Dua Tahun Perjalanan Kasus Novel Baswedan, Ini Sejumlah Kejanggalan Yang Ditemukan

Kepada Time, Novel menyebut motif penyerangan yang dialaminya karena sejumlah kasus tindak pidana korupsi yang sedang ditanganinya.

Editor: Hasyim Ashari
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). 

2 Tahun Kasus Novel Baswedan, Ini Sejumlah Kejanggalan Yang Ditemukan

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan hari ini genap dua tahun menderita kerusakan mata kiri akibat penyiraman air keras oleh dua orang tidak diketahui identitasnya pada 11 April 2017.

Serangan diterima Novel saat dirinya berjalan pulang, usai menunaikan salat Subuh di Masjid Al-Ikhsan, dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kepada Time, Novel menyebut motif penyerangan yang dialaminya karena sejumlah kasus tindak pidana korupsi yang sedang ditanganinya.

Prabowo Usap Air Mata dengar Permintaan Ustadz Abdul Somad Jika Dirinya Jadi Presiden

Kronologi Surat Suara Tercoblos di Selangor Malaysia hingga Tim Prabowo Sandi dan KPU Kirim Tim

Berbagai upaya telah ditempuh, termasuk langkah hukum untuk mengusut kejadian ini. Namun, dua tahun berlalu tak satu pun ada titik terang yang diperlihatkan kepolisian.

Identitas penyerang masih menjadi teka-teki, apalagi otak penyerangan yang keberadaannya masih merasa aman dari jangkauan aparat hukum.

Wajar jika kemudian banyak pihak, termasuk Novel sebagai korban, mencurigai banyak kejanggalan terjadi dalam pengusutan kasusnya.

Berdasarkan catatatan media, berikut sejumlah kejanggalan penanganan kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan:

Tak ada sidik jari di alat bukti

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, tidak ditemukan adanya sidik jari pada cangkir berisi sisa air keras yang ditemukan di lokasi penyerangan.

Inilah 5 Tanda-tanda Awal Penyakit Diabetes, Bisa Dicegah Sebelum Parah!

Tangkal Radikalisme dan Terorisme, BNPT dan FKPT Bentuk Perempuan Agen Perdamaian di Kupang

Sidik jari yang semestinya bisa menjadi petunjuk untuk menemukan pelaku, disebut hilang karena cangkir yang ditemukan dalam kondisi basah.

"Sidik jari memang tidak ada atau tidak ditemukan di dalam botol atau gelas yang ada," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 31 Juli 2017, saat melakukan konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Karena basah, serbuk yang digunakan oleh kepolisian sebagai alat pengungkap, tidak dapat bekerja dengan baik.

"Saat akan di-swipe menggunakan serbuk, di situ masih basah sehingga sidik jarinya menjadi hilang dan serbuknya tidak bisa membaca sidik jarinya," ujar Tito.

BREAKING NEWS: Warga Malaka NTT Tewas Usai Banting Diri di Lantai dan Dinding Rumah

BREAKING NEWS: Mahasiswa di Kupang Tega Hamili Siswi SMP Anak Calon Kakak Ipar

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menduga pelaku menggunakan sarung tangan saat melakukan aksinya, sehingga tidak ada jejak sidik jari yang tertinggal.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved