Sabtu, 23 Mei 2026

Oleh Dr Ebenhaizer Nuban Timo

Masyarakat dan Penyandang Cacat

Adalah wajib bagi masyarakat untuk mengubah pandangan-pandangan tradisional yang cenderung memarginalkan mereka yang memiliki kelainan.

Tayang:
Editor: Benny Dasman

Sub model victim menghasilkan sikap negatif bahkan penindasan terhadap penyandang cacat. Sikap ini tercermin dalam Gereja seperti kurangnya perhatian Gereja terhadap keperluan penyandang cacat dalam membangun gedung ibadah dan fasilitas lainnya. Juga dalam ungkapan-ungkapan yang dipakai Gereja dalam pemberitaan dan pengajarannya.

Pandangan ini, yakni model teologis yang bercorak blessing maupun victim patut dijauhi setidak-tidaknya kalau kita mengingat jawaban Yesus untuk pertanyaan para murid mengenai orang buta sejak lahir yang dijumpai Yesus. Menjawab pertanyaan itu Yesus berkata: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia" (Yoh. 9:3).

Murid-murid mempersoalkan status orang buta ini di dalam masyarakat: apakah sebagai orang sakit atau kena kutuk? Yesus mengabaikan masalah itu karena tidak selalu kecacatan adalah buah dari dosa. Mengatakan seperti itu mengandaikan bahwa mereka yang terlahir normal adalah manusia yang bebas dosa. Orang cacat juga bukan sumber berkat atau daya sakti. Sebagai gantinya Yesus menarik perhatian murid-murid pada soal rencana Allah. Adanya orang cacat adalah dalam rangka memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan Allah. Tentu saja pekerjaan yang dimaksud adalah yang dilakukan Allah melalui manusia atau orang-orang pilihanNya. Dalam episode cerita di atas pekerjaan Allah dinyatakan melalui Yesus, yakni menyembuhkan orang buta itu. Kisah penyembuhan yang dilakukan Yesus bukan sekedar menyampaikan pesan psikologis melainkan juga mencakup pesan sosial. Penyembuhan yang dilakukan Yesus artinya meniadakan rintangan sosial demi menciptakan masyarakat yang terbuka dan mau menerima mereka yang lain.

Kalau orang catat selalu ada di antara kita, maka masalahnya bukan pada asal-usul atau penyebab kecacatan itu melainkan seberapa jauh kita melihat diri sebagai orang-orang pilihan Allah untuk meniadakan berbagai rintangan yang menghalangi orang-orang dengan kemampuan yang lain bisa ikut ambil bagian secara penuh dalam kehidupan masyarakat. Jelasnya, model teologis dalam memahami disabilitas perlu dipikirkan ulang oleh Gereja dan orang percaya.

Demikianlah ada empat model yang dalam memahami hadirnya disabled people di dalam masyarakat. Jelas bukanlah sebuah sikap iman yang benar untuk mempertahankan model teologis blessing dan victim. Tentu saja dalam realitas ada orang yang cacat oleh sebab-sebab dosa atau kelalaian baik masyarakat, orang tua maupun pribadi, juga ada penyandang cacat yang memiliki kharisma khusus dan unik, tetapi menghukum atau memitoskan mereka bukanlah sikap yang pantas.

Kalau keempat model ini kita perhatikan jelas ada perkembangan paradigma sikap rangkap tiga masyarakat terhadap disabilitas: pertama, dari gambaran terhadap disabled sebagai simbol dosa ke tantangan untuk menyatakan pekerjaan Allah. Kedua, dari pandangan yang mempersoalkan kelalaian individu atau keturunannya (model kutuk, medis) ke pandangan yang menuntut kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap disabilitas (model sosial dan solidaritas). Ketiga, dari sikap karitatif dan filantropis ke sikap, anti diskriminatif dan kesetaraan.

Adalah wajib bagi masyarakat untuk mengubah pandangan-pandangan tradisional yang cenderung memarginalkan mereka yang memiliki kelainan. Orang-orang yang kita sebut cacat sebenarnya memiliki kemampuan yang berbeda. Penyandang cacat sebenarnya adalah an open community, artinya satu saat nanti orang-orang yang normal akan bergabung dalam kelompok ini. Apakah itu berarti mereka selama ini tidak berdosa dan nanti waktu cacat barulah berdosa atau memikul akibat dosa dari leluhurnya? * (Dogmatikus di Salatiga, Menyelesaikan Studi Doktor di Kampen-Belanda)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved