Jumat, 12 Juni 2026

Dunia tak Selebar Daun Kelor

Sebagai tanaman unggulan yang digadang-gadang menjadi pemicu pertumbuhan pendapatan masyarakat NTT

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM/ADIANA AHMAD
Bibit Kelor di Dinas Pertanian Provinsi NTT. Gambar diambil Selasa (30/10/2018). 

Oleh Ir. R. Agung Eko Pitono, MT
Widyaiswara Madya Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Pepatah itu sering kita dengar, namun akhir-akhir ini dunia cenderung selebar daun kelor akibat diangkatnya kelor menjadi ikon pertumbuhan wilayah di NTT.

Sebagai tanaman unggulan yang digadang-gadang menjadi pemicu pertumbuhan pendapatan masyarakat NTT, kelor pantas mendapat perhatian. Banyak tulisan mengungkapkan keunggulan tanaman ini. Semuanya merujuk kepada satu hal, betapa bergunanya tanaman ini. Dari akar, batang, daun, bunga sampai bijinya pun dapat dimanfaatkan.

Dibalik harapan besar tersebut, terdapat beberapa pokok pikiran yang bisa dipertimbangkan dalam rangka pengembangan kelor di NTT. Pertama, pengembangan kelor agar mampu menjadi pemicu kesejahteraan masyarakat tentunya dimulai dari adanya sebuah perencanaan yang matang.

Penyakit yang Sering Kamu Alami, Capricorn Sakit persendian, Aries Sakit Kepala, Zodiak Lain?

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

Daebak! Kalahkan Zayn Malik dan Henry Carvill Superman, V BTS jadi Pria paling Menarik di Dunia!

Perencanaan pengembangan kelor di NTT merupakan sebuah disain yang sengaja dibuat sebagai arah mulai dari pelaksanaan sampai pada tindakan monitoring dan evaluasi.

Perencanaan pemerintah merupakan awal yang sangat diperlukan karena ide pengembangan kelor ini berasal dari pemerintah. Perencanaan pemerintah merupakan dokumen publik.

Sebagai kepemilikan publik maka seluruh stakeholder yang terlibat dapat mengaksesnya. Sayangnya sejauh ini disain pengembangan komoditas ini belum bisa diperoleh informasi secara mudah oleh masyarakat.

Kedua, pengembangan kelor di NTT pada hakikatnya adalah proses penciptaan kawasan sentra. Fokus sentra yang dimaksud adalah menyoal lokasi penanaman.

Lokasi yang digunakan bagi terwujudnya sentra kelor. Bisa berupa lokasi baru maupun lokasi lama di pekarangan. Bicara lokasi baru, maka dibutuhkan kombinasi sumber daya baik teknologi, modal, tenaga kerja, sarana dan prasarana penunjang yang rumit.

Bisa dikatakan rumit karena lokasi ini merupakan pengembangan wilayah baru, sebelumnya belum pernah dilakukan kegiatan penamanan kelor. Sedangkan pada lokasi dipekarangan maka lokasinya relatif bukan baru, tetapi di dalamnya sudah ada kombinasi tanaman. Kondisi tersebut pun juga memerlukan campur tangan yang tidak mudah agar kelor mampu memberikan hasil yang optimal.

Ketiga, pelibatan seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan pembangunan wilayah yang berbasis kelor. Dengan demikian maka kelor diharapkan mampu menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi wilayah.

Diletakkannya kelor sebagai fokus pertumbuhan, maka membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan baik secara individu maupun kelembagaan. Sebagai individu, petani merupakan tokoh sentra pengembangan yang seharusnya mendapat tempat utama.

Dukungan kepada kebutuhan petani, bisa diarahkan sebagai individu maupun keberadaaannya di dalam sebuah lembaga sebagai wadah organisasi, tempat dia dibina.

Oleh karena itu, perhatian kepada keorganisasian petani yang mewadahi usaha tani kelor perlu juga mendapat bagian yang penting dalam perencanaan sehingga menghasilkan manfaat yang optimal sesuai kebutuhan petani.

Keempat, kelor akan memberikan manfaat ekonomi jika mampu dihasilkan nilai tambah atas produk tersebut. Pemberian nilai tambah merupakan kontribusi besar dari unsur dunia usaha. Di sinilah letak pentingnya dunia usaha.

Dunia usaha yang tidak saja menghasilkan keuntungan semata, tetapi juga mampu memberikan nilai harkat yang lebih baik kepada kehidupan petani. Memang ini bukan sesuatu yang mudah.

Mengkombinasikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat sosial tidak bisa dilakukan sendiri oleh dunia usaha, tetapi harus dibina dan difasilitasi oleh pemerintah. Fasilitasi ini merupakan langkah pemberian kompensasi atas fungsi sosial usaha tani, yang kadang merupakan beban investasi yang mahal bagi dunia usaha.

Solusi Pengembangan Kelor di NTT

Pertama, perencanaan pengembangan komoditas haruslah dibuat secara terintegrasi mulai dari perencanaan yang paling makro sampai kepada tataran mikro. Tataran makro perencanaan itu meliputi unsur yang luas cakupannya seperti wilayah provinsi, kabupaten atau kawasan tertentu.

Demikian pula perencanaan yang bersifat mikro, sampai usaha tani di tingkat petani maupun usaha tani yang bersifat perkebunan, jika hal itu dilakukan oleh dunia usaha yang tertarik mengembangkan kelor.

Pada bagian ini kita bicara pada persoalan perencanaan, dan ruang perencanaan terbesarnya adalah prakarsa pemerintah, maka pemerintah wajib menginisiasi perencanaan agar terjadi sinkronisasi terhadap seluruh aspek mulai dari perencanaan, pelaksananaan, montoring dan evaluasi.

Pemerintah harus menyediakan ruang perencanaan yang seluas-luasnya bagi publik yang ingin terlibat dalam pengembangan budidaya kelor. Perencanaan itu pada akhirnya merupakan kumpulan aktivitas mulai penyiapan lahan, penyediaan bibit dan komponen investasi lainnya secara murah dan mudah, juga perencanaan skema pendampingan yang sesuai kebutuhan dan koordinasi kegiatan sampai langkah pembinaan dan monitoring dan evaluasinya.

Kedua, pengembangan sentra merupakan indikator utama atas keberhasilan penciptaan nilai tambah setiap usaha agribisnis. Kita jangan bicara agro industri dan agri bisnis jika sentra pun kita tidak punya.

Kita bisa bernostagia dengan berbagai harapan sebelumnya tentang wilayah jagung, sapi sampai komoditas unggulan lainnya tetapi tidak satu pun yang dapat kita tonton sebagai sebuah sentra produksi. Sentra produksi menuntut kita tidak saja bicara kuantitas tetapi juga kualitas serta produktivitas.

Pada hakikatnya, menghasilkan sentra membutuhkan keberanian kita untuk mengekspansi wilayah baru dari wilayah yang sebelumnya, belum diusahakan dan selanjutnya wilayah tersebut kita kerjakan.

Keberanian itu sebenarnya merupakan modal utama karena dari sisi kewenangan dan dukungan lainnya, sudah kita miliki, terutamanya sejak diberlakukannya otonomi daerah.

Masalah utamanya di sini karena kita belum memiliki keberanian menggandeng dunia usaha untuk menciptakan sentra produksi yang benar-benar riil dan dapat dilihat unjuk kinerjanya. Kita harus berani, sebelum wilayah lain lebih dahulu melakukannya. Dan, kita kehilangan momentum sebagai wilayah terbesar penghasil kelor di Indonesia bahkan dunia.

Ketiga, pengelolaan partisipasi yang menguntungkan semua pihak merupakan sebuah modal sosial yang penting dalam pembangunan. Pengembangan kelor tidak bisa meninggalkan petani yang sebenarnya merupakan target utama pembangunan. Jika petani berjalan sendiri pastilah kalah dalam persaingan.

Menghidupkan perilaku berkelompok sebagai sebuah lembaga masih membutuhkan rekayasa sosial yang lama. Oleh karena itu, peran lembaga perantara seperti Bumdes, Koperasi dan Kelompok Tani merupakan sentra pendukung petani dalam beroperasi tani.

Melalui kelompok maka posisi tawar petani terhadap harga maupun kekuatan lainnya menjadi makin baik. Oleh karena itu apapun perencanaan pemerintah, haruslah menjadikan petani sebagai sentral, sebelum mengembangkan komoditasnya. Dengan demikian maka pembinaan petani bukanlah sebuah usaha bersifat tambahan tetapi sudah harus dipikirkan sebagai sebuah inti keberhasilan pengembangan kelor di Provinsi NTT.

Keempat, bicara pasar dalam sebuah mata rantai proses pengembangan kelor merupakan pemungkas keberhasilan. Pasar jelas terbuka lebar.

Sampai saat ini tidak ada satupun wilayah provinsi di Indonesia yang berani dan benar-benar menyatakan secara terbuka untuk mengembangan kelor di wilayahnya kecuali hanya satu yaitu NTT.

Inilah saatnya kita meletakkan NTT di pusaran kecerdasan dalam penentuan target pemicu pertumbuhannya. Jadi tantangan pengembangan kelor ini merupakan gengsi bersama yang wajib disukseskan.

Untuk itu, peran dunia usaha mutlak digandeng demi keberhasilannya melalui berbagai cara keterlibatannya, mulai penyediaan lahan, sarana dan prasarana pendukung produksi serta dukungan lain yang diperlukan bagi kelancaran usahanya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa bersama kita dalam mewujudkan cita-cita yang mulia ini. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved