Menengok Desa Nonotbatan di TTU
Anak-anak Belajar di Bawah Atap Daun Lontar (1)
Jauh di dusun kecil di pedalaman TTU, sejak tahun 2012 masyarakat di Nonotbatan membangun sebuah bangunan darurat dari bahan lontar untuk menyekolahka
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten TTU, Emanuel Anunu, dikonfirmasi Pos Kupang, Senin (6/2/2017) tampak kaget saat melihat foto kondisi sekolah tersebut yang diperlihatkan Pos Kupang.
Emanuel berjanji akan menindaklanjuti dengan pendataan sekolah-sekolah untuk melakukan pemerataan guru dan SD terpencil.
"Kami akan melakukan pemerataan untuk guru-guru. Selain itu, untuk fasilitas kami akan
usahakan pengadaan fasilitas untuk sekolah tersebut," ujarnya.
Emanuel mengaku ada persoalan penempatan guru. Pasalnya, banyak penumpukan guru pada sekolah tertentu.
"Memang butuh proses karena untuk menjadi sekolah induk, minimal jumlah murid mencapai 20 orang, maksimal 34 orang. Soal guru, Dinas PPO TTU akan usahakan pemerataan bagi sekolah negeri, SDK, dan SD swasta. Mungkin juga sekolah itu sekolah kecil yang dibangun atas dasar persetujuan masyarakat setempat," kata Emanuel.
"Kalau sekolah itu tidak mengalami perubahan, maka kelas lima dan enam akan kita alihkan ke sekolah induk. Jika dari tahun ke tahun mengalami perubahan bagus, akan diverifikasi untuk lebih baik lagi," janji Emanuel. (apson benu/bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gedung-sdn-tainoni-di-dusun-ii-maubesi-sekolah-atap-daun_20170209_001958.jpg)