Oleh Kamilus Seran, Peminat masalah lingkungan, tinggal di Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, Ngada
Pahlawan Lingkungan Hidup
SECARA gamblang, judul tulisan ini mengandung tiga hal penting. Pertama, perihal kepahlawanan. Kedua, perihal lingkungan, dan ketiga adalah hal ikhwal kehidupan.
Pada 10 November yang lalu bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Mengenang para pahlawan berarti mengenang jasa-jasa mereka, perjuangan dan pengorbanan mereka yang tanpa pamrih di medan perang. Mereka pun dikenang karena semangat juang mereka untuk membela kehidupan banyak orang. Karena itu dapat dikatakan bahwa para pahlawan selalu dikenang dalam sejarah karena spiritualitas perjuangan, keberanian dan pengorbanan yang telah mereka tunjukkan. Pahlawan berarti pejuang yang gagah perkasa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata 'pahlawan' didefinisikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Mengacu pada definisi KBBI ini, saya berpendapat bahwa kata 'pahlawan' mengandung makna yang luas. Artinya, kata ini tidak hanya berarti orang-orang yang berani berkorban membela rakyat dan bangsa di medan perang. Dengan ini, pahlawan atau pejuang yang gagah berani dapat disandang pula oleh orang-orang yang berjuang dan berkorban tanpa pamrih demi kepentingan orang banyak, entah dalam bidang apa saja.
Dalam diskursus tentang dua hal yang lain, yakni lingkungan (alam) dan kehidupan, saya mendefinisikan 'pahlawan lingkungan' sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela lingkungan hidup atau pejuang yang gagah berani mempertahankan lestarinya lingkungan alam. Untuk konteks NTT khususnya dan Indonesia umumnya, sosok gagah berani seperti itu sulit dijumpai. Apalagi di NTT, sebagian rakyat dan pemerintah daerah tampaknya memilih industri tambang. Meski sebagian lain gigih berjuang menolak tambang di NTT.
Di tengah situasi memanasnya 'perdebatan - tak selesai' tentang industri tambang di NTT (Timor, Flores dan Lembata), beberapa daerah di NTT mulai kembali mengalami kekeringan dan kelaparan menjelang penghujung tahun 2009 ini. Bahkan beberapa penambang pun meregang nyawa karena tak kuasa menyelamatkan diri dari runtuhan tanah ketika sedang menambang mangan. Dalam 'perdebatan - tak selesai' itu, pihak yang menolak tambang berdalih bahwa aktivitas tambang kelak membawa petaka yang lebih besar bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Alasan ini menjadi argumen dasar bagi penolakan industri tambang emas dan mangan di NTT. Argumentasi tersebut diperkuat lagi dengan pertimbangan lain yaitu keuntungan industri tambang terkesan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Petaka yang kelak menimpa NTT (apabila aktivitas tambang tidak segera dihentikan) tidak lain adalah bencana alam seperti tanah longsor dan kekeringan yang berujung pada gagal panen yang terus-menerus.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa spiritualitas di balik perjuangan para penolak industri tambang di NTT pada prinsipnya adalah semangat membela lestarinya lingkungan hidup di NTT.
Motif perjuangan itu tak pernah surut ketika mereka berhadapan dengan pemerintah yang kerap mendukung industri tambang dengan argumentasi dasarnya adalah peningkatan pendapatan ekonomi daerah. Daya juang yang serupa dapat pula dilihat dalam sosok para petani yang tidak tahu-menahu tentang industri pertambangan, ketika orang tak hentinya berdebat tentang pertambangan di NTT. Mereka justru lebih militan (gigih) membela lingkungan hidup, bukannya dengan demonstrasi penolakan industri tambang di pinggir jalan.
Mereka justru 'menolak' eksploitasi alam dengan aksi lain yang lebih mulia, yakni dalam diam, mereka (para petani) terus menanam. Sungguh pantas, jika mereka disebut sebagai 'pahlawan lingkungan hidup'. Mereka disebut pahlawan karena kegigihan dan keberanian mereka yang menonjol dalam hal menanam dan mempertahankan lestarinya lingkungan hidup
Ketika menyebut frase 'pahlawan lingkungan hidup', pikiran saya langsung merujuk sosok berambut uban dan berwajah keriput, namun masih ulet dan setia menanam tumbuhan mangrove di pesisir pantai Ndete-Magepanda. Dia adalah bapak Viktor Emanuel Rayon (Akong). Pada tanggal 5 Juni 2009 yang lalu, Akong berhak menyandang gelar 'pahlawan lingkungan hidup' (perintis lingkungan) sesudah menyisihkan ratusan pesaingnya di seantero tanah air. Karena itu, dia pun berhak menerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden RI.
Meski merasa bangga ketika menerima penghargaan tersebut di Jakarta, awalnya Akong tidak pernah membayangkan bahwa perjuangannya kelak menghantarnya ke Jakarta untuk bertemu Presiden SBY dan menerima penghargaan tersebut. Sejak awal perjuangannya pasca bencana tsunami Maumere 1992, bersama istrinya (Ibu Anselina Nona), ia hanya punya tekad untuk membangun kembali lingkungan hidup pantai yang telah hancur diterjang bencana tsunami. Bahkan demi tekadnya itu, ia rela menjual kalung-nikahnya untuk membeli anakan mangrove.
Hasil dari perjuangannya yang tulus namun dicibir oleh sesamanya itu adalah 23 ha mangrove kini membentang sepanjang Pantai Ndete. Ribuan burung pun menjadikan hutan mangrove ini sebagai habitatnya.
Citra diri dan semangatnya yang demikian militan turut menghantar Eman Hayon dan Mikhael Yosviranto menjadi sang juara dalam ajang EADC MetroTV 2008. Dalam ajang kompetitif ini, Eman dan Anto memilih Akong sebagai subyek dalam skrip film dokumenter mereka yang berkisah tentang perjuangan seorang perintis lingkungan. Film dokumenter itu diberi judul Prahara Tsunami Bertabur Bakau (PTBB). Akong pun diundang menjadi tamu khusus dalam program Kick Andy di MetroTV. Pada gilirannya, Andy Flores Noya (Host dalam program Kick Andy) menganugerahi Akong Kick Andy Award Bidang Lingkungan Hidup.
Berinspirasikan keberanian dan pengorbanan sosok yang tekun merintis lingkungan hidup ini, saya hendak menggarisbawahi dua hal berikut. Pertama, menjadi pahlawan berarti rela menjadi pelawan. Sepanjang perjuangannya menghijaukan wilayah pesisir Pantai Ndete-Magepanda (Maumere), Akong tidak jauh dari upaya 'melawan'. Berdasarkan apa yang ia tuturkan (dalam Film Dokumenter PTBB dan juga dalam wawancara penulis), sekurang-kurangnya ada tiga hal yang mesti ia lawan; lawan mental masyarakat sekitar yang konsumtif, lawan tantangan ekonomis, lawan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam ketakberdayaan finansial untuk mengadakan anakan mangrove, ia mesti melawan masyarakat yang bermental konsumtif (baca: tidak produktif) dan suka mencibir usahanya menanam bakau. Dalam perjalanan melestarikan hutan mangrove, ia pun mesti melindungi mangrove dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab (merusak lingkungan pantai). Bahkan ketika ia muncul di program Kick Andy MetroTV, ada lagi pihak yang melayangkan surat gugatan terhadap dirinya dan Eman Hayon kepada Panitia Penyelenggara EADC MetroTV, bahwa bakau di pesisir Pantai Ndete bukanlah hasil jerih payah Akong.
Di hadapan semua tantangan itu, Akong tidak mundur selangkah pun. Sekarang, di masa tuanya ia tetap giat melakukan pembibitan dan secara intensif menanam mangrove. Bahkan tak sedikit pula pihak yang meminta kesediaannya mengadakan anakan mangrove dan memberikan sosialisasi mengenai teknik menanam mangrove.
Kedua, menjadi pahlawan berarti menjadi 'investor kehidupan'. Istilah ini saya gunakan untuk merujuk pada modal kehidupan yang diusahakan oleh setiap orang yang menanam pohon. Secara khusus sosok Akong sebagai petani mangrove. Ada pepatah dari negeri Cina yang relevan dengan hal ini. Kalau ingin hidup satu tahun, tanamlah jagung; kalau ingin hidup sepuluh tahun, tanamlah pohon; dan kalau ingin hidup seumur hidupmu, tempuhlah jalan pendidikan. Para petani yang suka menanam pohon, patut disebut 'investor kehidupan' karena aktivitasnya yang mulia itu berperan untuk menyediakan kehidupan bagi banyak orang secara langsung.
Tindakan menanam pohon, misalnya turut memberi sumbangan bagi upaya memerangi global warming. Selain itu, aktivitas menanam mangrove seperti yang digiatkan oleh Akong secara langsung melindungi masyarakat pesisir pantai dari bencana seperti abrasi dan tsunami.
Akhirnya, dengan uraian sederhana ini, saya hendak menegaskan bahwa tindakan Akong yang pernah dicibir sesamanya, yakni menanam mangrove sepanjang Pantai Ndete, merupakan sebuah 'sekolah dasar' tentang bagaimana menangani bencana di zaman global warming ini. Masyarakat patut dipandang sebagai basis manajemen bencana alam, ketika kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan berbagai LSM mulai merosot. *