Opini Pos Kupang
Opini Pos Kupang : Dona Nobis Pacem (Refleksi Untuk Umat Kristiani NTT Menuju Pilpres)
Mungkin amat sulit dipisahkan. Dalam arti semakin orang beriman, semakin besar pula tanggunjawabnya terhadap keadilan dan kesejateraan sosial
Dona Nobis Pacem
( Refleksi Untuk Umat Kristiani NTT Menuju Pilpres )
Oleh : Gabriel Adur
Rohaniwan di Keuskupan Agung Muenchen-Freising, Jerman
IMAN dan politik. Keduanya memiliki pertautan erat.
Mungkin amat sulit dipisahkan. Dalam arti semakin orang beriman, semakin besar pula tanggunjawabnya terhadap keadilan dan kesejateraan sosial. Memperjuangkan kebaikan bersama (bonum commune)
Tanggung jawab menciptakan dunia yang adil dan sejahtera (option for the life and mankind). Termasuk dalam praksis iman: orang menjadi lebih sosial dan bukan asosial (pencipta kerusuhan, kekerasan dan teror atas nama agama).
Kultur -Politik
Kembali kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup Yesus, kita akan berhadapan dengan sebuah praxis iman yang nyata, ketika saya lapar, dan kamu memberi aku makan, ketika saya haus, dan kamu memberi aku minum.
Ketika saya sebagai orang asing dan tak punya rumah, kamu memberi aku penginapan. Ketika saya sakit dan kamu mengunjungi aku. Ketika saya di penjara kamu melawati aku", ( Mat 25, 35).
Iman akan Allah yang Adil, Maha Kasih dan Maha Baik mengandaikan adanya keberpihakan pada sesama. Keberpihakan pada budaya hidup.
Bermuara pada kebijaksanaan biblis di atas Mahatma Gandhi melihat politik tak lain sebagai hal yang bukan dijiwai oleh kekerasan.
Melainkan sebuah dimensi sosial yang melawan segala bentuk ketidakadilan dan kekerasan itu sendiri.
Di sini, kultur politik berarti sebuah budaya hidup menuju sebuah kemakmuran dan kebaikan bersama. Menolak semua bentuk kejahatan atas kemanusiaan (hotis humani generis/ enemies of all mankind) menjadi sebuah opsi.
Praksis iman dalam kehidupan sosial dan politik tidak saja bersifat moralis dan etis. Konkretisasi iman dalam setiap turbulensi sosial dan politik merupakan sebuah pengejawantaan pengalaman ada bersama Allah.
Iman akan Allah menjadi jalan menuju sebuah emansipasi diri per individu dan emansipasi sosial.
Mistagogi
Karl Rahner, theolog modern dan berpengaruh untuk abad ini, memahami kultur politik ini dalam sebuah bingkai mistik.