Pelaku Bom Surabaya Tak Mati Syahid di Jalan Allah, Tapi di Jalan ini. Begini Penjelasan Dalam Islam
Aksi bom bunuh diri ini menelan korban tidak sedikit. Belasan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
POS-KUPANG.COM – Sejak Minggu (13/5/2018) hingga Senin (14/5/2018) Indonesia dan dunia dihebohkan dengan adanya aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dan juga di Mapolrestabes Surabaya
Aksi bom bunuh diri ini menelan korban tidak sedikit. Belasan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Dari penelurusan pihak kepolisian, para pelaku ini masuk dalam jaringan teroris. Mereka melakukannya sesuai seruan pemimpinnya untuk berjihad, agar bisa mati syahid di jalan ALLAH.
Faktanya, aksi bom bunuh diri mereka berhasil. Hanya saja, lokasi bom bunuh diri mereka terletak di tiga jalan berbeda.
Baca: Bom Bunuh Diri Itu Tindakan Sangat Keji
Baca: Murid TK Beraksi di Acara Storytelling yang Digelar Dinas Kebudayaan NTT. Ini Atraksinya
Baca: Pria 64 Tahun Ini Membunuh Wanita yang Diduga PSK di Kamar Kos
Lokasi pertama adalah di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela yang terletak di Jalan Ngagel Madya no 1. Surabaya.
Lokasi kedua adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, Surabaya.
Pelaku serangan di gereja itu adalah seorang ibu, Puji Kuswati, bersama dua anaknya, Fadilah Sari (12) dan Pemela Riskika (9).
Lokasi ketiga adalah Gereja Pentekosta Pusat Surabata (GPPS) yang terletak di Jalan Arjuno.

Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan bahwa para pelaku ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (13/5/2018), terkait dengan kelompok pendukung utama ISIS (Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham).
"Kelompok ini tidak lepas dari kelompok bernama JAD-JAT, Jamaah Anshar Daulah-Jamaah Ansharut Tauhid yang merupakan pendukung utama ISIS," kata Tito di Surabaya, Ahad, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
Baca: BREAKING NEWS: Dicurigai Bom, Sebuah Kardus Besar Ditemukan di Depan Stasiun Palmerah Jakarta
Baca: Yuk Simak! Deretan Foto RAT KSU Melati Propinsi NTT
Tito menuturkan, JAD di Indonesia didirikan oleh Aman Abdurrahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kota Depok, Jawa Barat.
Pelaku pengeboman yang merupakan satu keluarga ini, lanjut Tito, terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya.
Dita, sang kepala keluarga, bahkan tercatat sebagai ketua dari kelompok tersebut.
"Kemudian aksi ini kita duga motifnya, pertama adalah di tingkat internasional ISIS ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan baik dari barat, Amerika dan lain-lain jadi dalam keadaan terpojok, memerintahkan semua jaringannya di luar termasuk yang sudah kembali ke Indonesia untuk melakukan serangan termasuk di London, juga ada peristiwa, terorisme dengan menggunakan pisau di sana," katanya.

Tito menambahkan, di Indonesia, ada dua macam kelompok terkait ISIS yang menjadi ancaman, yakni JAT dan JAD yang sel-selnya ada di beberapa tempat, serta mereka yang kembali berangkat ke Suriah dan kembali ke Indonesia atau tertangkap di otoritas di Turki atau Yordania dan kembali ke Indonesia.
Baca: Ini Jadwal Pertandingan Persija Jakarta vs Home United di RCTI Malam Ini