatakan bahwa saat itu tidak ada transaksi jual beli di tempat itu.

Ia kemudian diproses hukum dan akhirnya divonis oleh pengadilan selama enam tahun penjara dan subsider empat bulan. 

Ia mengaku menggunakan sabu-sabu sejak 2016 ketika kedua orang tuanya wafat. Dengan aktivitas yang berat sebagai musisi, ia mulai sering menggunakan sabu-sabu saat manggung. Namun, akunya, itu dilakukannya tidak setiap saat. 

"Di Dancing Hall saya rasa kerja terlalu berat. Kalau dari jam sembilan (pukul 21.00 Wita) kita sudah stay di DH, kadang sampai jam empat atau jam lima subuh. Tapi setelah kejadian ini pihak manajemen tidak ada pernah melihat, putus kontak sama sekali sehingga saya terdampar di sini," kisahnya. 

Halaman
123
Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved