Opini Pos Kupang
Teror Verbal dan Kesurupan Sosial
Semisal, nasionalisme mulai bangkrut oleh gerakan sektarian atau nilai Pancasila sedang mengalami penyusutan disedot
Oleh Marsel Robot
Dosen, Kepala Pusat Studi kebudayaan dan Pariwisata LP2M Undana
POS-KUPANG.COM - Sepanjang empat tahun terakhir ini, terutama dalam acara resmi kenegaraan, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dalam tiga stansa. Persis dinyanyikan pada orde 1920-an, tatkala Indonesia sedang berjuang merebut kemerdekaan.
Padahal, dekade itu, lagu Indonesia raya memang bentuk lain dari kepalan tangan yang diacung untuk membangunkan solidaritas kebangsaan melawan penjajah. Lantas, apakah keadaan sekarang ini mirip dengan keadaan pada orde 20-an itu?
Semisal, nasionalisme mulai bangkrut oleh gerakan sektarian atau nilai Pancasila sedang mengalami penyusutan disedot oleh massa yang masif meneror secara simbolik satu dengan yang lainnya seperti penghinaan, pemfitnaan, hoaks, ujaran kebencian begitu tega dan kejam nian.
• Wah! Member BTS Punya Replika Dalam Bentuk Boneka Imut, Ini Penampakannya
• Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang
• Wanita Ini Alami Kerusakan Otak Setelah Minum Kecap, Ini Fakta Sebenarnya!
Ibu Pertiwi bagai sedang dikepung cobaan sosial yang luar biasa. Sekelompok masyarakat mengalami kerasukan hingga kesurupan sosial. Bayangkan, begitu gampang menghina, mencaci-maki, memfitnah lawan politik, termasuk menghina presiden. Inilah teror simbolik (verbal) paling masif dengan menggunakan media sosial sebagai medan perang.
Dalam konteks ini pula, karyawan pada industri hoaks demikian khusuk dan suntuk memproduksi ujaran kebencian setiap saat. Pihak kepolisian bekerja ekstra membersihkan sampah-sampah batin ini. Palka pada kapal sampah pihak kepolisian terus menutup rapat tengik sampah batin itu agar bau apek tidak meliputi kampung, apalagi menjalar hingga istana.
Seperti masih menginap dalam ingatan kita tentang kasus Bahar bin Smith. Pendiri sekaligus Pemimpin Majelis Pembela Rasullah yang didirikan tahun 2007. Di tengah ribuan umat merayakan Maulud Nabi Muhammad SAW 17 November 2018 di daerah Batu Ceper Tangerang, Banten, Bahar menghina Presiden Joko Widodo yang mengatakan, Presiden Joko Widodo itu banci.
Masih banyak kalimat sebelumnya yang jauh lebih vulgar, lebih kejam dan merinding eksistensi kemanusiaan. Dan demi kesusilaan, kalimat-kalimat itu tidak dikutip lagi dalam artikel ini.
Beberapa minggu lalu, Bahar telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian atas kasus penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo. Ketika Bahar diwanti hendak dipanggil kepolisian, banyak pihak meragukan integritas kepolisian karena dua hal.
Pertama, Bahar bin Smith adalah tokoh sekaliber Rizieq Shihab. Bahar dikenal mempunyai kedekatan dengan Habib Rizieq Shihab, pentolan FPI itu. Bahar mempunyai ratusan ribu pengikut fanatis yang tergabung dalam Majelis Pembela Rasullah (MPR).
Aksi Bahar dan pengikutnya kerap menggaduhkan masyarakat dan merepotkan pihak kepolisian ketika ia menggerakkan ratusan ribu jemaah Majelis Pembela Rasullah melakukan razia di kafe de Most Pasanggrahan karena dituduh menghina agama Islam tahun 2012 di Jakarta Selatan. Aksi akbar terakhir yang menyedot perhatian masyarakat luas, saat Bahar bin Smith memimpin massa menuntut Ahok diadili.
Kedua, aksi Bahar melengket dengan konteks pilpres 2019. Aksinya mudah dihubung-hubungkan dengan masalah pemilihan presiden. Ia dipandang sebagai tokoh antagonis kubu Jokowi-Ma'ruf. Masyarakat berasumsi massa pengikut Bahar kian meluas.
Kelompok Bahar terus menyiram suasana horor untuk melakukan represi mental terhadap pihak kepolisian yang akan memeriksanya. Massa dijadikan Genderuwo untuk menakut-nakuti polisi. Namun, integritas kepolisian tak tergoyahkan oleh sikap objektif dan profesional. Bahar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penghinaan Presiden Joko Widodo. Objektivitas dan profesionalitas menjadi benteng beton yang melindungi integritas kepolisian.
Pesan dari Adegan Kesurupan Sosial
Pesan apa yang sedang diwartakan melalui peristiwa kesurupan sosial (dengan gembira sekelompok orang meneror orang lain dengan kata-kata menghina, memfitnah, mencaci-maki dan menuduh dengan cara yang amat kejam?)