Masalah Tenaga Kerja

Pengusaha Sawit di Kutai Timur Usir 900 Warga NTT, Kini Tempati Aula Kantor Camat

Setelah di PHK, mereka langsung diusir dari kamp milik perusahaan karena dianggap bukan karyawan lagi.

SILVESTER NONG MANIS untuk POS-KUPANG.COM
Warga NTT ditampung di aula Kantor Camat Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. 

"Tahu-tahu, pada 16 September kemarin, pinjam aula untuk tempat tinggal. Saya beri izin karena mereka mau kemana lagi, tidak ada tempat tinggal. Namanya mereka warga kita juga, tentu kami beri pelayanan yang dibutuhkan semampu kami juga," kata Madnuh saat dihubungi via telepon, Rabu kemarin.

Sadis! Gadis Gresik Jawa Timur Dibunuh & Pelaku Lampiaskan Hasrat Nafsunya di Depan Jasad Korban

Madnuh sudah memanggil pihak perusahaan, perwakilan pekerja dan aparat desa. Kepada pekerja yang masih mau bekerja akan diupayakan untuk mendapat pekerjaan lagi. "Saya minta didaftar, tapi sampai sekarang belum ada daftarnya. Maksudnya agar ada kegiatan dan pendapatan yang diperoleh untuk sehari-hari mereka juga," ujarnya.

Dia membantah informasi yang mengatakan pihaknya melakukan pembiaran terhadap para pekerja perkebunan kelapa sawit yang bersengketa dengan perusahaan tempat bekerja.

Selama menumpang di aula Kantor Camat Karangan, Madnuh beserta aparatnya, menggandeng Puskesmas setempat untuk melakukan pelayanan kesehatan, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Serta menjalin kerja sama dengan organisasi kepemudaan dan organisasi masyarakat untuk memberi bantuan pangan pada warga yang mengungsi.

PSK Karang Dempel Tenau Dapat Pesangon, Pemkot Kupang Rahasiakan Nilainya

"Tadi sebelum ke Sangkulirang, saya sudah pesan pada warga besok ada pelayanan kesehatan gratis lagi," ucapnya.

LBH Veritas Damping

Pekerja asal NTT telah meminta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Veritas untuk mendampingi. Silvester Nong Manis, SH dari LBH Varitas telah berada di Kutai Timur sejak Jumat (13/9/2019).

Menurut Silvester, para pekerja berasal dari Kabupaten Manggarai, Sikka, Adonara (Flores Timur), Kupang dan Ende.

"Kami berusaha mediasi dengan bantuan tokoh-tokoh asal NTT dengan warga setempat, tetapi tidak bisa. Dari pada terjadi akibat lebih buruk, kami tinggalkan camp," ujar Silvester yang menghubungi Pos Kupang dari Kutai Timur, Rabu kemarin.

Suasana Perpisahan Imam Nahrawi di Kemenpora Diwarnai Saling Peluk dan Banjir Air Mata

Dia menjelaskan, manajemen perusahaan memanfaatkan para preman dan komunitas adat setempat memaksa para pekerja keluar dari camp penampungan, Minggu (15/9/2019).

Halaman
1234
Penulis: Eugenius Moa
Editor: Alfons Nedabang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved