Viral Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung Usai Dansa HUT Rumah Sakit
Dalam dua hari terakhir viral kabar seorang Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung usai dansa di acara HUT Rumah Sakit
Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
Viral Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung Usai Dansa Saat HUT Rumah Sakit
POS-KUPANG.COM - Dalam dua hari terakhir viral kabar tentang seorang Dokter Ahli Penyakit Dalam Made Arimbawa Tewas Serangan Jantung usai dansa di acara HUT sebuah Rumah Sakit di Badung Bali, Indonesia.
Berita tentang Dokter Made Arimbawa tersebut paling tidak bisa diakses di beberapa media online di Bali, seperti pojoksatu.id yang bersumber dari Bali Express dan nusabali.com.
Dilaporkan, seorang dokter di RSD Mangusada, dr I Made Arimbawa SpPD, 49, meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan dansa (menari) dalam sebuah acara yang diselenggarakan di RSD Mangusada Badung Bali dalam rangka perayaan HUT ke-17 rumah sakit tersebut, Minggu (8/9/2019) sekitar pukul 11.00 Wita.
Diduga yang bersangkutan mengalami Serangan Jantung.
“Dengan beliau biasa bertemu di rumah sakit. Setahu saya tidak punya riwayat mengidap penyakit,” kata rekan korban yang juga Kepala Bidang Penunjang RSD Mangusada, dr Ketut Japa.
• VIRAL Dua Dokter ini Gelar Pernikahan Sederhana, Wanitanya Tampil Tanpa Makeup, Wajah Jadi Sorotan
Menurut dr Ketut Japa, rekannya mengeluhkan pusing setelah nge-dance bersama rekan-rekannya untuk mengisi perayaan HUT ke-17 RSD Mangusada.
“Setelah turun dari panggung, dr Made Arimbawa mengeluh pusing, kemudian langsung dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, upaya pertolongan tidak berhasil, dr Made Arimbawa meninggal,” imbuhnya.
Dikatakannya, selama mengenal dr Made Arimbawa yang bertugas sebagai dokter spesialis penyakit dalam di RSD Mangusada sekitar tahun 2009-2010, tak pernah mengeluh mengenai penyakit.
“Saya tidak tahu banyak, yang jelas kalau lagi di rumah sakit biasa ketemu,” aku dr Ketut Japa.
• Model Kylie Jenner Pose Tanpa Busana untuk Playboy Bersama Pacar Travis Scott, Fotonya Vulgar Banget
Walau begitu, diduga dr Arimbawa mengalami serangan jantung, usai ngedance bersama rekan sejawat.
“Biasanya mengarahnya ke situ ( Serangan Jantung, Red). Tapi saya tidak berani memastikan,” ucapnya.
“Dokter Arimbawa, orangnya baik. Dia dari Canggu, Kuta Utara. Kalau tidak salah dia punya dua orang anak,” imbuh dr Japa.
Diberitakan pula, Dokter I Made Arimbawa sempat menunjukkan kebolehannya dalam dance di panggung bersama beberapa dancer lainnya.
Namun dokter asal Canggu, Kuta Utara tersebut berpulang usai aksinya sekitar pukul 11.00. Pria usia 49 tahun itu diduga mengalami Serangan Jantung.
Direktur RSD Mangusada, dr. Nyoman Gunarta tak menyangka almarhum pergi secepat itu. Pihaknya pun berkabung.
“Kami berduka. Kami juga sudah berkoordinasi dengan keluarga almarhum,” ungkap dr. Nyoman Gunarta, Senin (9/9/2019).
• Ternyata 5 Makanan Sehat Ini Dapat Membahayakan Tubuh Jika Dimakan dengan Cara Tidak Benar
Mengenai kronologi kejadian, Gun sapaan akrabnya, mengatakan, almarhum tiba-tiba roboh di tempat duduk usai berdansa di atas panggung.
“Jadi beliau habis manggung, sempat duduk. Tiba-tiba roboh,” tuturnya.
Melihat kejadian tersebut, panitia sempat memberikan penanganan. Bahkan sempat dilarikan ke IGD RS setempat.
“Kami berikan pertolongan, tapi beliau sudah tidak merespons,” jelasnya.
Apakah almarhum sempat mengeluhkan sakit sebelumnya? Gunarta mengaku tak tahu persis. Pun dalam pertunjukkan dansa, yang bersangkutan tampak semangat. “Kami tidak tahu persis,” katanya.
Nyoman Gunarta menegaskan, almarhum menari karena keinginan sendiri. Hal ini tak terlepas dari semangat memeriahkan HUT.
“Ya, beliau memang semangat sekali,” ujarnya.
Mengenai tindak lanjut Rumah Sakit, pihaknya sudah berkoordinasi dengan keluarga. Dikatakannya, keluarga bisa memaklumi.
“Kami sudah berkoordinasi dengan keluarga. Keluarga pun maklum dengan kejadian ini. Karena kami tidak tahu beliau mengidap penyakit seperti apa,” terangnya. (*)
* Dokter Stefanus Meninggal Akibat Piket 5 Hari Berturut-turut Saat Rekan Libur Lebaran
Seorang dokter spesial anastesi ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di kamar jaga, satu Rumah Sakit Swasta.
Kabar meninggalnya dokter saat bertugas, pertama diunggah oleh akun twitter @blogdokter, pada Selasa (27/6/2017), sekira pukul 22.38 WIB.
Dilansir dari beberapa informasi, dokter tersebut bernama Stefanus Taofik (35), dokter spesialis anastesi, asal Cakranegara, Lombok, Nusa Tenggara Timur.
Kematian dokter Taofik diduga terkena serangan jantung setelah berjaga 5 hari berturut-turut di 3 rumah sakit, saat senior lain sedang cuti lebaran.
Stefanus Taopik meninggalkan seorang istri dan seorang anak berusia 1 tahun.
Dokter Stefanus merupakan alumnus fakultas kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (FKUAJ), angkatan 2000.
Tuntut Pemerintah
Dokter meninggal saat melakukan piket jaga di luar batas kemampuan tubuh untuk bekerja tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal yang sama juga pernah terjadi di Malaysia.
Dilansir dari sinarharian.com akibat terlalu letih menghabiskan waktu bekerja selama 33 jam, seorang dokter meninggal dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit Universitas Sains Malaysia (HUSM) ke Kuala Terengganu untuk bertemu tiga anak dan suaminya.
Korban yang dikenal sebagai Dr Nurul Huda Ahmad baru selesai "On Call" pada pukul 5 petang, 9 Mei lalu. Disebutkan bahwa Nurul telah bekerja 33 jam mulai 8 Mei.
Dr Nurul Huda yang melayani di HUSM tinggal di Kota Bharu pada hari kerja sementara suami dan anak-anaknya menetap di Kuala Terengganu.
Jadi, untuk memanfaatkan liburannya, ia pulang ke rumahnya. Namun, nasib menentukan yang lain. Ia mengalami kecelakaan.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan petugas medis dan organisasi non-pemerintah (LSM) disebutkan bahwa kecelakaan maut yang melibatkan dokter yang bertugas dalam periode waktu yang panjang bukanlah sesuatu yang jarang terjadi.
"Sebelumnya kami telah kehilangan rekan kerja, Dr Afifah Mohd Gazi. Jadi saatnya tindakan serius diambil untuk menghindari kehilangan nyawa lain menjadi taruhan.
"Kita menyadari bahwa banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan kendaraan bermotor. Diantaranya masalah kendaraan, kondisi jalan yang buruk dan gangguan lain."
"Namun, kita tidak bisa menolak fakta bahwa kelelahan atau kurang tidur juga adalah salah satu faktor yang diidentifikasi dan dapat dicegah," kata pernyataan itu.
Kalangan medis dan LSM sepakat mendesak Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) dan stakeholder agar meneliti dan mengubah kebijakan waktu bekerja dokter agar dapat mengurangi tingkat kecelakaan kendaraan di kalangan petugas medis.
Ada lima daftar tindakan yang disampaikan kepada KKM antaranya adalah membentuk tim petugas khusus dari Departemen Kesehatan, Departemen Transportasi, universitas dan LSM medis.
Untuk menyelidiki kejadian kecelakaan kendaraan bermotor (MVA) di kalangan pekerja medis dan hubungannya dengan waktu bekerja mereka.
Tak hanya itu tim juga ditugaskan untuk mencari pelanggaran hukum 'waktu bekerja aman' atau akta bagi perlindungan pekerja medis termasuk orang awam.
"Selain itu menumbuhkan kesadaran dalam bentuk kampanye dan keterlibatan aktif dengan pekerja medis dan langkah-langkah keamanan saat terjadi kelelahan dan kurang tidur, menyediakan fasilitas transportasi alternatif atau antar-jemput dari rumah sakit ke lokasi perumahan tertentu.
"Hal utama adalah menyediakan 'post-call off' atau hari-off wajib untuk pekerja medis shift atau dokter on-call," katanya.
Pada tahun 2015, Asosiasi Kedokteran Islam Malaysia (Imam) dan Organisasi Amal Kedokteran Ibnu Sina Malaysia (Papisma) menerbitkan penelitian di kalangan petugas kesehatan profesional tentang post-call MVAS.
Survei dilakukan terhadap 440 responden selama 18 jam mengungkapkan bahwa lebih dari setengah dari kecelakaan (54,8 persen) terjadi setelah bekerja selama 25 sampai 36 jam.
Selain itu, 64.8 persen responden mengakui mengalami trauma psikologis akibat kecelakaan itu.
"Setelah bertugas wajib on call selama 24 jam. Kebanyakan petugas medis harus melanjutkan layanan mereka antara empat sampai 10 jam. Tekanan kerja dikombinasikan dengan kurangnya tidur mengundang kelelahan.
"Faktor kekurangan tidur diidentifikasi sebagai faktor utama kepada MVA sebanding dengan keadaan mabuk yang disebabkan oleh alkohol," ujarnya.
* Dokter Meninggal karena Kelelahan Bekerja, Sempat Pingsan setelah Tanya Kabar Ibu Pasiennya
Ini sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan.
Menjaga kondisi tubuh sangat diperlukan.
Kakau tidak, bisa fatal akibatnya.
Seorang dokter memang dituntut untuk membantu pasiennya yang sedang sakit.
Karena dedikasinya itu, acap kali dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Hal tersebut dialami oleh seorang dokter di Tiongkok, Zhao, yang bekerja tanpa henti hingga 18 jam.
Dokter Zhao adalah wakil kepala pengobatan pernapasan di Rumah Sakit Rakyat Distrik Yuci di Kota Jinzhong di Provinsi Shaanxi, Cina barat laut.
Karena kelelahan dan tak pernah istirahat, dokter 43 tahun tersebut ditemukan pingsan di depan pasiennya beberapa waktu lalu.
Sebelum pingsan, Zhou sempat menanyakan memeriksa pasiennya, sambil menanyakan kabar si pasien, "bagaimana kabar ibumu?"
Hingga kemudian beberapa saat dokter tersebut tak sadarkan diri di depan seorang pasien.
Setelah pingsan secara tiba-tiba, Zhou disebut mengalami pendarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma di otak.
"Ia pernah berkata terlalu sibuk untuk beristirahat" kata seorang rekan kerjanya.
Menurut seorang sumber, Zhou biasanya bekerja pada shift pagi dan melanjutkan shft malah tanpa beristirahat sejenak.
Zhou sebelumnya pernah mengalami hal serupa, dan selamat karena dibantu dua pasiennya yang berusia 80-an.
Tapi kali ini, setelah perawatan intensif, Zhou meninggal 20 jam setelah ambruk di depan pasiennya.
Kejadian ini pelajaran untuk kita semua.
Meski memiliki pekerjaan yang banyak, istirahat tetap perlu.
Tapi bagaimanapun, salut dengan dedikasi sang dokter untuk pasiennya hingga ia meninggal.
Tak salah jika suatu saat kita menannyakan kesehatan dokter kita agar tak terulang kejadian tersebut.
* Calon Dokter Tewas
Seorang mahasiswa kedokteran di Tiongkok meninggal dunia karena serangan jantung saat membaca majalah dewasa dalam kunjungan keempatnya ke sebuah bank sperma.
Zheng Gang (23) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah kamar klinik kesuburan di Universitas Wuhan setelah perawat menaruh curiga karena Zheng menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya.
Dua jam setelah dia memasuki kamar, tim medis langsung memasuki kamar tersebut dan menemukan Zheng tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Setelah berupaya menolong dengan memberikan pernapasan buatan, para dokter menyatakan Zheng meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kasus kematian Zheng ini sebenarnya terjadi pada Februari 2012, tetapi baru diketahui setelah keluarga Zheng menyeret bank sperma di kota Wuhan itu ke pengadilan karena dianggap tidak bertanggung jawab sehingga mengakibatkan mahasiswa itu meninggal dunia.
Namun, pengadilan mengatakan bahwa Zheng, yang belajar di Universitas Wuhan sejak 2010, sudah cukup mampu mengambil keputusan terkait kehidupannya, termasuk keterlibatannya dalam program bank sperma.
Di pengadilan terungkap bahwa Zheng mendaftarkan diri dalam program bank sperma itu pada Januari 2011 dan hanya dalam 10 hari Zheng telah melakukan empat kunjungan untuk mendonasikan spermanya dalam program itu.
Keluarga Zheng menuntut ganti rugi 1 juta poundsterling atau hampir Rp 10 miliar karena menganggap Zheng dipaksa untuk terlibat dalam program itu dan tidak mendapat pertolongan memadai saat ditemukan tak sadarkan diri.
Pengadilan kemudian memutuskan ganti rugi sebesar 19.000 poundsterling (Rp 366 juta) ditambah biaya pemakaman sebesar 8.000 poundsterling atau sekitar Rp 155 juta.
Tak puas dengan keputusan pengadilan itu, keluarga Zheng naik banding.
Namun, pengadilan malah memperkuat keputusan ganti rugi yang lebih rendah itu. (Daily Mail/Kompas.com)
BJ Habibie Sakit, 44 Dokter Kepresidenan Disiapkan hingga Tak Akan Dibawa ke Jerman
Jusuf Habibie diketahui dirawat secara intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Informasi awal itu disampaikan Sekretaris Pribadi BJ Habibie, Rubijanto, kepada Kompas.com, Minggu (8/9/2019).
"Dengan hormat, bersama ini kami konfirmasikan bahwa Bapak BJ Habibie sedang menjalani perawatan yang intensif oleh Tim Dokter Kepresidenan (TDK) di RSPAD Gatot Soebroto," kata Rubijanto saat itu.
Pada saat itu, TDK merekomendasikan agar pendiri Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) itu tidak dijenguk oleh siapapun.
44 dokter kepresidenan disiapkan
Terkait kondisi itu, sebanyak 44 dokter kepresidenan pun disiapkan untuk menangani kesehatan BJ Habibie.
Dokter kepresidenan yang disiagakan ini terdiri dari dokter ahli atau spesialis yang dirasa diperlukan oleh Habibie.
"Jadi ada dokter kepresidenan yang kami koordinasikan berjumlah 44 orang. Sebanyak 34 tim panel ahli, ahli di bidang macam-macam, jantung, otak dan sebagainya lengkap. Semua spesialis kedokteran lengkap di sana ada 34 orang," ujar Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Jakarta Setya Utama di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (9/6/2019).
"Kemudian ada dokter pribadi presiden berjumlah 10 orang," sambung dia.
Setya memastikan pemerintah menanggung seluruh biaya kesehatan Habibie sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan atau Administrasi Presiden dan Wakil Presiden serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden.
Isu meninggal dunia
Di tengah kondisi BJ Habibie yang sakit, di media sosial juga beredar kabar bahwa ia meninggal dunia pada Selasa (10/9/2019) pagi.
Pada awalnya, Sekretaris pribadi Habibie, Rubijanto, memastikan kabar tersebut tidak benar alias hoaks.
Rubijanto mengatakan, sampai saat ini Habibie masih dirawat intensif di RSPAD Gatot Subroto. Kondisi kesehatannya masih tertangani oleh para dokter kepresidenan.
"Aman terkendali," kata Rubijanto kepada Kompas.com, Selasa pagi.
Hal senada kembali ditegaskan oleh putra BJ Habibie, Thareq Kemal Habibie dalam konferensi pers, Selasa malam. Thareq meminta semua pihak untuk tak termakan dengan hoaks terkait kondisi ayahnya.
"Tadi pagi saya ditanya, banyak, ada berita palsu, bapak meninggal. Jadi jangan percaya berita hoaks, percayalah kepada kalian-kalian (jurnalis) ini yang asli memberi berita asli. Yang hoaks itu jangan dipercayalah," kata Thareq.
Ia menyesalkan isu semacam itu beredar. Sebab, kondisi ayahnya terkini justru semakin stabil.
"Ada orang bilang bapak meninggal saya belum apa-apa dapat (ucapan) 'Innalilahi', loh bagaimana, sih? Saya tanya yang meninggal siapa, (dijawab) 'loh, bapakmu'. Loh, kata siapa?" ujar Thareq.
Sakit karena faktor usia dan aktivitas tinggi
Thareq menyatakan ayahnya jatuh sakit dikarenakan faktor usia dan banyaknya aktivitas yang ia jalani sehari-hari. Sehingga hal itu menimbulkan masalah pada kesehatan jantungnya.
"Mohon dimengerti Bapak itu agak sepuh ya. Sudah di atas 80 (tahun), yakni 83 (tahun) menginjak ke 84 tahun. Beliau beraktivitas sangat tinggi, sehingga Bapak suka lupa bahwa Beliau itu 80-an. Karena otaknya masih jalan tapi sesuai natural manusia badan kan enggak akan selalu ikut," kata dia.
"Bapak saya dari dulu semenjak muda punya masalah dengan jantung. Otomatis karena kian menua ini jantungnya sangat melemah. Dengan aktivitas yang tinggi tidak dikasih waktu istirahat, badannya memberontak. Jadi lah ada masalah," tambah Thareq.
Thareq meminta doa semua pihak agar ayahnya bisa ssgera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Dirawat di CICU, kunjungan dibatasi
Ia pun mengungkapkan, BJ Habibie dirawat secara intensif di ruangan Cerebro Intensive Care Unit (CICU), Paviliun Kartika. Keluarga, kata Thareq, sengaja membawa ayahnya ke rumah sakit agar bisa istirahat penuh.
"Sengaja dimasukin ke ICU karena tidak ada pilihan lain untuk membiarkan beliau istirahat untuk bisa menyembuhkan diri. Walaupun dikasih obat macam-macam tapi kalau enggak istirahat total tidak ada guna," tegasnya.
Keluarga juga sengaja membatasi pengunjung yang hendak menjenguk ayahnya. Sebab, jika tak dibatasi, Habibie tak kunjung beristirahat.
"Keadaan Bapak sudah stabil membaik. Cuma Bapak sangat lemes, sangat capek diajak ngomong. Bereaksi diajak ditanya manggut bisa, tetapi tidak ada bahwa Bapak itu dalam keadaan kritis. Sudah membaik, sudah stabil," ucap dia
Tak akan dibawa ke Jerman
Thareq juga menyatakan ayahnya tak akan dibawa ke Jerman terkait kondisi kesehatannya.
Ia mengatakan, keluarga besar Habibie percaya dengan kualitas tim medis yang menangani ayahnya.
"Tidak, tidak, tim dokter di sini bagus, kenapa harus dibawa ke Jerman?" kata Thareq.
"Lagipula sebagai orang tua yang sakit, kalau terbang dalam jarak jauh dan beliau dalam keadaan begini ya lebih bahaya," ujar dia.
(*)