Perempuan Dianggap Paling Efektif Sebagai Pelaku Bom Bunuh Diri, Begini Peran Penting Mereka

Perempuan dianggap paling efektif sebagai pelaku bom bunuh diri, begini peran perempuan.

(ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Personel Brimob bersiaga saat dilakukannya penggeledahan oleh Tim Densus 88 di kediaman terduga pelaku bom bunuh diri Polrestabes Surabaya, di Tambak Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5/2018). 

Karen Hamidon melakukan rekrutmen lewat media sosial. Dia melakukanya untuk rekrutmen global.

Sosok perekrut top untuk ISIS yang juga menarik adalah Sally Jones, mantan penyanyi band Punk dari Inggris. 

Saking dianggap berbahaya, Sally, yang dijuluki “White Widow”,  dipercayai sebagai perempuan pertama yang secara khusus menjadi target serangan udara AS. 

Sally tewas bersama putranya yang berusia 12 tahun, sekitar Oktober 2017.

Sally pindah ke agama Islam setelah menikah dengan Junaid Hussain, warga Inggris juga. Tahun 2013 mereka pergi ke Suriah. 

Baca: Anak Perempuan Ini Lakukan Bom Bunuh Diri Sebab Diajarin Doktrin Kek Gini oleh Ayahnya

Baca: Mantan Teroris, Walikota Surabaya Hingga Kapolri Ungkap Rahasia Bom Bunuh Diri

Junaid tewas bersama putra sulung mereka yang baru berusia 13 tahun, akibat serangan drone AS, tahun 2015. 

Suami istri ini melatih kedua putranya sebagai petarung bagi ISIS.

Teroris, baik saat melakukan aksinya secara sendirian, maupun atas penugasan organisasi, membutuhkan perhatian media. 

Efektifitas perempuan pengebom bunuh diri termasuk dalam urusan propaganda dan perhatian media. 

Mia Bloom mengatakan bahwa pemberitaan media terhadap teroris perempuan 8 kali lipat lebih banyak dibanding jika teroris laki-laki.

Pada saat menjadi operatif, di lapangan, pakaian perempuan dianggap bisa digunakan menyembunyikan senjata.

Termasuk bom di pinggang atau tas di bahu, bahkan ransel. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved