Jumat, 29 Mei 2026

Fatu Nausus dan Women's Day, Simak Kisah Wanita Hebat dari NTT Ini

Sebuah ungkapan rasa hormat (tabik) kepada seorang perempuan yang tinggal di kaki Gunung Mutis di Pulau Timor, Kabupaten

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
Pos Kupang/Oby Lewanmeru
Aleta Baun 

Mereka sempat melakukan pembelahan puncak gunung Fatu Nausus sehingga bongkahannya jatuh terjerembab mencium bumi TTS. Peristiwa ini sungguh melukai hati dan batin warga Mollo termasuk tanah dan alam lingkungan mereka yang bisu, semena-mena direnggut kaum korporasi.

Perlawanan mereka berpijak pada filosofi dasar kehidupan masyarakat adat yang alami bahwa mereka tidak boleh terpisah dan menyimpang dari wasiat para leluhur (adat), alam dan lingkungan. Pandangan ini dikenal dengan empat prinsip cara berpikir dan pola hidup warga Mollo:

oel nam nes on na (air adalah darah)
nasi nam nes on nak nafu (hutan adalah rambut)
naijan nam nes on sisi (tanah adalah daging)
fatu nam nes on nuif (batu adalah tulang)

(Sumber: http://www.konde.co/2017/02/mollo-keteguhan-hati-perempuan.html)
Bagi orang Mollo, air, hutan, tanah dan batu adalah bagian dari identitas mereka.

Kesatuan unsur filosofis ini diformulasikan kembali oleh penyair GN Bibang dengan "air mata" dan "isi tanah" (baris 3 dan 4). Unsur-unsur tubuh manusia (darah, rambut, daging, tulang) dianalogikan dengan unsur alam yaitu air, hutan, tanah, dan batu yang saling melekat satu sama lain.

Tokoh feminis ( perempuan setengah uzur) dalam puisi " Di bawah bayang-bayang Fatu Nausus" tak lain adalah Aleta Baun. Biasa disapa Mama Aleta. Kelahiran Lelobatan, Mollo Utara, TTS 16 April 1963.

Perjuangan beliau yang gigih mempertahankan lingkungan, alam dan masyarakat adat Mollo,TTS, membuat lembaga internasional yang melahirkan Goldman Environtmental Prize menjatuhkan pilihan pada sosok Mama Aleta untuk Indonesia sebagai salah satu nominasi peraih penghargaan tersebut.

Karena itu bersama lima tokoh lainnya dari seluruh dunia yaitu Jonathan Deal (Afsel), Kimberly Wasserman (AS), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), Nohra Padilla (Kolombia) menerima tanda penghargaan Goldman Environtmental Prize 2013 di San Fransisco, Amerika Serikat pada tanggal 15 April 2013.

Mereka disebut sebagai pahlawan lingkungan hidup berskala internasional. Tak cuma itu yang diterima Mama Aleta. Ia juga menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2016 dari sebuah lembaga nasional perlindungan hak-hak asasi manusia. Lembaga ini menilai Mama Aleta adalah salah satu pejuang untuk tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia dan tokoh pejuang masyarakat adat.

Di tahun 2017, penghargaan Goldman Environtmental Prize diterima Wendy Bowman, seorang perempuan petani Australia yang sudah berumur 83 tahun. Kawasan the Hunter Valley di New South Wales, Australia, selama tiga dekade dijadikan lahan usaha tambang batubara.

Atas perjuangan Wendy bersama komunitasnya di area pertanian milik mereka, perambahan areal pertambangan tersebut berhasil dibendung untuk melindungi hak atas area pertanian yang mereka miliki dan sumber air, sebagaimana diungkapkan The Guardian Weekly.

Organissasi Goldman Environtmental Prize pun menilai Wendy Bowman sebagai aktivis petani yang sudah berusia tua (83). Meski area pertanian mereka dikelilingi oleh aktivitas pertambangan, Wendy bersama kelompoknya tidak surut dan membiarkan lingkungan mereka diambil alih para pengembang (https://www,the guardian/com/).

Setiap tanggal 8 Maret, dunia selalu mempersembahkan secara khusus hari untuk kaum perempuan sedunia, International Women's Day (IWD). TTS dan perempuan asal Mollo, TTS, telah mengukir sebuah prestasi berkaitan dengan spirit IWD di level internasional.

Mama Aleta telah mengambil peran dalam gerakan aktivis perempuan. Seorang pejuang sosial masyarakat, lingkungan, politikus (anggota DPRD NTT).

"Time is Now: Rural and urban activists transforming women's lives" . Itulah tema IWD 2018 (http://www.unwomen.org/en/news/stories/2018/1/announcer-iwd-2018-themeJan26,2 018 ...).

Waktunya sekarang bagi aktivis-aktivis perempuan untuk melakukan transformasi! Termasuk perempuan NTT. Bukan hanya Mama Aleta yang ada di NTT.

Perempuan-perempuan lain di provinsi kita ini sudah mengangkat harkat dan martabat kaum hawa di bidang sosial, birokrasi, politik, hukum, pendidikan, dan sebagainya. Happy International Women's Day!*

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved