Absennya Diskursus Rasional dalam Debat dan Konsekuensi Politik Kewargaan
Ada yang berpendapat bahwa debat perdana pilkada Walikota dan Wakil Walikota Kupang yang diselenggarakan oleh KPU Kota Kupang
Di sisi yang lain lagi debat menguji secara diskursif objektivitas program: apakah programnya bisa dilaksanakan dan ekspektasi warga tercapai? Ataukah malah terlalu muluk dari sisi waktu. Lima tahun menjadi kepala daerah programnya tidak bisa dicapai pimpinan daerah justru akan dinilai sebagai yang suka memberi janji.
Dengan demikian performans debat seyogianya menunjukkan bahwa kita sedang menggali dan menyingkapkan kenyataan apa yang merupakan kebutuhan warga, bukan sekedar upaya untuk memenangkan pilkada. Yang diperlukan adalah elegan berpendapat, bukan sekedar bersuara keras. Suara keras apalagi menyerang belum menunjukkan bahwa yang dikatakan itu benar.
Mengandalkan suara keras semata membuat yang berdebat berpotensi jatuh lagi kepada paradoks politik sebagaimana disinyalir Aristoteles karena suara hanya menunjukkan rasa sakit dan hasrat dan karenanya hanya cocok untuk makhluk-makhluk lain. Hanya manusia yang memiliki wacana rasional yang melaluinya ada persepsi tentang sesuatu yang berguna dan tidak berguna atau yang adil atau tidak adil, yang baik atau tidak baik.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/debat-calon-walikota_20170119_170015.jpg)