Oleh Max Regus, Pr
Omnes Vos Fratres Estis
MGR. Hubertus Leteng, yang akan ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng pada 14 April 2010, mengambil moto tahbisan, "Kamu Semua adalah Saudara" (Mat 23:8). Setahun sesudah meninggalnya Mgr. Eduardus Sangsun, Tuhan menganugerahkan seorang gembala umat yang baru untuk umat Keuskupan Ruteng. Gereja Lokal Keuskupan Ruteng yang meliputi Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat tepatnya tahun 2012 akan memasuki usia seabad.
Ini menandai pembaptisan pertama di Manggarai. Pada tanggal 17 Mei 1912, di Reo, Pater Henrikus Looijmans, SJ, membaptis orang Manggarai pertama dalam diri Katarina (Arbero), Henricus, Agnes Mina, Caecilia Weloe, dan Helena Loekoe.
Gereja Katolik Manggarai melewati beberapa periode penting, yaitu periode Awal Karya Misionaris SVD (1914-1920), Periode Sebagai Vikariat Apostolik (1951-1961), masa Episcopat Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD (1961-1972), Mgr. Vitalis Djebarus, SVD (1973-1981), dan Mgr. Eduardus Sangsun, SVD (1985-2008). Selama dua dekade terakhir, Keuskupan Ruteng berada dalam karya kegembalaan Mgr. Eduardus Sangsun. Sejak 3 Desember 1984 hingga 13 Oktober 2008. Ini bukan tahapan-tahapan sejarah yang terlepas satu dengan yang lainnya. Ada runtutan perkembangan, perubahan dan pertumbuhan kehidupan Gerejani yang signifikan. Mgr. Hubertus Leteng datang dari kompleksitas perubahan ini serentak diutus untuk menunjukkan perubahan itu ke arah kebenaran dan kebaikan.
Local wisdom
Pada tempat pertama, patut diberi catatan bahwa Mgr. Hubertus Leteng adalah seorang imam diosesan Keuskupan Ruteng pertama yang menjadi Uskup Ruteng. Ini bukan hanya berarti bahwa uskup baru ini adalah anak kandung Gereja Lokal Keuskupan Ruteng. Sebegitu jauh, sesungguhnya ada banyak makna yang tersimpan di dalamnya. Sesuatu yang berhubungan secara erat dengan dinamisme religius Gereja Kristus di wilayah ini. Ada pesan keberhasilan sekaligus tantangan yang besar ke depan.
Pertama, kisah keberhasilan. Ini merujuk pada cerita sukses kinerja luar biasa para misionaris perintis Gereja Manggarai selama seratus tahun ini. Pelayanan tanpa pamrih. Pelayanan dengan kerelaan. Pelayanan dengan ketulusan. Pelayanan yang suci. Para misionaris SVD dan beberapa tarekat lainnya yang bekerja luar biasa hingga sekarang ini merupakan subyek-subyek pastoral yang mendedikasikan tenaga mereka tanpa pamrih. Keberhasilan ini menyiratkan persambungan misi Gereja Lokal yang berkembang sinergis dengan semua 'kepelbagaian' yang terkandung di dalamnya. Tidak ada yang dikecualikan selain terbangunnya kebersamaan dalam kehendak baik untuk membangun umat dan masyarakat.
Kedua, penegasan tentang tantangan besar ke depan. Kepemimpinan kegembalaan baru di Keuskupan Ruteng niscaya menghirup suasana sosial, politik, ekonomi dan kultural yang semakin kompleks ke depan. Bukan hanya kebanggaan bahwa seorang anak kandung Gereja Lokal memimpin keuskupan terbesar di Indonesia. Lebih penting adalah kesadaran komunitas Gereja Lokal dalam kepemimpinan seorang Uskup untuk menyentuh kedalaman rahasia kehidupan umat.
Dulu tokoh seperti Uskup Wilhelmus van Bekkum, seorang misionaris SVD, tanpa segan berusaha mengangkat 'keunggulan lokal' dengan 'kearifan pastoral' yang sulit terbantahkan. Sebuah misi untuk melakukan transformasi kultur dan pemahaman dari 'Gereja Katolik di Manggarai' menuju kesadaran utama 'Gereja Katolik Manggarai.' Gereja Katolik yang menyatu dengan kultur dan kehidupan lokal. Gereja yang lahir dari praksis sosial yang ada. Gereja yang menumbuh dari suasana penuh keterbatasan dan kemiskinan. Sebuah keteguhan sikap untuk membangun praksis dan keberpihakan pastoral dari suasana lokal. Menghirup kekuatan transformatif dari sumber lokal. Ini merupakan kearifan lokal yang seharusnya selalu diutamakan dalam proses pstoral dan pembangunan.
Kapital spiritual
Pertanyaan penting mencuat dalam ranah ini. Bagaimana sebuah komunitas religius di dalam kebersatuan kegembalaan seorang uskup sanggup membangun Gereja Lokal yang semakin dewasa? Sepanjang dua dekade lebih kegembalaan Almarhum Mgr. Eduardus Sangsun, beliau mengundang umat untuk melaksanakan dua sinode. Dua momentum penting ini menjadi titik tolak keprihatinan pastoral Gereja Lokal Keuskupan Ruteng. Usaha strategis untuk merumuskan dan menggerakkan Gereja Lokal Keuskupan Ruteng sebagai komunitas umat beriman yang memiliki tanggung jawab internal dan eksternal (sosial) yang semakin matang. Ini digagaskan untuk mendorong kedewasaan dan kematangan Gereja Lokal dalam tiga simpul fundamental: mandiri, misioner dan memasyarakat.
Sinode pertama terjadi pada tahun 1994-1995, dengan puncaknya pada pada tanggal 22-26 November 1995. Sinode pertama diselenggarakan dalam tema, "Membangun Gereja Katolik Manggarai yang Mandiri, Misioner dan Memasyarakat Menuju Abad XXI." Proses sinode pertama ini menghasilkan Garis-Garis Besar Pedoman Kerja Keuskupan Ruteng 1996-2005. Sinode ini menekankan arah pastoral dalam berbagai bidang pelayanan seperti pewartaan, liturgi, kerasulan awam, sosial politik, pendidikan/pembinaan orang muda, pengembangan sosial ekonomi dan karitatif, pastoral keluarga dan kewanitaan, dan pengembangan komunitas religius dan panggilan. Sinode ini juga merumuskan imperatif pastoral yang harus dilaksanakan untuk mendukung program Gereja Lokal yang mandiri, misioner dan memasyarakat.
Sinode II dilaksanakan pada tahun 2006-2007. Sinode ini terutama terfokus pada refleksi menyeluruh atas keseluruhan pelaksanaan program yang dirumuskan sinode I. Ada banyak keberhasilan dan kekurangan dalam program pastoral. Sinode II dilaksanakan dalam tema "Bersatu Membangun Habitus Baru dalam Bimbingan Roh Kudus Menuju Gereja Keuskupan Ruteng yang Mandiri, Misioner dan Memasyarakat."
Dua sinode ini memiliki rangkaian argumentasi pastoral yang padu. Terlebih lagi ada proses pembenihan harapan hingga menghasilkan keselamatan untuk umat dalam lingkup Gereja Lokal Keuskupan Ruteng. Ini menjadi dasar spiritual yang sangat penting untuk memberikan energi rohani ke dalam geliat nafas praksis pastoral Gereja Keuskupan Ruteng. Sekaligus, sebuah kiritikan yang sangat penting bahwa di tengah kehidupan yang mementingkan kekuasaan, politik dan sumber daya ekonomi sebagai modal pembangunan,
Mgr. Hubertus Leteng yang seorang teolog spiritual menawarkan sebuah langkah alternatif konstruktif dalam menata kehidupan bersama di wilayah Manggarai. Spiritualitas adalah pintu masuk menuju perubahan. Langkah spiritualitas yang paling radikal itu ada dalam kerelaan meniti jalan pertobatan. Artinya, tanpa pertobatan sosial, politik dan rohani, Gereja Keuskupan Ruteng yang mencakup Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur akan tenggelam dalam kawah krisis sosial, kultural dan politik yang mematikan. Mgr. Hubertus Leteng adalah simbol dari 'kapital spiritual' (modal spiritual) yang mungkin semakin dianggap remeh di tengah centang perenang nafsu akan kekuasaan dewasa ini.
Liberasi-revolusioner
Namun, sesuatu yang perlu digemakan sejak awal bahwa basis spiritualitas sebagai salah satu modal pembangunan kemanusiaan tidak menghasilkan sikap dan pilihan tindakan pastoral menjauh dari kemiskinan dan kemelaratan yang menggenangi kehidupan manusia. Usaha melakukan transformasi spiritual seyogyannya menimbulkan efek sosial (politik) yang tegas. Bukan sebaliknya, terbekap dalam kesendirian yang beku. Sesuatu yang tidak memiliki persambungan aktif dengan degup jantung kehidupan sosial. Kapital spiritual adalah jalan menuju perubahan sosial masyarakat.
Kapital spiritual adalah cikal bakal munculnya gerakan revolusioner demi kemanusiaan. Ini mencuat dari keyakinan bahwa konstruksi sosial religius yang senantiasa memiliki kejernihan spiritual akan mampu tampil sebagai peluru yang merobek status quo politik kekuasaan yang menistakan setiap bentuk kehidupan. Energi spiritual yang memantul dari nubari individual dan komunal orang yang beriman seharusnya mengalirkan energi pembebasan kemanusiaan. Ini adalah sikap revolusioner di tengah padang gurun apatisme politik kekuasaan terhadap kemanusiaan, lingkungan hidup dan kebudayaan. Gereja Manggarai (masyarakat Manggarai) dalam konteks kapital spiritual tidak hanya berurusan dengan persoalan rohani melainkan melebur dalam proses liberasi-revolusioner agama untuk kemanusiaan dan peradaban.
Moto Omnes Vos Fratres Estis (Kamu Semua adalah Saudara) dalam permenungan pribadi saya, tentu tidak sama artinya dengan harmonisasi pemikiran dalam gerak pembangunan. Untaian kalimat dalam moto itu bukan juga kecenderungan untuk cari aman dan hanya mau menikmati yang aman-aman saja. Moto ini mendeskripsikan gerak sinergis menuju kebaikan. Saudara yang dimaksudkan di sini adalah setiap kehendak yang mengabdi kepada kebaikan dan kebenaran. Atau diungkapkan dengan bahasa lain, keyakinan ini bukan bersifat permisif-kompromistis dengan status quo keadaan sosial politik, melainkan kritis-merobek suasana umum yang merusakkan kehidupan. Omne Vos Fratres Estis adalah kegairahan religius baru untuk membenahi kehidupan bersama yang sedang mengalami kerusakan multidimensional di kawasan ini. *
Imam Diosesan Keuskupan Ruteng, Alumnus Pasca
Sarjana Departemen Sosiologi UI, tinggal di Jakarta