Jumat, 8 Mei 2026

Sejenak tentang UN SMA 2017 di Nusa Tenggara Timur

Seluruh pandangan, sorotan, perhatian, emosi, bahkan air mata masyarakat Indonesia baik dalam maupun dunia internasional berderai-derai di

Tayang:
Editor: Dion DB Putra

Unsur belaskasih atau faktor sayang anak hendaknya dikesampingkan.Peserta didik yang tidak memperlihatkan usaha, kerja keras,tekun belajar, malas, acuh terhadap proses pembelajaran, santai, bolos sekolah semestinya tidak diperlakukan sama dengan anak-anak lain lalu terjebak pola` naik kelas ramai-ramai ' istilah kasarnya. Beranikah sekolah terapkan kualifikasi kenaikan kelas yang ketat secara riil ,adil, dan obyektif?

Publikasi hasil UN secara utuh menjadi penting sebagai masukan dan bahan kajian bagi setiap institus isekolah, dinas pendidikan, orang tua, pemda kabupaten/kota, bahkan pemda provinsi guna sebuah komparasi akademik di level nasional.

Masyarakat luas di luar instansi pendidikan pun berhak mengetahui misalnya mutu lulusan kita dengan paradigma nasional (standar provinsi).Jika anak-anak kita juga terbukti mampu meraih nilai rata-rata UN 80,00atau lebih juga untuk level sekolah dapat menumbuhkan kepercayaan diri, tidak apatis melulu. Instrumen UN pemerintah telah dirancang sesuai kurikulum, kaidah soal-soal berstandar nasional(BSNP).

Andai saja ujian dilaksanakan secara jujur dan obyektif maka tidak diragukan lagi kemampuan akademik yang dicapai. Seorang peserta UN NTT yang memperolehnilai rata-rata 90,00 misalnya sama kedudukannya dengan peserta dari provinsi lain yang juga meraih nilai rata-rata yang sama.

Masalah besar yang dihadapi kalangan pendidik dewasa ini ialah peserta didik (siswa/i) beranggapan apapun hasil UN nanti pasti lulus.Sudah tertanam bibit sikap belajar masa bodoh, acuh tak acuh, santai, tak perlu kerja keras dan belajar banyak.

Aktivitas belajar kurang dipahami sebagai usaha dan upaya untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan di sekolah.Sekali lagi "sekolah" bermakna akademik. Predikat kelulusan apalagi klasifikasi 100% sudah bukan "barang langka" lagi atau vonis yang menakutkan. Malah dianggap aneh ketika sekolah top tidak lulus 100%.

Kalangan DPRD NTT mengusulkan10 sekolah terbaik UN SMA 2017 diberikan penghargaan seperti diwartakan harian ini (13/5/2017) .Setuju. Sebagai motivasi. Namuun, bagaimana upaya membangun sekolah-sekolah kita yang jumlahnya begitu besar dengan indikator hasil belajar lewat UN masih sangat rendah.

Jika prinsip non multasedmultum (bukan kuantitas tetapi kualitas) tidak diterapkan maka yang terjadi adalah jumlah sekolah, peserta didik, gedung sekolah yang membumbung tinggi sementara kondisi dan kualitasnya kurang mendapat perhatian. Proficiat.*

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved