Sang Penyair Telah Mengalir, Mengenang John Dami Mukese
Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian.
Oleh: Pius Rengka
Pengamat Sosial Budaya, tinggal di Kupang
POS KUPANG.COM - Tak kuingat hari persis. Tahun pun kulupa. Tetapi, hari itu telah petang. Majalah Horison tiba di kostku di Wisma Antarnusa, Klebengan, Yogyakarta. Saya mahasiswa pelanggan setia majalah sastra itu. Saya membaca halaman demi halaman. Sebelum malam datang melarut, puisi pun dibaca.
Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian. Saya mencermati. Yang dirasakan, semacam sebuah kepergian, keindahan, drama, tetapi ceria dalam derita. Derita para petani Flores, derita para orang tepi yang senantiasa dahaga pada surga perhatian.
Membaca Doa-doa Semesta pun, seperti saya sedang berada di tengah jebakan sebuah malam nan kelam, tetapi indah nian. Bahkan gelapku serupa godaan, tetapi tak berawal. Cahaya keindahan pergi nun jauh ke kedalaman, dan kedalaman itu tampak seperti tak berakhir jua. Malam kian kelam, tetapi indah.
Baca: Tak Banyak yang Tahu, Inilah Nama Asli Sang Penyair Pater John Dami Mukese, SVD
Doa-doa Semesta telah sanggup menghempaskan saya ke dalam alam sastra. Sejak itu, membaca puisi dan belajar menulis puisi semacam sebuah kegairahan yang tak berkesudahan dan tak terpuaskan. Hingga satu waktu, saya menulis dan membaca puisi di sebuah pentas bersama Ragil Suwarno Pragulapati. Dia sedikit memuji sekaligus mengejek. Tapi tak apalah.
Sejak itu pula saya menulis dan membaca puisi di keramaian manusia NTT di tiap akhir tahun di Marga Siswa PMKRI, St. Thomas Aquinas, Jl. Dr. Wahidin, Yogyakarta. Bahkan saya membaca puisi di depan patung Bunda Maria di Sendang Sono, Sendang Sri Ningsih, Jawa Tengah. Pada waktu itu kesan orang atas saya, katanya, saya nyaris mendekati penyair sungguhan.
Artinya apa? Puisi John Dami Mukese telah menjadi alat pengubah gaya hidup. Sangat berdaya. Akibat yang paling sahih, saya rajin mendengar baca puisi di mana saja di Yogyakarta. Rajin membeli buku-buku sastra, terlebih membaca aneka jenis puisi. Ilmu hukum nyaris tidak sering dibaca karena teramat kering dan keras.
Baca: Bung Karno di Mata Chairil Anwar dan John Dami Mukese
Puisi Doa-doa Semesta segera diedarkan kepada para sahabat. Dengan bangga saya mewartakan siapa dan apa penulisnya dan dari mana kampung udik dia berasal dan di sekolah bergengsi mana dia mengajar. Ledalero, kemudian jadi sahabat di telinga para orang Jawa tetangga kost saya. Banyak penulis hebat lahir dari sekolah ini.
Para sahabat di kost itu umumnya mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) dari kalangan dan latar belakang studi berbeda. Majalah Horison khusus edisi kali itu, entah seminggu beredar dari satu kamar ke kamar kost lain membaca dan menikmati indahnya puisi John Dami Mukese.
Sejak itu pulalah, saya ingin sekali mengenal lebih dekat penulis puisi ini. Pada kelompok studi Reboan (kelompok diskusi hari Rabu kalangan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas), saya berceritera yang sama, Doa-doa Semesta. Dan, majalah Horison laku keras.
Singkat kisah, saya berhasil berkenalan dengan John Dami Mukese. Bahkan dia pernah singgah di rumah burukku di Kupang, di Perumnas Pasir Panjang. Lebih jauh dari itu, John Dami Mukese pun mengajak saya menulis untuk Mingguan DIAN. Saya menjadi penulis tetap dan mengendalikan Biro Kupang untuk waktu satu tahun.
Kini penyair kelahiran kampung itu, telah pergi. Tetapi perpisahan dengan saya bukanlah abadi, tetapi hanya sejenak. Saya merasa kehilangan, tetapi juga saya hakul yakin dia berjumpa dengan Sang Maha Pengada, raja dari para raja penyair. Perpisahan bukanlah sebuah kehilangan, tetapi sebuah perjumpaan yang membebaskan dan mencerahkan.
Tulisan John Dami Mukese menyebar di berbagai bentuk. Tajuk-tajuk DIAN, Flores Pos, meski tak mencantumkan nama penulis, tetapi segera terasa itu tulisan John Dami Mukese.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/john-dami-mukese_20171027_221649.jpg)