Sang Penyair Telah Mengalir, Mengenang John Dami Mukese

Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian.

Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
P John Dami Mukese, SVD 

Puisi-puisinya, terutama tentang para orang dekil, orang sederhana, petani dan orang-orang terbuang. Bahkan terasa amat sangat kuat, puisi-puisinya terkait refleksinya tentang para orang suci. Tentang Maria, bunda Yesus, dan juga petani ladang yang bekebun derita.

Puisi-puisinya pernah dibacanya sendiri di Ruteng dan di banyak tempat lain. Buku kumpulan puisinya pun sudah beredar luas. Penulisnya tetap tinggal di tempat tetapi perjalanan puisinya pergi ke mana-mana dan di mana-mana pun namanya kerap disebut.

John Dami Mukese, adalah penyair entah untuk apa. Tetapi yang kuketahui dia menuangkan deritanya melalui derita banyak orang yang ditemuinya, yang dijumpainya dalam imajinasinya. Tetapi juga realistis.

Puisi-puisi John dami Mukese adalah serial teriakan, protes halus, sekaligus kritik atas realitas sosial yang ditemuinya setiap saat dia berjumpa dengan kedalaman kelam malam para penderita.

Puisi-puisi John Dami Mukese adalah nyanyian para petani, nyanyian alam dan semesta yang tidak dijumpai tepinya. Bagi saya, John Dami Mukese adalah nyanyian duka dan seketul jenaka para penjumpa derita yang menaruh banyak harapan pada penguasa untuk segera berubah sikap atas kelakuan mereka yang tak merayakan dahaga bersama.

Puisi John Dami Mukese adalah juga doa para pengembara yang berkelana dalam gurun kehidupan. John Dami Mukese adalah jembatan para petani, jembatan ritmis yang di atasnya ada nada lagu duka dan jenaka. Tetapi dalam arus gelombang waktu dia bersahabat dengan alam, akrab dengan derita, tetapi tidak anti pada keriaan hidup yang terus mengalir ke laut duka.

Kini, John Dami Mukese, telah pergi. Dia mengalir sampai jauh entah di mana. John Dami Mukese adalah pastor yang menyanyikan kesucian tanpa sedikit pun menari dalam sarung kemunafikan hidup.

Pastor kampung yang pergi ke Filipina merajut ilmu untuk kembali berpuisi. Datang ke Ende untuk menuntaskan hidupnya sendiri. Dia lilin yang menyala bercahaya menerangi udik Flores, sambil menghabiskan dirinya sendiri.

Sekarang, John Dami Mukese, mengalir terus dengan renyah puisinya. Dia pergi ke tempat tak seorang jua pun dapat memanggilnya pulang. Selamat jalan penyairku, salam dari sebuah tepi entah sebuah pagi.

Pergilah terus menjumpai Dia, sumber segala kata, Sang Penyair asali yang kepadaNya kita bersimpuh. Tak sedetak nafasNya tak pantas kusebut di tengah jebakan dan pelukan semua galaksi.

Ini sebuah puisi buruk untukmu:

Karena engkau belum menjamah masa depan,
engkau menari pada pundak pengalaman hari ini;
Tetapi hari esok menarik sukmamu sunyi,
hari esok memeluk perih sukmamu di relung senyap,
dan dikau entah lalai pada kebajikan hari ini;
Kemarin dan hari ini, dikau lalui dengan suka akan pesona sunyi hari nanti.
Salam.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved