Sabtu, 9 Mei 2026

Menengok Desa Nonotbatan di TTU

Anak-anak Belajar di Bawah Atap Daun Lontar (1)

Jauh di dusun kecil di pedalaman TTU, sejak tahun 2012 masyarakat di Nonotbatan membangun sebuah bangunan darurat dari bahan lontar untuk menyekolahka

Tayang:
Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/APSON BENU
Inilah gedung SDN Tainoni di Dusun II Maubesi, Desa Nonotbatan, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU beratapkan daun lontar dan berdinding bebak (pelepah pohon lontar) yang dibangun tahun 2012. Gambar diambil hari Minggu (5/2/2017) 

Kalau hujan pasti bocor. Kadang-kadang kami kewalahan karena dinding mulai rusak. Kami takut bangunan sekolah ini roboh.

POS KUPANG.COM, KEFAMENANU -- Untuk membuka cakrawala berpikir generasi muda di Desa Nonotbatan, Dusun II Maubesi, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bukanlah hal yang mudah.

Jauh di dusun kecil di pedalaman TTU, sejak tahun 2012 masyarakat di Nonotbatan membangun sebuah bangunan darurat dari bahan lontar untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Meskipun menyandang status Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tainoni, tetapi seluruh bangunan sekolah itu terbuat dari lontar. Atap bangunan sekolah dari daun lontar, dinding bebak dan minim fasilitas lainnya.

Seperti disaksikan Pos Kupang saat mengunjungi (menengok) Desa Nonotbatan, Minggu (5/2/2017) sore, awan gelap menutupi daun kering atap sekolah yang mulai rapuh itu. Akses masuk dari jalan umum pantai utara (pantura) arah Kabupaten Belu menuju lokasi sekolah sekitar 20 menit. Melewati hutan belantara dan jalan berbatu dan becek saat hujan.

Sekolah ini dikelola empat orang guru. Satu guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dipercayakan sebagai kepala sekolah, dan tiga guru honor yang dibiayai komite sekolah tersebut.

Sejak 31 Januari 2017 lalu hingga Sabtu (4/2/2017), aktivitas belajar mengajar di sekolah yang menampung 51 orang murid ini berhenti sementara karena wilayah setempat tertimpa bencana banjir bandang.

Bangunan sekolah yang mulai reyot termakan rayap itu terpaksa digunakan sementara sebagai salah satu tempat penampungan pengungsian sebagian dari 85 kepala keluarga korban banjir bandang.

Tiga ruangan kosong berlantai tanah dimanfaatkan untuk menyimpan sebagian barang bantuan. Bangku kayu panjang yang digunakan para murid diatur rapi.

Kondisi sekolah tersebut sangat memrihatinkan, apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini. Ada satu WC darurat menggunakan dinding bebak di samping kanan sekolah itu.

"Kalau hujan pasti bocor. Kadang-kadang kami kewalahan karena dinding mulai rusak. Kami takut bangunan sekolah ini roboh. Kami tetap melakukan yang terbaik untuk masa depan anak-anak di Desa Nonotbatan ini," kata Marlina Vebiana Mau, salah satu guru honor.

Marlina menjelaskan, sekolah tersebut dipimpin Helena Telik Berek. Helena dibantu tiga orang guru komite. Mereka saling menopang demi masa depan 51 murid yang saat ini telah duduk di bangku kelas V.

Sebagian besar murid datang tidak mengenakan seragam sekolah seperti layaknya anak sekolah. "Kami kekurangan buku, alat tulis. Meja dan bangku kurang. Seragam sekolah kurang," ungkap Marlina.

Ia mengatakan, aktivitas belajar mengajar sejak tahun 2012 hingga saat ini hanya menggunakan bangunan darurat. "Bantuan ruangan dari pemerintah belum ada. Kalau hujan pasti bocor. Terpaksa para orangtua murid harus datang bantu buat atap dari lontar," tutur Marlina, didamping rekan gurunya, Anastasia Lon.

Menyangkut gaji, lanjut Marlina, ada yang digaji tiap bulan Rp 200 ribu, Rp 400 ribu dan Rp 500 ribu. "Kami harapkan pemerintah perhatikan sekolah kami khususnya gedung dan perlengkapan belajar anak-anak sekolah. Itu yang paling penting," kata Marlina.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved