Kamis, 16 April 2026

Remaja, Balapan Liar dan Tanggung Jawab Kita

Di kota Maumere, aksi balapan liar dan kebut-kebutan di jalan raya didominasi oleh Anak Baru Gede (ABG) yang

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ARIS NINU
ilustrasi 

Oleh Frano Kleden
Tinggal di Ledalero, Maumere

POS KUPANG.COM - Dewasa ini fenomena balapan liar hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk NTT. Aksi ini umumnya dilakukan secara ilegal oleh para remaja yang lebih menuruti egonya daripada keselamatan dirinya. Banyak anak dari kalangan SMP sampai SMA turut melakukan aksi ini.

Di kota Maumere, aksi balapan liar dan kebut-kebutan di jalan raya didominasi oleh Anak Baru Gede (ABG) yang duduk di bangku SMP dan SMA. Para pengendara yang umumnya baru berusia belasan tahun itu sudah dibiarkan mengendarai sepeda motor dengan knalpot yang berbunyi racing (warga Maumere menyebutnya knalpot roak), sehingga mengganggu kenyamanan warga lain yang menggunakan jalan.

Belakangan ini motor-motor yang dipakai di arena balapan pun sudah mulai masuk ke jalan umum dan dipakai untuk balapan liar pada siang dan malam hari. Pos Kupang (18/2/2016) menulis bahwa sudah sepekan terakhir pada setiap hari Sabtu malam dan hari Minggu, Jalan El Tari-Maumere sudah menjadi track-track motor dengan pengendara anak di bawah umur (ABG). Mereka (pengendara) pada umumnya tidak terlalu taat berlalu lintas. Ada yang tidak memakai helm.

Wajahnya merah karena pengaruh alkohol serta berboncengan tiga orang yang melintas di jalan. Bukan hanya itu, mereka juga mengangkat ban depan di jalan tersebut secara berkelompok tanpa ada rasa takut.

Fenomena Balapan Liar
Balapan liar termasuk 'kegiatan menyimpang' karena melanggar peraturan lalu lintas. Sekarang ia punya hubungan yang sangat dekat dengan kaum remaja. Aksi menantang ini memang pantas dan wajar dilihat sebagai satu bentuk kenakalan remaja karena dengannya, remaja menunjukkan sebuah potensi dan kreativitas yang tidak proporsional. Jika dibiarkan begitu saja, pada taraf ekstrem, penyimpangan ini akan menjadi masalah nasional yang dapat mengganggu stabilitas nasional dan pembangunan bangsa.

Padahal, remaja merupakan generasi dan potensi bangsa yang berperan dalam pembangunan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Sesungguhnya balapan liar sangat mengganggu masyarakat di tempat diadakannya aksi tersebut. Bukan tidak mungkin kalau aksi ini membuat warga menjadi enggan dan cemas untuk pergi ke luar rumah. Kecemasan dasarnya adalah mereka 'mungkin' takut menjadi korban. Lebih lanjut, saya melihat ada semacam keberanian berlapis-lapis yang ada dalam diri para "pembalap" (saya merasa perlu membubuhkan tanda petik pada kata "pembalap" untuk membedakan "pembalap" jenis ini dengan pembalap-pembalap yang membalap di lintasan resmi dalam ajang-ajang resmi). Keberanian seperti inilah yang menjadikan para "pembalap" sama sekali tidak gentar akan celaka.

Bisa dibayangkan bagaimana saat memacu motornya, para "pembalap" dengan lepas-bebas melaju di jalanan tanpa mempedulikan orang lain (pejalan kaki atau pengendara lain).

Bukankah terjadi 'pelanggaran' kalau seseorang atau sekelompok orang menjadikan fasilitas publik (baca: jalan raya) sebagai milik privat apalagi demi kepentingan yang sangat tidak etis? Di jalan raya, para "pembalap" akan bersalip-salipan tanpa kenal takut sehingga pengguna jalan sering harus menghindar dan bisa jadi celaka. Belum lagi deru knalpot yang memekakkan telinga. Bukankah semuanya sangat mengganggu ketenteraman orang yang mungkin pada waktu itu ingin beranjak tidur?

Hemat saya, maraknya fakta balapan liar remaja di Maumere (dan juga di tempat lainnya) selain disebabkan faktor-faktor internal seperti hobi, kesenangan, ingin memacu adrenalin serta rasa ingin mencoba hal yang baru, juga dilatarbelakangi oleh faktor-faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan dan minimnya pendidikan. Kurangnya pengawasan dari keluarga (orang tua) rupanya membuat anak-anak bebas untuk melancarkan aksinya. Ditambah lagi dengan pengaruh minuman keras yang berlebihan dan tidak terkendali.

Selain itu, pendidikan formal yang meliputi pendidikan moral dan agama serta tingkat pengetahuan yang ada di bawah rata-rata bisa menjadi pemicu timbulnya aksi sengit ini.

Siapa Mesti Bertanggung Jawab?
Pada dasarnya, upaya menghentikan aksi balapan liar adalah tanggung jawab kita bersama. Aksi para pelaku balapan liar memang meresahkan, tak hanya bagi warga sekitar, tapi juga bagi pihak berwajib. Kalau memang para "pembalap" dianggap sudah merugikan banyak pengguna jalan lainnya, pihak kepolisian harus secepatnya mengambil tindakan tegas.

Para polisi sebagai stabilisator keamanan dan ketertiban umum perlu meningkatkan penanganan terhadap lokasi yang rawan terhadap terjadinya balapan liar. Polisi juga wajib melaksanakan kegiatan-kegiatan patroli secara rutin, mengadakan penyuluhan di setiap sekolah serta mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar secepatnya melaporkan kepada pihak yang berwajib, apabila terjadi aksi-aksi brutal seperti ini.

Akhirnya, menyitir kata Kapolres Sikka, AKBP I Made Kusuma Jaya, peran semua pihak (orang tua, pihak sekolah, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda) sangat penting dalam memberikan kesadaran berlalu lintas kepada anaknya sejak dini. Pada tempat pertama, anak-anak remaja perlu disadarkan atau lebih baik lagi kalau mereka menyadari sendiri bahwa aksi balapan liar yang dilakukannya akan lebih banyak memberi dampak negatif, semisal nilai (prestasi) di sekolah menurun, dijauhi dari lingkungan sosial dan lebih fatal lagi kecelakaan mungkin saja terjadi (jika kecelakaan itu relatif keras, kematian pasti akan semakin dekat).

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved