Jumat, 17 April 2026

Merindukan Pemimpin yang Ugahari, Mungkinkah Terwujud di NTT?

Dalam buku ini, sophrosune dipahami sebagai sebuah syarat mutlak dalam pendidikan politik dan berpolitik.

Editor: Dion DB Putra

Politik Keugaharian
Nelson Mandela telah menjadi ikon bukan hanya bagi rakyat Afrika Selatan, tetapi juga untuk semua rakyat yang merindukan figur seorang pemimpin yang berpihak pada rakyat. Ia telah mendapat tempat di hati rakyat Afrika Selatan.

Sepanjang pemerintahannya ia tunduk pada kepentingan rakyat dengan menjunjung tinggi semangat demokrasi yang menjadikan rakyat sejahtera. Demikianpun Presiden Bolivia Evo Morales yang memahami politik sebagai ilmu melayani rakyat bukan hidup dari rakyat.

Di tanah air kita Indonesia, Bung Hatta telah menjadi inspirasi bagi para politisi yang mau berpihak pada rakyat bukan pada diri, kelompok atau golongan tertentu saja. Komitmennya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang mengutamakan rakyat menjadikannya sebagai pemimpin dan pahlawan besar dalam sejarah Indonesia.

Ia mundur dari wakil presiden ketika ia merasa bahwa posisi itu ternyata tidak membuatnya mampu menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Bung Hatta telah mewariskan keugaharian politik untuk membangun suatu bangsa.

Baik Nelson Mandela, Evo Morales maupun Bung Hatta adalah figur pemimpin yang tahu diri, pemimpin yang ugahari. Mereka tahu bahwa posisi yang dimiliki bukanlah sebuah kesempatan untuk menggapai cita-cita dan ambisi pribadi.

Mereka adalah pemimpin yang punya prinsip, yang teguh dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Politik bagi mereka adalah melayani rakyat.

Rakyat adalah kata kunci dalam politik itu sendiri. Mereka adalah pemimpin yang ugahari. Dan kiranya politik keugaharian yang ditelandakan oleh mereka, menjadi sebuah cermin bagi perpolitikan kita di Indonesia yang terasa semakin hari semakin tidak ugahari. *

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved