Opini Pos Kupang

Dalam Keremangan Aku Ingin Memelukmu, Aku Kalah

Dan berpotensi menjadi aktor, sekaligus orator untuk menggoda audiens melalui kata-kata, ekspresi, suara

Dalam Keremangan Aku Ingin Memelukmu, Aku Kalah
ilustrasi

"Boleh saya tanya Pak". "Boleh". Kata saya. Biasalah, mulai dengan basa-basi. "Saya sangat berterima kasih atas kehadiran Bapak." Anak muda itu melanjutkan. "Begini Pak, saya sudah dua kali dicalonkan, dan ini yang ketiga kalinya. Saya butuh jawaban yang solutif dari Bapak, mana lebih efektif, kampanye hitam atau kampanye putih agar kita menang?"

Pertanyaan itu bagai menggunting jantung. Sungguh sebuah pertanyaan aktor lapangan yang berpengalaman gagal. Terasa keseluruhan materi diskusi susut pada pilihan jawaban yang ekstrim ini. Pertanyaan itu pula yang menafikan sejumlah eksplanasi dan teori tentang kampanye. Kali ini ia membutuhkan kemenangan.

Pertanyaan pendek itu yang mengikhtiarkan, misalnya bagaimana pendekatan sopi, kopi, dan doi dalam kampanye. Pertanyaan itu membukakan laci tentang strategi kampanye dari pintu ke pintu, serangan fajar yang menyenangkan, atau bisikan tengah malam yang menjanjikan.

Berusaha mengecoh anak muda itu dengan balik bertanya kepadanya. "Selama ini Anda melakukan kampanye hitam atau kampanye putih?" Ia juga mengacaukan pikiran saya.

"Saya pakai dua-duanya, hitam dan putih tergantung keadaan dan di mana saya melakukan itu". Saya menyerangnya kembali. "kalau dihitung-hitung, mana yang lebih banyak Anda gunakan, kampanye hitam atau kampanye putih?"

"Ah, saya tidak menghitung itu. Seperti menghitung tembakau di pasar rakyat" Imbuh pemuda dengan suara gemuruh. "Dalam hitungan saya, Anda lebih banyak menggunakan kampanye hitam, menjelekkan tokoh lain, bahkan cenderung menghina atau memfitnah." Kata saya mencoba menggusur gumpalan pikiran anak muda itu. Dia sontak, "dari mana Bapak tahu bahwa saya terlalu banyak melakukan kampanye hitam?"

"Ya karena Anda kalah. Orang yang melakukan kampanye hitam pasti kalah." Kata saya. Pemuda itu tampak berang dengan jawaban itu. Ia terus melihat sekeliling, mengamati orang di ruang itu seraya berkata, "Pak Tahu kan? Ahok justru kalah karena pihak lawan menggunakan kampanye hitam. Pandangan Bapak sangat keliru." Tegas anak muda itu. "Bukankah Ahok menggunakan kampanye hitam juga?"

Sekarang, mana yang Anda pilih, sekerat roti berisi perdamaian atau segudang daging berisi kebencian?" "Saya tidak memilih dua-duanya Pak. Jawaban pemuda ini seakan membongkar karang dialektika bahwa berpolitik bukanlah sekerat roti berisi perdamaian, tetapi sangat boleh jadi segudang daging berisi kebencian.

Dengan demikian, antagonistik sosial seakan diperlukan agar terjadi pencerahan sosial.

Senja turun di tengah hutan, angin tipis menggelinding waktu, saya diminta menghela beberapa pernyataan kunci hasil perjumpaan yang amat dialektis itu. Karena otoritas itulah, maka saya mengatakan bahwa kampanye hitam banyak ruginya.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved