VIDEO: Pengrajin di Sumba Timur Minta Pemerintah Buatkan Hak Paten Tenun Ikat
VIDEO: Pengrajin di Sumba Timur Minta Pemerintah Buatkan Hak Paten Tenun Ikat motif Sumba Timur.
Penulis: Frans Krowin | Editor: Frans Krowin
VIDEO: Pengrajin di Sumba Timur Minta Pemerintah Buatkan Hak Paten Tenun Ikat
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -- Para pengrajin tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur, meninginkan adanya hak paten bagi tenunan yang dihasilkan. Kalau sudah ada hak paten, maka tidak ada pihak yang seenaknya menjiplak motif kain tenun ikat tersebut dan motif-motif kain tenun ikat Sumba Timur bisa dipertahankan.
Salah seorang pengrajin Sumba Timur, Rambu Ana, menyampaikan itu, ketika ditemui POS-KUPANG.COM di Waingapu, Minggu (30/6/2019).
Kepada POS-KUPANG. COM dia meminta Pemda Sumba Timur agar lebih memperhatikan lagi motif-motif kain tenunan yang diwariskan secara turun-temurun itu dan segera dibuatan hak paten.
• VIDEO: Warga Nanga Baras Tangkap Komodo Pota yang Masuk Kampung di Manggarai Timur
• VIDEO: Buaya Besar Ini Dijerat Arjun, di Pantai Soliu, Kabupaten Kupang, NTT
• Video: Indahnya Sunset di Pantai Walakiri Bikin Anda Baper
Kata dia, sebagai pengrajin kain tenun ikat, ia sangat menginginkan untuk membuatkan hak paten, sehingga motif-motif yang dihasilkan, bisa dipertahankan oleh masyarakat setempat.
"Motif-motif kain tenun kami ini banyak yang ditiru di daerah lain. Jadi kami minta agar pemerintah segera membuatkan hak paten untuk motif tenun ikat Sumba Timur," ujar Rambu Ana.
Rambu Ana juga mengatakan, ada yang pertanyakan kenapa kain Sumba Timur harganya begitu mahal. Kain tenun ikat Sumba Timur mahal karena asli hasil tenun para pengrajin. Sedangkan dalam mengerjakan kain tenun ini juga membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan sampai setahun.
Sementara proses pembuatanya juga menggunakan perwarna alam dan dalam mengerjakan kain tenun juga secara manual, bukan menggunakan mesin. Sangat beda dengan kain tenun Jepara itu pakai print.
"Jadi kami sangat mengharapkan Pemda benar-benar memperhatikan dan setiap kali kami mau mengurus hak paten untuk kain tenun Sumba Timur lebih diperhatikan lagi untuk diurus, ini permintaan kami sebagai pengrajin,"kata Rambu Ana.
Ditanya bagaimana tanggapan terkait ada daerah lain yang menjiplak motif kain tenun ikat Sumba Timur, Menurut Rambu Ana setiap orang memiliki rejeki yang diatur oleh Tuhan. Namun, tergantung orangnya saja yang bisa melihat atau menilai.
Masih menurutnya, karena kain tenun ikat asli Sumba Timur itu sangat beda dan memiliki perbedaan dengan kain Jepara. Dan perbedaan itu dimana kain Jepara lebar, sedangkan kain Sumba Timur maksimal lebar 60-70 Cm.
• VIDEO: Sabu Raijua Dapat Opini WDP dari BPK NTT
• VIDEO: Anak-Anak Panti Asuhan Eugene Schmitz Lembata Bikin Kapolres dan Ibu Bhayangkari Terharu
• VIDEO: Head Operation TBBM Ende Kuatir Dipenggal Jika Stok Minyak Tanah Kosong
Selain itu, jika kain yang lebarnya 120 Cm, maka harus diperhatikan jahitan di tengah kain tenun itu, sebab kain Sumba Timur selalu ada jahitan di tengah berupa jahitan yang hanya menggunakan jelujur tangan saja.
"Jadi ini yang perlu diperhatikan dari pada keaslian kain tenun ikat Sumba Timur. Dan kain Sumba dia berat karena kain jiplakan pasti dia ringan dan tenunanya lebih halus karena pakai mesin. Tapi kalau tenunan Sumba itu tebal dan lebarnya hanya maksimal 60-70 Cm saja dan lebarnya kalau sampai 1 meter maka harus perhatikan jahitan untuk sambungan di tengah kain pakai jahitan tangan,"kata Rambu Ana.
Menurutnya, meski bagaimanapun mereka menjiplak atau meniruh tetap tidak akan sama dengan motif kain tenun ikat Sumba Timur.
"Bagaimana pun mereka meniru, mereka tidak akan bisa melawan kami punya tenunan asli Sumba Timur, tidak akan sama,"tegas Rambu Ana.