Berita Internasional

Lampaui Amerika Serikat, China Kembangkan Sistem Pertahanan yang Bisa Tangkal Rudal Hipersonik Rusia

Seorang ilmuwan China mengklaim tengah mengembangkan sistem pertahanan yang bisa menahan jenis rudal apa pun.

Lampaui Amerika Serikat, China Kembangkan Sistem Pertahanan yang Bisa Tangkal Rudal Hipersonik Rusia
TASS/Alexei Nikolsk
Jet tempur Mikoyan MiG-31 membawa rudal penjelajah Kinzhal yang diklaim merupakan senjata hipersonik Rusia. 

POS-KUPANG.COM | BEIJING - Seorang ilmuwan China mengklaim tengah mengembangkan sistem pertahanan yang bisa menahan jenis rudal apa pun.

Kepada harian Partai Komunis The Global Times, seperti dilansir Kompas.com, Qian Qihu mengatakan pertahanan itu berada di bawah gunung, dan bernama "Tembok Besar Baja di Bawah Tanah".

Newsweek memberitakan Senin (14/1/2019), Qian berujar sistem itu bisa menahan rudal hipersonik yang tak bisa dicegat sistem pertahanan manapun, termasuk pertahanan Amerika Serikat sekalipun.

Adapun Qian merupakan ilmuwan yang pekan lalu menyabet penghargaan prestisius sains dan teknologi karena kontribusinya atas pertahanan nasional.

Peneliti 82 tahun tersebut adalah purnawirawan jenderal bintang dua yang menjadi anggota Akademi Sains China maupun Akademi Teknik Mesin China.

Kontur pegunungan yang tangguh dilaporkan bisa menangkal senjata konvensional untuk menembus markas yang berada di dalamnya.

Meski begitu, Qian menjelaskan dia melakukan pengembangan teknologi di mana markas maupun fasilitas rahasia negara tidak akan bisa ditembus rudal hipersonik tersebut.

Pertahanan itu, lanjut Qian, harus mampu menahan serangan dari rudal lima kali kecepatan suara jika sistem pertahanan manapun tak bisa menghentikannya.

"Perkembangan pertahanan tentu harus sejalan dengan perkembangan tombak. Teknisi pertahanan kami telah menyesuaikan tantangan baru," puji Qian.

Nasib Dosen Politani Kupang Selingkuh Belum Diputuskan, Usai Disidang Bikin Pengakuan ini

Liga Indonesia 2019 Babak 32 Besar Akan Dimulai 22 Januari 2019

Kasus Korupsi Walikota Cup Kupang, Polisi Tinggal Tunggu Hasil Audit BPKP

Dia menjelaskan penelitiannya akan "Tembok Besar" terjadi buntut kondisi geopolitik yang tidak stabil antara China, Rusia, hingga Amerika Serikat (AS).

Halaman
1234
Penulis: Agustinus Sape
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved