Breaking News
Kamis, 23 April 2026

Absennya Diskursus Rasional dalam Debat dan Konsekuensi Politik Kewargaan

Ada yang berpendapat bahwa debat perdana pilkada Walikota dan Wakil Walikota Kupang yang diselenggarakan oleh KPU Kota Kupang

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ENOLD AMARAYA
Pasangan FirManMu (kiri) dan Sahabat (kanan) dalam acara Debat Kandidat Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2017-2022 di Studio TVRI NTT, Selasa (17/1/2017). 

Di sisi yang lain lagi debat menguji secara diskursif objektivitas program: apakah programnya bisa dilaksanakan dan ekspektasi warga tercapai? Ataukah malah terlalu muluk dari sisi waktu. Lima tahun menjadi kepala daerah programnya tidak bisa dicapai pimpinan daerah justru akan dinilai sebagai yang suka memberi janji.

Dengan demikian performans debat seyogianya menunjukkan bahwa kita sedang menggali dan menyingkapkan kenyataan apa yang merupakan kebutuhan warga, bukan sekedar upaya untuk memenangkan pilkada. Yang diperlukan adalah elegan berpendapat, bukan sekedar bersuara keras. Suara keras apalagi menyerang belum menunjukkan bahwa yang dikatakan itu benar.

Mengandalkan suara keras semata membuat yang berdebat berpotensi jatuh lagi kepada paradoks politik sebagaimana disinyalir Aristoteles karena suara hanya menunjukkan rasa sakit dan hasrat dan karenanya hanya cocok untuk makhluk-makhluk lain. Hanya manusia yang memiliki wacana rasional yang melaluinya ada persepsi tentang sesuatu yang berguna dan tidak berguna atau yang adil atau tidak adil, yang baik atau tidak baik.*

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved