Opini Pos Kupang

Opini Pos Kupang : Dona Nobis Pacem (Refleksi Untuk Umat Kristiani NTT Menuju Pilpres)

Mungkin amat sulit dipisahkan. Dalam arti semakin orang beriman, semakin besar pula tanggunjawabnya terhadap keadilan dan kesejateraan sosial

Opini Pos Kupang : Dona Nobis Pacem (Refleksi Untuk Umat Kristiani NTT Menuju Pilpres)
Tribun Sumsel
Pekerja sedang melakukan pelipatan suara pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden 2014 di kantor KPU kota Palembang, Rabu (25/6/2014). Sebanyak 1.166.894 Surat suara dan 2 persen Surat suara cadangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden ditargetkan selesai paling lama tiga har 

Ketika kehadiran Tuhan tak diakui, maka kejahatan akan menjadi pembunuh keadilan dan kesejahteraan manusia.

Politik Membebaskan

Landasan utama dari budaya politik yang lahir dari sebuah kekuatan iman adalah definisi tentang manusia yang menjadi gambaran diri Allah (Imago Dei).

Di sini setiap individu memiliki hak yang sama seperti individu lain sebagai ciptaan Tuhan. Dengan martabat dan kebebasannya.

Memiliki hak yang sama untuk mendapat perlindungan dan jaminan dari negara.

Dengan demikian tak dapat dibenarkan adanya penindasan dari satu individu terhadap individu yang lain. Atau dari satu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Kekuasaan politik tidak dapat bisa mengontrol seorang individu hanya dengan kekuasan dan kekerasan.

Dalam dunia perekonomian, tehnik, kesehatan dan sosial, setiap individu tidak bisa menjadi obyek tetapi menjadi pelaku yang menciptakan emansipasi atas harkat dan martabatnya.

Ketika politik sebagai salah satu elemen penting kehidupan bernegara dan menjadi sarana menuju kesejahteraan umum, maka politik merupakan sebuah jalan untuk memahami rahasia Allah.

Namun, ketika politik menjadi alat untuk mencapai interese dan kepentingan pribadi, golongan dan alat untuk mencapai kekuasaan, maka politik itu telah menistakan misteri ke-Allahan dalam kehidupan sosial.

Perealisasian politik baik dalam bentuk rasional maupun emosional bukan merupakan sebuah konjungsi semata, tetapi merupakan sebuah realitas yang mengantar pada sebuah kemerdekaan sesungguhnya.

Menghargai Fitrah Manusia

Politik meski dirayakan dan dimaknai secara utuh sebagai pembebasan dari segala bentuk kolonialisme pemikiran yang mementingkan egoisme.

Spirit dasar membangun sebuah kehidupan sosial adalah memahami pluralitas yang mengarah pada sebuah terbentuk identitas bersama.

Dengan dasar ini politik mampu menciptakan bangsa yang bermartabat, berdaulat, kuat dan mampu berdiri atas kakinya sendiri.

Politik yang adil berarti sebuah pembebasan. Kebebasan anak-anak Allah dari segala bentuk pemasungan.

Atmosfer kebangsaan yang mengayomi hak-hak perorangan dan kelompok dan juga menjamin kebebasan agama dan perlindungan hukum, menjadi syarat yang mutlak.

Fitrah diri manusia yang adalah citra Allah yang terpanggil untuk membangun kebebasan dan juga membangun dunia secara humanis.

Maka perlu kondisi sosial untuk memungkinkan kebangkitan individu yang legitim.

Artinya, politik meski bisa mengarahkan setiap individu dalam masyarakat menuju kepenuhan hidup kebebasan dan kebahagiaan Ilahi dalam dirinya.

Di sini kekuasaan politik melegitim hak-hak asasi manusia yang merdeka itu sebagai penampakan misteri Allah.

Permohanan agar damai Tuhan dianugerahkan pada kita (dona nobis pacem), menjadi permohonan hidup agar kita juga menjadi pelaku-pelaku sekaligus perpanjangan hati Allah menciptkan damai dan kesejahteraan.(*)

Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved