Pasien DBD Bertambah, 5 Orang Masih Dirawat di RSUD Bajawa, Begini Penjelasan Maria Wea Betu

Pasien DBD Bertambah, 5 Orang Masih Dirawat di RSUD Bajawa, Begini Penjelasan Maria Wea Betu

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Gordi Donofan
Dirut RSUD Bajawa, drg. Maria Wea Betu 

POS-KUPANG.COM | BAJAWA -- Direktur Utama RSUD Bajawa, drg. Maria Wea Betu, mengatakan, jumlah pasien DBD yang masih dirawat intensif di Rumah Sakit sisa 5 orang.

Ia mengatakan sampai saat ini kondisi pasien DBD semakin bertambah karena memang saat ini DBD lagi wabah dan menjadi penyakit yang rentan pada bulan-bulan seperti ini.

Ia mengatakan rata-rata penyakit DBD menyerang anak-anak usia 1 hingga 17 tahun karena memang usia seperti itu rentan terkena DBD. Selain itu juga ada orang dewasa namun jumlahnya sangat sedikit.

Justin Bieber dan Hailey Baldwin Menikah, Ini Bocoran Lokasi dan Tanggal Resepsinya

"Setelah kita ketemu masuk 2 lagi sampai keadaan kemarin siang (Sabtu, 26/2019) belum ada penambahan, semoga tidak semakin bertambah. Yang masih dirawat saat ini 5 orang pasien," ujar drg. Maria, kepada POS- KUPANG.COM, Minggu (27/1/2019).

drg. Maria menyebutkan sejak awal Januari hingga Sabtu (26/1/2019) jumlah pasien DBD yang rawat di RSUD Bajawa ada 40 orang.

Pemuda Laskar Berdikari Buka Pasar Malam di Lapangan Berdikari Mbay Nagekeo, Ini Tujuannya

Dari jumlah itu hanya satu orang pasien yang meninggal dunia. Pasien itu berasal dari Puskesmas Surisina yang dirujuk ke RSUD Bajawa.

Ia mengatakan pasien DBD itu atas nama Philipus A.K. Wue (7) masuk Minggu (20/1/2019) dan meninggal Selasa (22/1/2019) sekitar pukul 18.15 Wita.

"40 kasus sampai siang kematin (bulan Januari 2019) meninggal 1 orang, tersisa dirawat sampai siang kemarin 5 orang," kata drg. Maria.

Ia mengatakan ketersediaan stok obat masih ada dan ada dokter anak di RSUD sehingga bisa menangani.

"Kami bersyukur ada satu orang dokter anak disini sangat membantu. Itu dokter anak dari progam Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS). WKDS ada tiga, dokter anak, dokter anastesi dan dokter kandungan. Itu kerjasama dengan Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Ia mengatakan terkait himbauan kepada masyarakat itu merupakan tupoksi Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada.

"Untuk menghimbau ke masyarakat lebih pada tupoksi dinas kesehatan," ujarnya.

Ia menjelaskan pihaknya sudah melaporkan kepada pihak Dinas Kesehatan terkait kasus tersebut.

Ia mengharapkan agar pihak Dinas Kesehatan bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat soal sanitasi lingkungan.

"Untuk data di atas sudah kami laporkan ke Dinkes. Dengan harapan ada imbauan dari Dinas kesehatan menyangkut sanitasi lingkungan untuk lebih diperhatikan untuk semua masyarakat Ngada dan sekitarnya," ungkapnya.

Informasi yang dihimpun POS- KUPANG.COM, Minggu (27/1/2019) menyebutkan di Kabupaten Ngada sejak Desember 2018 hingga Minggu (27/1/2019) sudah tiga orang pasien DBD meninggal dunia.

Yang pertama itu akhir Desember 2018, kedua itu 15 Januari 2019 dan yang terakhir meninggal Selasa (22/1/2019). (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved