Jumat, 29 Mei 2026

Fatu Nausus dan Women's Day, Simak Kisah Wanita Hebat dari NTT Ini

Sebuah ungkapan rasa hormat (tabik) kepada seorang perempuan yang tinggal di kaki Gunung Mutis di Pulau Timor, Kabupaten

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
Pos Kupang/Oby Lewanmeru
Aleta Baun 

Oleh: Drs. Willem B Berybe
Mantan guru, tinggal di Kolhua Kupang

di lereng fatu nausus
perempuan setengah uzur itu duduk
air matanya mengguyur dagu
meratapi isi tanahnya yang sudah habis
dirampas oleh para korporasi

POS KUPANG.COM -- Penggalan puisi di atas (bait pertama) dikutip dari puisi berjudul "Di bawah Bayang-Bayang Fatu Nausus", karya Gerad N Bibang (sumber: Dokumen grup Ikatan Keluarga NTT-USA, Jakarta).

Sebuah ungkapan rasa hormat (tabik) kepada seorang perempuan yang tinggal di kaki Gunung Mutis di Pulau Timor, Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan), Provinsi Nusa Tenggara Timur, atas dedikasinya di bidang lingkungan hidup dan masyarakat adat.

Demikian penulis puisi ingin berbagi rasa kekaguman sekaligus keprihatinan.
Fatu Nausus. Gunung Fatu Nausus. Apa dan di mana?

Tidak semua masyarakat NTT mengenalnya. Kecuali warga TTS dan daratan Timor umumnya. Mereka tidak merasa asing tentang nama Fatu Nausus yang sekitar tahun 2011 lalu menjadi sangat populer akibat sebuah "revolusi" anti tambang yang dilancarkan oleh masyarakat lokal.

Di dalam perut bumi gunung batu Fatu Nausus yang terletak di kawasan Mollo, TTS, Provinsi Nusa Tenggara Timur, itulah tersimpan berton-ton bahan baku marmer yang telanjur ditemukan pebisnis batu-batu berharga untuk kebutuhan industri.

Perusahaan-perusahaan tambang terkenal dari luar NTT begitu bernafsu datang menjarah harta kekayaan penduduk TTS (NTT) karena SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah dianugerahkan Tuhan bagi penduduk setempat.

Kata "duduk" pada baris kedua puisi di atas menunjukkan makna pars pro toto dari sebuah fenemena sosial kemasyarakatan yang signifikan.

Sebuah simbol gerakan kemanusiaan masyarakat adat Mollo, TTS, yang tergabung dari tiga kelompok suku yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo dan dipimpin seorang perempuan (ibu, mama) paruh uzur.

Mereka berontak, menolak tambang demi penyelamatan alam dan lingkungan hidup mereka. Mereka berkumpul, berhimpun, duduk bersimpuh di kaki gunung Fatu Nausus sambil melakukan ritual adat kepada leluhur.

Mereka rela tidur di alam terbuka menjaga gunung "suci" warga Mollo agar siapa pun tidak boleh lagi merapat dan mau membelah gundukan bukit (gunung) yang menjadi incaran para pengembang dan pengusaha.

Geografi TTS memiliki karakteristik terestrial berbasis gunung batu cadas (karst) dengan kandungan bahan calcium oxcide (CaO). Menurut penelitian, bahan baku limestone ini memiliki kadar unsur marmer berkualitas terbaik kedua di dunia.

Tidak heran diburu para investor demi kepentingan perusahaan dalam bidang sumber bahan baku industri. Gunung batu cadas dimaksud adalah Fatu Nausus.

Selain itu juga ada Fatu Anjaf, Fatu Taapan dan Fatumnasi. Semuanya terletak di kawasan TTS. Sayang. Kecerdikan para investor untuk "mencuri" hasil tambang NTT itu lolos.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved