Samsul Widodo: Dana Desa Bisa Digunakan Untuk Kesenian

Dirjen PDT Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Samsul Widodo menegaskan dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat

Samsul Widodo: Dana Desa Bisa Digunakan Untuk Kesenian
POS-KUPANG.COM/Ricko Wawo
Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday bersama para tamu dan undangan diterima secara adat dan tarian pada puncak acara Festival 3 Gunung di Bukit Cinta Lembata, Sabtu (31/8/2019) 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Dirjen PDT Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Samsul Widodo menegaskan dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat bisa juga dimanfaatkan untuk mengembangkan Kesenian di wilayah masing-masing.

"Sehingga kesenian-kesenian yang dulu sudah kita lupakan bisa kita hidupkan lagi dengan dana desa. Seandainya tahun depan ada festival, kalau seluruh desa ditampilkan maka seragamnya bisa pakai dana desa," ungkapnya saat sesi konferensi pers penutupan Festival 3 Gunung di Bukit Cinta Lembata, Sabtu (31/8/2019).

Wabup Flotim Saksikan Kapal Cepat Hajar Ketinting Nelayan

Tahun ini untuk setiap desa di Kabupaten Lembata, dana desa yang dikucurkan itu rata-rata Rp800 juta dari total 147 desa. Tahun depan, katanya, Presiden Joko Widodo selama lima tahun kepemimpianannya berjanji untuk menaikan dana desa dengan total Rp400 triliun.

Jadi setiap desa mendapatkan kenaikan anggaran yang cukup signifikan. Dia berharap festival serupa tahun depan bisa lebih meriah. Tujuannya yang pertama untuk merawat budaya dan kedua untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dia menyarankan seluruh festival di NTT harus diatur jadwalnya karena kalau tidak pejabat pemerintah pusat akan kesulitan untuk hadir.

BREAKING NEWS: Massa Nyaris Bakar Kapal Cepat Tabrak Nelayan Flores Timur

Pihaknya bersama Pemprov NTT akan mendiskusikan soal jadwal festival supaya tertata baik kecuali yang wisata budaya dan religi seperti di Larantuka.

Lebih lanjut, Samsul menjelaskan pariwisata menjadi prioritas unggulan di NTT.  "Jangan pikir dinas pariwisata saja yang harus urus pariwisata tapi dinas lainnya juga berpikir soal ini. Festival festival ini nanti pengunjungnya pakai pakaian adatnya sehingga produksi tenun bisa meningkat. Orang-orang yang datang juga mau cari makanan tradisional dan itu harus disiapkan di hotel-hotel dan restoran," usulnya.

Dia berharap desa-desa wisata harus muncul karena dana desa juga bisa dimanfaatkan untuk homestay dan dikelola oleh BUMDes dan jadi pendapatan untuk desa.

Pertunjukan Budaya dan Tarian

Atraksi budaya sudah tampak sejak upacara penjemputan para tamu undangan. Setelah diterima secara adat dengan tuak dan sirih pinang, sebanyak 500 anak SD dan SMP di Lembata menyambut para tamu dengan tarian bulelu atau tarian pintal benang.

Para penari ini berbaris di sepanjang anak tangga menuju puncak Bukit Cinta Lembata sembari mengiringi para tamu berjalan ke atas. Tiba di puncak, para tamu undangan disambut

Tarian Tena Lagadoni Kolilerek dari Desa Tubukrajan, Kecamatan Atadei. Tarian ini berkisah tentang perahu suku Atawuwur yang lari dari Awololong. Selanjutnya, mereka diajak menari sole oha mengelilingi monumen pledang.

Salah satu penari, Wilfridus Bala Wuwur mengaku sangat berbangga dengan atraksi budaya yang ditampilkan itu. Wilfridus menyebutkan tarian festival sejenis memacu generasi muda Lembata kembali mencintai budayanya masing-masing. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved