Keluarga Prabowo itu Pluralis, Dua Kakaknya Katolik Adiknya Protestan

Pasangan Calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa siap mengakomodir minimal 30 persen kaum perempuan

Keluarga Prabowo itu Pluralis,  Dua Kakaknya Katolik Adiknya Protestan
POS KUPANG/IST
Bianti Djiwandono, kakak sulung Prabowo yang juga adalah Istri dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Sudrajat Djiwandono saat melakukan pertemuan terbatas dengan relawan pendukung Prabowo-Hatta di T-More Hotel Kupang, Rabu (25/6/2014) sore. 

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Pasangan Calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa siap mengakomodir minimal 30 persen kaum perempuan jika memang rakyat mempercayakan pasangan ini memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Kuota minimal 30 persen perempuan masuk dalam kabinet ini sebagai bentuk komitmen Prabowo-Hatta terhadap kaum perempuan.

Hal ini diungkapkan Bianto Djiwandono, kakak sulung Prabowo yang juga adalah Istri dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Sudrajat Djiwandono saat melakukan pertemuan terbatas dengan relawan pendukung Prabowo-Hatta di T-More Hotel Kupang, Rabu (25/6/2014) sore.

Dalam siaran pers dari Prabowo-Hatta Media Center Kupang yang diterima Pos Kupang, Kamis (26/6/2014) menyebutkan, Sudrajat bersama sang istri melakukan roadshow ke NTT sejak Rabu (25/6/2014) dan akan melakukan safari politik ke Kabupaten Nagekeo, Ngada, Ende dan Manggarai. 

Di Kupang, Sudrajat dan istri bertemu para pimpinan koalisi Merah Putih NTT, pengurus organisasi sayap Partai Gerindra, yakni Perempuan Indonesia Raya (PIRA), Kristen Indonesia Raya (KIRA) dan Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA) serta relawan Forum Rakyat Pendukung Prabowo-Hatta dalam pertemuan terbatas di Hotel T-More, Kupang.

Menurut Bianti, Prabowo-Hatta bertekad memajukan kaum perempuan Indonesia ke depan. Oleh karena itu, keduanya siap mengakomodir 30 persen perempuan dalam anggota kabinet. Saat ini, PIRA pun sedang mengidentifikasi perempuan-perempuan terbaik Indonesia dan akan diusulkan kepada Prabowo-Hatta.

"Kita identifikasi tidak saja dari parpol koalisi tapi memilih perempuan-perempuan terbaik di mana saja dan dari mana saja di seluruh Indonesia," tegas Bianti.

Bianti juga menjelaskan soal latar belakang keluarga Djojohadikusumo. Ia menyebutkan, mereka adalah keluarga yang pluralis. Prabowo yang adalah anak ketiga dari empat bersaudara beragama muslim. Dua kakaknya, yakni Biantiningsih dan Maryani beragama Katolik. Sedangkan adik bungsunya Hashim Djojohadikusumo beragama Kristen. Mereka berempat lahir dari rahim seorang ibu dari Manado dan beragama Kristen.

"Kami sekeluarga sejak dahulu sampai sekarang tetap rukun,  bahagia dan saling menghargai perbedaan kami," ujarnya.
Menurut Sudrajat, keluarga yang pluralis itu membuat sosok Prabowo sangat pluralis dan nasionalis. Ia meyakini isu-isu yang mendiskreditkan Prabowo tentang suku, agama dan ras sudah terbantahkan.

"Ada yang mengatakan partai-partai muslim mendukung Prabowo sehingga akan berbahaya bagi agama minoritas. Saya katakan tidak mungkin Prabowo akan mendiskriminasi agama-agama tertentu karena dia dari keluarga yang sangat pluralis," kata Sudrajat.

Professor di Nanyang Technological University ini juga menyebutkan adanya fitnah bahwa Prabowo akan mendiskriminasi warga keturunan Tionghoa. Fitnah ini merebak sebelum pemilu
legislatif.

"Tapi masyarakat tahu bahwa Prabowo lah yang membawa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ke DKI menjadi Wakil Gubernur. Ini bukti Prabowo sangat pluralis," kata Sudrajat.

Sudrajat juga menyayangkan fitnah kepada Prabowo terkait kerusuhan Mei 1998, penembakan mahasiswa Trisakti hingga isu pemecatan Prabowo dengan tidak hormat. Soal dalang kerusuhan Mei 1998, kata Sudrajat, perlu ditelusuri alasan Wiranto dan semua pimpinan TNI yang meninggalkan Jakarta hanya demi acara seremonial penggantian salah satu komandan di jajaran Kostrad di Malang, Jawa Timur.

Jadi saat pecah kerusuhan Wiranto dan pimpinan TNI lainnya tidak ada di Jakarta. "Padahal sudah berulang-ulang kali Prabowo sampaikan ke Wiranto bahwa tidak boleh meninggalkan ibukota karena dalam keadaan darurat," tandas Sudrajat.

Selanjutnya, soal kasus Trisakti, menurut dia, berdasar hasil uji balistik bahwa peluru yang digunakan bukan berasal dari senjata otomatis yang dipakai pasukan Kopassus. Dengan demikian, keterlibatan Prabowo dalam kasus Trisakti terbantahkan.

Demikian juga soal isu penculikan, dimana mahasiswa yang diamankan Tim Mawar semuanya selamat dan telah kembali. Dan, dalam persidangan di Mahkamah Militer, para anggota Tim Mawar mengaku diamankannya para aktivis itu bukan atas inisiatif Prabowo Subianto.

"Jadi yang selama ini dihembuskan ke publik sekedar fitnah tanpa bukti. Soal pemecatan, kita tahu bahwa sampai hari ini Pak Prabowo masih terima gaji pensiun dan menggunakan pangkatnya Letnan Jenderal. Artinya dia diberhentikan dengan hormat. Yang digembar-gemborkan itu hanyalah fitnah untuk menjegal Prabowo," tambah Sudrajat.

Pertemuan terbatas di T-More Hotel ini dihadiri Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta NTT, Esthon Foenay, para anggota DPRD NTT dari parpol koalisi Merah Putih dan tokoh-tokoh masyarakat seperti Gaspar Parang Ehok, Frans Kato dan Alex Ninu. Ratusan relawan Prabowo-Hatta juga turut hadir dalam pertemuan itu. (*/roy)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved