Sampah dan Masalahnya, Menata Kupang Menuju Kota Ekologis
Pada musim hujan saat ini kita sering melihat jalanan kota penuh dengan genangan air. Tentu saja ini diakibatkan oleh perilaku
Oleh: Deddy Febrianto Holo
Anggota Sahabat Alam WALHI NTT
POS KUPANG.COM - Kota Kupang atau sering dijuluki "Kota Kasih" belum menunjukan karakter masyarakatnya yang penuh "Kasih Ekologis" terhadap lingkungan. Persoalan sampah menjadi perhatian serius sejumlah pihak dan komunitas baik itu pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terus menggalakkan semangat akan pentingnya kebersihan dan pelestarian lingkungan hidup.
Pada musim hujan saat ini kita sering melihat jalanan kota penuh dengan genangan air. Tentu saja ini diakibatkan oleh perilaku manusia yang tidak ramah terhadap lingkungannya. Musim hujan bagi masyarakat di pesisir pantai tidak lagi menjadi berkah, namun sebaliknya menjadi malapetaka yang seringkali meresahkan masyarakat. Hampir di sepanjang jalan dan sudut kota kita dipertontonkan banyaknya genangan air yang rata-rata mencapai 30 cm. Ini menjadi pekerjaan besar pemerintah dan masyarakat dalam hal menanggulangi masalah banjir di Kota Kupang.
Sampah menjadi titik berat persoalan yang sampai saat ini belum serius diselesaikan pemerintah daerah baik di tingkat provinsi, kabupaten dan kota di NTT. Limbah rumah tangga dan rumah sakit dari hulu menjadi bencana bagi masyarakat yang berada di sepanjang hilir. Sampah bawaan hulu menjadi polemik bagi keselamatan peisir pantai dan daerah aliran sungai (DAS).
Kunjungan Sahabat Alam (SHALAM) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa minggu terakhir di beberapa pantai di kota Kupang terlihat jelas bahwa hampir setiap hari sampah tidak terkendali.
Masyarakat masih sering membuang sampah rumah tangga di sepanjang pantai. Ini menjadi tantangan kita bersama dalam hal memberikan pandangan ekologis kepada setiap elemen agar tidak membuang sampah di sembarangan tempat. Sahabat Alam juga mengimbau kepada pemerintah Kota Kupang agar memberikan edukasi ekologis dan tidak hanya memasang plang-plang peringatan seperti yang ditemukan di beberapa pesisir pantai.
Sebesar apapun tindakan pengendalian sampah perkotaan yang dilakukan oleh pemerintah tidak akan mencapai titik baik apabila tidak didukung edukasi ekologis kepada masyarakat. Edukasi ekologis yang dimaksudkan adalah bagaimana memberikan pendidikan sejak dini terhadap seluruh komponen masyarakat terkait pentingnya pelestarian lingkungan hidup bagi kehidupan kita.
Membangun Konsep Ekologis
Konsep ekologis yang terus digalakkan berbagai elemen menjadi titik baru dalam pengendalian sampah di perkotaan dewasa ini. Edukasi dan pelatihan tentang bagaimana menjaga lingkungan perlu diperkuat dengan melibatkan semua unsur baik masyarakat maupun pemerintah. Sampah yang terus mewarnai kota akhir-akhir ini menjadi tontonan gratis masyarakat kita tanpa mengetahui cara mengendalikannya.
Karakter masyarakat yang ramah lingkungan menjadi jawaban dari semua persoalan lingkungan saat ini. Konsep ekologis perlu dijalankan di setiap lingkungan pendidikan dan komunitas sehingga ini menjadi gerakan bersama untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.
Sudah saatnya konsep ekologis dengan perilaku dan tindakan yang ramah lingkungan menjadi "virus" di kalangan generasi muda dengan gerakan kecil yaitu tidak membuang sampah di sembarangan tempat. lingkungan. Kita tidak bisa lagi untuk terus saling menyalahkan, namun yang perlu dan harus kita lakukan adalah bertindak dari diri kita sendiri untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.
Inilah konsep ekologis yang dibangun oleh Sahabat Alam WALHI NTT. Kita mengajak semua terlibat dan bertindak secara nyata lewat aksi penyelamatan lingkungan. Menanam pohon merupakan langkah nyata untuk mengembalikan lingkungan menjadi baik. Di sisi lain Sahabat Alam WAHLI NTT berharap adanya keseriusan pemerintah lewat berbagai regulasi dan kebijakan serta memberikan edukasi kepada semua jajaran pemangku kepentingan yang ada.
Mewujudkan Kota Ekologis
Kota Kupang adalah kotamadya dan sekaligus Ibu Kota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terletak pada 10 36'14?-10 39'58? LS dan 123 32'23?-123 37'01? BT; dengan luas wilayah Kota Kupang adalah 180,27 Km2 dengan jumlah penduduk 450.360 jiwa (2014). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 51 kelurahan.
Kota Kupang harus menjadi tempat yang ramah bagi anak dan perempuan ini menjadi tantangan terbesar kita saat ini ketika nampak di permukaan begitu banyak persoalan kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak. Konsep Kota Ekologis atau dengan kata lain kota yang ramah menjadi sangat baik diimplementasikan lewat berbagai peraturan daerah (Perda) dan edukasi ekologis. Sejauh ini kota Kupang hampir mengalami krisis ruang terbuka bagi publik.
Hal ini ditunjukan konsep pembangunan dan tata ruang kota yang tidak berlandaskan pada konsep ekologis. Konsep kota ekologis yaitu kota yang berkelanjutan dalam hal ini konsep tata ruang yang digunakan adalah berfokus pada sebuah proses untuk jangka waktu yang akan datang.