Arswendo Atmowiloto, Sastrawan, Budayawan dan Wartawan Senior meninggal dunia, Patut Jadi Panutan
Arswendo Atmowiloto, Sastrawan, Budayawan dan Wartawan Senior meninggal dunia dan yang patut jadi panutan
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
PENGHARGAAN
Piala Vidya untuk sinetron Pemahat Borobudur (1987)
ASEAN Awards Culture Communication & Literary Works, Bangkok, Thailand (1987)
Piala Vidya Utama atas Cerita Sinetron Terbaik untuk sinetron Menghitung Hari (1995)
Piala Vidya untuk Vonis Kepagian (1996)
Tahun 1972 ia memenangkan Hadiah Zakse atas esainya "Buyung -Hok dalam Kreativitas Kompromi".
Dramanya, Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973.
Pada tahun 1975 dalam sayembara yang sama dia mendapatkan Hadiah Harapan atas drama Sang Pangeran.
Dramanya yang lain, Sang Pemahat, memperoleh Hadiah Harapan I Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-Anak DKJ 1976.
Selain itu, karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mendoblang (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987.
Tahun 1987 Arswendo memperoleh Hadiah Sastra Asean.
• Begini Kehidupan Hakim Sunarso dan Duta Baskara yang Diserang Pengacara TW di Ruang Sidang
• Pengacaranya Pukul Hakim Pakai Tali Ikat Pinggang, Tomy Winata TW Bicara dan Bereaksi Begini
SINETRON
1 Kakak 7 Ponakan (RCTI, 1996)
Keluarga Cemara (RCTI, 1996-2002)
Deru Debu (SCTV, 1994-1996)