Kamis, 16 April 2026

Rokok Sebagai Faktor Resiko TB, Berikut Ini Cara Penanggulangannya

Saat ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi tuberkulosis. Setiap tahun ada sekitar 8 juta penderita baru TB dan hampir 3 juta

Editor: Dion DB Putra
VIK.KOMPAS.COM/ROKOK
ilustrasi 

(Refleksi Hari TB Nasional 24 Maret 2017)

Oleh: Vinsen Belawa Making SKM, M.Kes
Wakil Ketua Stikes CHMK, Sekretaris Eksekutif IAKMI Provinsi NTT

POS KUPANG.COM - Peringatan hari Tuberkulosis (TB) sedunia Tahun ini mengambil tema "Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas TB" melalui aksi "Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS) di Keluarga!".

Tema ini telah menggerahkan hampir seluruh petugas kesehatan di puskesmas untuk terjun ke rumah-rumah. Ada banyak cerita dan postingan di media sosial yang membanggakan. Akhirnya petugas kesehatan bisa datang dan mengetuk pintu setiap rumah diwilayah kerjanya masing-masing. Sebuah langkah awal yang baik untuk memulai gerekan menuju Indonesia yang bebas dari TB.

Saat ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi tuberkulosis. Setiap tahun ada sekitar 8 juta penderita baru TB dan hampir 3 juta orang yang meninggal di seluruh dunia akibat penyakit ini. Paling sedikit satu orang akan terinfeksi TB setiap detik dan setiap 10 detik akan ada satu orang yang mati akibat TB di dunia.

TB membunuh hampir dari satu juta wanita setahunnya, lebih tinggi dari kematian wanita akibat proses kehamilan dan persalinan dan TB membunuh 100.000 anak setiap tahunnya. WHO menyatakan apabila situasi penanggulangan TB tetap seperti sekarang ini maka jumlah kasus TB di dunia tahun 2020 akan meningkat menjadi 11 juta jiwa, artinya 200 juta kasus TB dalam dua dekade pertama abad ini.

Berdasarkan data dari WHO Global Tuberculosis Report 2016 menyatakan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 254.831.222, menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. TB di Indonesia juga merupakan penyebab nomor empat kematian setelah penyakit kardiovaskular.

Mengapa demikian? Sebuah alasan sederhana karena Indonesia juga merupakan negara dengan angka merokok yang tinggi (urutan keempat dunia). Hasil penelitian ternyata menghubungkan kebiasaan merokok dengan terjadinya penyakit tuberkulosis paru.

Penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara prevalensi reaktifitas tes tuberkulin (tes untuk mengetahui seseorang terinfeksi TB) dan kebiasaan merokok. Mereka yang merokok 3-4 kali lebih sering positif tesnya. Artinya 3-4 kali lebih sering terinfeksi TB dari pada yang tidak merokok. WHO juga menyatakan 20 persen kasus TBC di Dunia disebebkan karena merokok. Penelitian lain menunjukkan hubungan antara kebiasaan merokok dengan aktif tidaknya penyakit tuberkulosis, serta faktor risiko terjadinya tuberkulosis paru pada dewasa muda, dan terdapat dose-response relationship dengan jumlah rokok yang dihisap per harinya. Penelitian lain menemukan bahwa anak yang terpapar asap rokok (perokok pasif) ternyata juga lebih sering mendapat TB nantinya.

Penelitian oleh Liza Salawati (2014) di Banda Aceh memberikan kesimpulan bahwa ada hubungan antara Penderita Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) dengan kebiasaan merokok. Sebenarnya system imun kita mampu membendung serangan kuman TB tetapi pada saat daya tahan tubuh kita menurun maka dengan sendirinya kita akan dengan mudah tertular.

Racun-racun dalam asap rokok dapat merusak paru-paru manusia dan menurunkan daya tahan tubuh. Akibatnya, tubuh tak dapat menangkal kuman TB dan mengaktifkan kuman TB laten. Oleh sebab itu ketika pasien perokok terkena TB maka disarankan untuk segera berhenti merokok. Jika tidak, TB akan sulit disembuhkan atau akan bertambah parah.

Juga ditemukan bahwa TB pada perokok lebih menular dari pada penderita TB yang tidak merokok, kebiasaan merokok juga merupakan faktor dalam progresivitas tuberkulosis paru dan terjadinya fibrosis. Secara umum, perokok ternyata lebih sering mendapat TB dan kebiasaan merokok memegang peran penting sebagai faktor penyebab kematian pada TB. Kebiasaan merokok membuat seseorang jadi lebih mudah terinfeksi tuberkulosis, dan angka kematian akibat TB akan lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok.

Kebiasaan merokok akan merusak mekanisme pertahanan paru yang disebut muccociliary clearance. Bulu-bulu getar dan bahan lain di paru tidak mudah "membuang" infeksi yang sudah masuk karena bulu getar dan alat lain di paru rusak akibat asap rokok.

Selain itu, asap rokok meningkatkan tahanan jalan napas (airway resistance) dan menyebabkan mudah bocornya pembuluh darah di paru, juga akan merusak makrofag yang merupakan sel yang dapat memakan bakteri pengganggu. Asap rokok juga diketahui dapat menurunkan respons terhadap antigen sehingga kalau ada benda asing masuk ke paru tidak lekas dikenali dan dilawan. Secara biokimia asap rokok juga meningkatkan sintesa elastase dan menurunkan produksi antiprotease sehingga merugikan tubuh kita.

Harus diakui juga bahwa hingga saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui tentang TB dan bagaimana mengakses pengobatan. Belum baiknya pengetahuan masyarakat tentang TB dan adanya pengobatan gratis bisa mengakibatkan terlambatnya mereka mencari pengobatan atau tidak berobat yang berkontribusi pada tingginya prevalensi TB.

Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan memiliki target Indonesia Bebas TB 2050. Untuk mencapai target tersebut, peran serta masyarakat sangat diperlukan, terutama dalam membantu menemukan kasus TB dan membantu melakukan pengawasan terhadap pengobatan pasien TB sampai sembuh, agar rantai penularan TB di Indonesia dapat dihentikan. Adanya dukungan dari masyarakat dapat memberikan semangat positif dan kepatuhan pasien untuk minum obat dan juga mencegah tingkat keparahan dengan meminimalisir konsumsi rokok atau dengan menegakkan peraturan larangan merokok (Perda KTR).

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved