VIDEO: Emi Nomleni, Perempuan TTS Ini Siap Bersaing di Pilkada 2018

Ketiganya menyatakan siap menjadi Bupati TTS dan akan masuk melalui jalur partai, independen maupun koloborasi.

Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Agustinus Sape

“Masyarakat TTS ibarat denyut nadi dalam aliran darah di tubuh saya. Hampir 5 tahun saya tinggalkan bangku politik praktis dan berkonsentrasi pada studi dan keluarga. Tapi hal itu tidak menyurutkan kerinduan saya untuk kembali berpikir mengurus rakyat di TTS yang adalah basis politik saya. Saya selalu ingin pulang ke kampung di TTS dan mengabdi disana, keinginan itu masih tetap ada,” kata Inche, dihubungi melalui telepon genggamnya dari SoE ke Kupang, Rabu (5/7/2017) sore.

Inche pernah gagal dalam pilkada 2013 karena kurang konsolidasi dan sejumlah partai pendukung beralih ke lain. Namun kegagalannya itu menjadi pelajaran bagi Inche untuk lebih hati-hati dalam mengambil keputusan.

“Butuh konsolidasi yang serius baik dengan parpol dan basis konstituen. Saya juga akan membangun percakapan di partai dan akan berkoalisi dan serius menggalang basis. Ketika akan maju nanti saya akan menguji basis dengan survey. Perlu persiapan matang agar tidak melakukan kesalahan yang sama di tahun 2013,” kata Inche.

Terkait banyaknya perempuan yang akan maju menjadi orang nomor satu di TTS, Emi, Rambu dan Inche mendukung dan bangga. Menurut Emi, hal itu menandakan ada pembelajaran politik sekaligus memberikan gambaran bahwa ruang kesempatan bagi perempuan makin terbuka dan bisa mulai dimanfaatkan.

“Saya bangga karena banyak perempuan yang akan maju. Kalau kita anggap saingan, itu saingan dalam konteks positif. Mari kita sama-sama bersaing sehat, jika kepentingannya untuk bagaimana bersama membangun TTS tapi harus ada komunikasi yang baik,” kata Emi.

Bagi Inche, selama ini sudah cukup banyak perempuan di lembaga legislatif sehingga sudah saatnya perempuan berada di lembaga pengambil keputusan yakni pemerintah atau bupati.

“Masyarakat harus mengerti dan memahami bahwa perempuan menjadi bupati bukan lagi hal yang tabu. Kalau selama ini masyarakat hanya memberikan kesempatan bagi laki-laki menjadi bupati, maka sekarang masyarakat hendaknya beri ruang bagi perempuan untuk memimpin TTS. Dengan demikian ada pembanding bagaimana kualitas pemimpin perempuan dan pemimpin laki-laki,” kata Inche.

Namun Inche mengatakan, pemimpin perempuan jauh lebih baik dibandingkan laki-laki. Karena perempuan sudah punya naluri dalam memimpin keluarga dan mengatasi berbagai persoalan.

“Perempuan sudah terbiasa mengurus perut, mencari nafkah, mengurus keluarga dan mengatasi persoalan apapun. Maka saya percaya perempuan punya kemampuan lebih untuk memimpin daerah dan masyarakat,” kata Inche.

Menurut Inche setelah bulan Agustus dia akan ke TTS untuk membangun konsolidasi dan melihat ruang. Jika ada ruang maka dia akan maju sebaliknya jika tidak ada ruang, maka Inche sportif mengalah dan mengajak masyarakat bisa mendukung orang yang berkompeten untuk maju.

“Saya harap masyarakat memberi ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk memimpin TTS supaya ada pembanding. Biarlah TTS bisa mencatat sejarah politik di NTT bahwa daerah ini yang pertama mengantar seorang perempuan menjadi bupati untuk konteks NTT setelah Manggarai Barat mengantar perempuan menjadi wakil bupati,” pesan Inche.

Terkait sistem patriakat yang masih kental di TTS, Emi, Rambu dan Inche mengatakan hal itu akan selalu ada di berbagai daerah di NTT. Dan pasti dimana-mana pasti masih akan ada pertanyaan mengenai apakah perempuan sudah mampu atau tidak untuk menjadi bupati.

“Saya melihat sistem patriakat bukan hambatan melainkan sebuah tantangan.  Bagi saya masyarakat sebenarnya juga tidak terlalu berpikir bahwa perempuan tidak bisa. Hanya kadang-kadang isu perempuan itu tidak mampu dan tidak bisa memimpin, seringkali dimainkan secara kuat oleh orang-orang yang punya kepentingan,” kata Emi.

Emi juga menilai masyarakat kini sudah cerdas dalam memilih, buktinya dia duduk di DPRD NTT selama dua periode.

“Yang memilih saya itu banyak laki-lakinya daripada perempuan. Hal ini memberikan gambaran apakah ikatan keluarga yang begitu erat ataukah memang patriakat hanya ada dalam konteks tertentu. Butuh analisa tapi bagi saya, secara keluarga ternyata keluarga menerima bahwa anak perempuan mereka bisa jadi kebanggan keluarga, bisa mampu bersaing dengan laki-laki,” kata Emi yang adalah ketua DPC PDIP TTS.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved