Viral Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung Usai Dansa HUT Rumah Sakit
Dalam dua hari terakhir viral kabar seorang Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung usai dansa di acara HUT Rumah Sakit
Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
Tak hanya itu tim juga ditugaskan untuk mencari pelanggaran hukum 'waktu bekerja aman' atau akta bagi perlindungan pekerja medis termasuk orang awam.
"Selain itu menumbuhkan kesadaran dalam bentuk kampanye dan keterlibatan aktif dengan pekerja medis dan langkah-langkah keamanan saat terjadi kelelahan dan kurang tidur, menyediakan fasilitas transportasi alternatif atau antar-jemput dari rumah sakit ke lokasi perumahan tertentu.
"Hal utama adalah menyediakan 'post-call off' atau hari-off wajib untuk pekerja medis shift atau dokter on-call," katanya.
Pada tahun 2015, Asosiasi Kedokteran Islam Malaysia (Imam) dan Organisasi Amal Kedokteran Ibnu Sina Malaysia (Papisma) menerbitkan penelitian di kalangan petugas kesehatan profesional tentang post-call MVAS.
Survei dilakukan terhadap 440 responden selama 18 jam mengungkapkan bahwa lebih dari setengah dari kecelakaan (54,8 persen) terjadi setelah bekerja selama 25 sampai 36 jam.
Selain itu, 64.8 persen responden mengakui mengalami trauma psikologis akibat kecelakaan itu.
"Setelah bertugas wajib on call selama 24 jam. Kebanyakan petugas medis harus melanjutkan layanan mereka antara empat sampai 10 jam. Tekanan kerja dikombinasikan dengan kurangnya tidur mengundang kelelahan.
"Faktor kekurangan tidur diidentifikasi sebagai faktor utama kepada MVA sebanding dengan keadaan mabuk yang disebabkan oleh alkohol," ujarnya.
* Dokter Meninggal karena Kelelahan Bekerja, Sempat Pingsan setelah Tanya Kabar Ibu Pasiennya
Ini sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan.
Menjaga kondisi tubuh sangat diperlukan.
Kakau tidak, bisa fatal akibatnya.
Seorang dokter memang dituntut untuk membantu pasiennya yang sedang sakit.
Karena dedikasinya itu, acap kali dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Hal tersebut dialami oleh seorang dokter di Tiongkok, Zhao, yang bekerja tanpa henti hingga 18 jam.
Dokter Zhao adalah wakil kepala pengobatan pernapasan di Rumah Sakit Rakyat Distrik Yuci di Kota Jinzhong di Provinsi Shaanxi, Cina barat laut.
Karena kelelahan dan tak pernah istirahat, dokter 43 tahun tersebut ditemukan pingsan di depan pasiennya beberapa waktu lalu.
Sebelum pingsan, Zhou sempat menanyakan memeriksa pasiennya, sambil menanyakan kabar si pasien, "bagaimana kabar ibumu?"
Hingga kemudian beberapa saat dokter tersebut tak sadarkan diri di depan seorang pasien.
Setelah pingsan secara tiba-tiba, Zhou disebut mengalami pendarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma di otak.
"Ia pernah berkata terlalu sibuk untuk beristirahat" kata seorang rekan kerjanya.
Menurut seorang sumber, Zhou biasanya bekerja pada shift pagi dan melanjutkan shft malah tanpa beristirahat sejenak.
Zhou sebelumnya pernah mengalami hal serupa, dan selamat karena dibantu dua pasiennya yang berusia 80-an.
Tapi kali ini, setelah perawatan intensif, Zhou meninggal 20 jam setelah ambruk di depan pasiennya.
Kejadian ini pelajaran untuk kita semua.
Meski memiliki pekerjaan yang banyak, istirahat tetap perlu.
Tapi bagaimanapun, salut dengan dedikasi sang dokter untuk pasiennya hingga ia meninggal.
Tak salah jika suatu saat kita menannyakan kesehatan dokter kita agar tak terulang kejadian tersebut.
* Calon Dokter Tewas
Seorang mahasiswa kedokteran di Tiongkok meninggal dunia karena serangan jantung saat membaca majalah dewasa dalam kunjungan keempatnya ke sebuah bank sperma.
Zheng Gang (23) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah kamar klinik kesuburan di Universitas Wuhan setelah perawat menaruh curiga karena Zheng menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya.
Dua jam setelah dia memasuki kamar, tim medis langsung memasuki kamar tersebut dan menemukan Zheng tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Setelah berupaya menolong dengan memberikan pernapasan buatan, para dokter menyatakan Zheng meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kasus kematian Zheng ini sebenarnya terjadi pada Februari 2012, tetapi baru diketahui setelah keluarga Zheng menyeret bank sperma di kota Wuhan itu ke pengadilan karena dianggap tidak bertanggung jawab sehingga mengakibatkan mahasiswa itu meninggal dunia.
Namun, pengadilan mengatakan bahwa Zheng, yang belajar di Universitas Wuhan sejak 2010, sudah cukup mampu mengambil keputusan terkait kehidupannya, termasuk keterlibatannya dalam program bank sperma.
Di pengadilan terungkap bahwa Zheng mendaftarkan diri dalam program bank sperma itu pada Januari 2011 dan hanya dalam 10 hari Zheng telah melakukan empat kunjungan untuk mendonasikan spermanya dalam program itu.
Keluarga Zheng menuntut ganti rugi 1 juta poundsterling atau hampir Rp 10 miliar karena menganggap Zheng dipaksa untuk terlibat dalam program itu dan tidak mendapat pertolongan memadai saat ditemukan tak sadarkan diri.
Pengadilan kemudian memutuskan ganti rugi sebesar 19.000 poundsterling (Rp 366 juta) ditambah biaya pemakaman sebesar 8.000 poundsterling atau sekitar Rp 155 juta.
Tak puas dengan keputusan pengadilan itu, keluarga Zheng naik banding.
Namun, pengadilan malah memperkuat keputusan ganti rugi yang lebih rendah itu. (Daily Mail/Kompas.com)
BJ Habibie Sakit, 44 Dokter Kepresidenan Disiapkan hingga Tak Akan Dibawa ke Jerman
Jusuf Habibie diketahui dirawat secara intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Informasi awal itu disampaikan Sekretaris Pribadi BJ Habibie, Rubijanto, kepada Kompas.com, Minggu (8/9/2019).
"Dengan hormat, bersama ini kami konfirmasikan bahwa Bapak BJ Habibie sedang menjalani perawatan yang intensif oleh Tim Dokter Kepresidenan (TDK) di RSPAD Gatot Soebroto," kata Rubijanto saat itu.
Pada saat itu, TDK merekomendasikan agar pendiri Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) itu tidak dijenguk oleh siapapun.
44 dokter kepresidenan disiapkan
Terkait kondisi itu, sebanyak 44 dokter kepresidenan pun disiapkan untuk menangani kesehatan BJ Habibie.
Dokter kepresidenan yang disiagakan ini terdiri dari dokter ahli atau spesialis yang dirasa diperlukan oleh Habibie.
"Jadi ada dokter kepresidenan yang kami koordinasikan berjumlah 44 orang. Sebanyak 34 tim panel ahli, ahli di bidang macam-macam, jantung, otak dan sebagainya lengkap. Semua spesialis kedokteran lengkap di sana ada 34 orang," ujar Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Jakarta Setya Utama di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (9/6/2019).
"Kemudian ada dokter pribadi presiden berjumlah 10 orang," sambung dia.
Setya memastikan pemerintah menanggung seluruh biaya kesehatan Habibie sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan atau Administrasi Presiden dan Wakil Presiden serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden.
Isu meninggal dunia
Di tengah kondisi BJ Habibie yang sakit, di media sosial juga beredar kabar bahwa ia meninggal dunia pada Selasa (10/9/2019) pagi.
Pada awalnya, Sekretaris pribadi Habibie, Rubijanto, memastikan kabar tersebut tidak benar alias hoaks.
Rubijanto mengatakan, sampai saat ini Habibie masih dirawat intensif di RSPAD Gatot Subroto. Kondisi kesehatannya masih tertangani oleh para dokter kepresidenan.
"Aman terkendali," kata Rubijanto kepada Kompas.com, Selasa pagi.
Hal senada kembali ditegaskan oleh putra BJ Habibie, Thareq Kemal Habibie dalam konferensi pers, Selasa malam. Thareq meminta semua pihak untuk tak termakan dengan hoaks terkait kondisi ayahnya.
"Tadi pagi saya ditanya, banyak, ada berita palsu, bapak meninggal. Jadi jangan percaya berita hoaks, percayalah kepada kalian-kalian (jurnalis) ini yang asli memberi berita asli. Yang hoaks itu jangan dipercayalah," kata Thareq.
Ia menyesalkan isu semacam itu beredar. Sebab, kondisi ayahnya terkini justru semakin stabil.
"Ada orang bilang bapak meninggal saya belum apa-apa dapat (ucapan) 'Innalilahi', loh bagaimana, sih? Saya tanya yang meninggal siapa, (dijawab) 'loh, bapakmu'. Loh, kata siapa?" ujar Thareq.
Sakit karena faktor usia dan aktivitas tinggi
Thareq menyatakan ayahnya jatuh sakit dikarenakan faktor usia dan banyaknya aktivitas yang ia jalani sehari-hari. Sehingga hal itu menimbulkan masalah pada kesehatan jantungnya.
"Mohon dimengerti Bapak itu agak sepuh ya. Sudah di atas 80 (tahun), yakni 83 (tahun) menginjak ke 84 tahun. Beliau beraktivitas sangat tinggi, sehingga Bapak suka lupa bahwa Beliau itu 80-an. Karena otaknya masih jalan tapi sesuai natural manusia badan kan enggak akan selalu ikut," kata dia.
"Bapak saya dari dulu semenjak muda punya masalah dengan jantung. Otomatis karena kian menua ini jantungnya sangat melemah. Dengan aktivitas yang tinggi tidak dikasih waktu istirahat, badannya memberontak. Jadi lah ada masalah," tambah Thareq.
Thareq meminta doa semua pihak agar ayahnya bisa ssgera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Dirawat di CICU, kunjungan dibatasi
Ia pun mengungkapkan, BJ Habibie dirawat secara intensif di ruangan Cerebro Intensive Care Unit (CICU), Paviliun Kartika. Keluarga, kata Thareq, sengaja membawa ayahnya ke rumah sakit agar bisa istirahat penuh.
"Sengaja dimasukin ke ICU karena tidak ada pilihan lain untuk membiarkan beliau istirahat untuk bisa menyembuhkan diri. Walaupun dikasih obat macam-macam tapi kalau enggak istirahat total tidak ada guna," tegasnya.
Keluarga juga sengaja membatasi pengunjung yang hendak menjenguk ayahnya. Sebab, jika tak dibatasi, Habibie tak kunjung beristirahat.
"Keadaan Bapak sudah stabil membaik. Cuma Bapak sangat lemes, sangat capek diajak ngomong. Bereaksi diajak ditanya manggut bisa, tetapi tidak ada bahwa Bapak itu dalam keadaan kritis. Sudah membaik, sudah stabil," ucap dia
Tak akan dibawa ke Jerman
Thareq juga menyatakan ayahnya tak akan dibawa ke Jerman terkait kondisi kesehatannya.
Ia mengatakan, keluarga besar Habibie percaya dengan kualitas tim medis yang menangani ayahnya.
"Tidak, tidak, tim dokter di sini bagus, kenapa harus dibawa ke Jerman?" kata Thareq.
"Lagipula sebagai orang tua yang sakit, kalau terbang dalam jarak jauh dan beliau dalam keadaan begini ya lebih bahaya," ujar dia.
(*)