Berita NTT Terkini
Hadapi Tahun Politik, Lucius Karus Paparkan Strategi Rasional Bagi Rakyat NTT untuk Pemilu
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi), Lucius Karus memaparkan strategi rasional bagi rakyat NTT untuk menghadapi pemilu.
Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Menghadapi tahun 2019 yang merupakan tahun politik bagi rakyat Indonesia, Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi), Lucius Karus memaparkan strategi rasional bagi rakyat NTT untuk menghadapi pemilu.
Dihubungi POS-KUPANG.COM via aplikasi WhatsApp pada Kamis (3/12/2019) siang, ia mengungkapkan secara nasional di tahun 2019 rakyat Indonesia termasuk rakyat NTT secara serentak memilih Presiden dan Wapres, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Dikatakannya, keserentakan pemilihan umum tak pelak menyita waktu dan energi masyarakat tak terkecuali di NTT. Betapa tidak, selain dua paslon presiden dan wakil presiden, pemilih masih harus menghadapi begitu banyak nama caleg yang diusung oleh 16 parpol nasional yang akan memperebutkan kursi DPR, DPRD Propinsi, dan DPRD Kab/Kota. Selain caleg-caleg tersebut, pemilih masih harus berhadpaan dengan nama-nama caleg untuk DPD.
• PSK Ini Pasrah Lokalisasi Karang Dempel Ditutup, Tapi Minta Pemkot Pikirkan Nasib Mereka
Demi mengatasi kebingungan tersebut, lanjut Lucius, harus ada strategi yang rasional dari rakyat NTT.
Strategi rasional dari rakyat pertama menurut Lucius, tentu dengan memastikan calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih.
"Bagaimana membuat pertimbangan dalam menentukan paslon capres-cawapres ideal?," ungkapnya.
• Pasar Alok di Maumere Makin Semrawut dan Jorok
Dalam konteks NTT, kata Lucius, prinsip dasar adalah latar belakang paslon. Latar belakang ini bisa terkait dengan track record figur yang menjadi calon presiden dan wakil presiden. Bisa juga terkait latar belakang partai pengusung beserta ideologi yang dibawa Partai-partai.
"Kita bisa dengan mudah menemukan rujukan di media massa dan sosial terkait latar belakang paslon dan partai-partai pengusung tersebut," ujarnya.
Provinsi NTT, jelas Lucius, pasti membutuhkan pimpinan nasional yang tak menikmati keuntungan dengan memainkan politik identitas sebagai jalan pintas meraih kemenangan.
NTT membutuhkan paslon presiden dan wakil presiden yang menghargai pluralisme dan tak memanfaatkan agama untuk politik.
Menurutnya, profil paslon presiden dan wakil presiden beserta parpol pendukung masing-masing harus menjadi rujukan mendasar dalam menentukan pilihan.
Selain itu, NTT dengan kekhasan identitasnya merupakan daerah yang paling dirugikan oleh kampanye dengan menjual identitas agama untuk sekedar meraih kursi kekuasaan. NTT membutuhkan paslon dan parpol pendukung yang menghargai perbedaan dan tidak memanfaatkan perbedaan itu untuk memperoleh kemenangan politik.
"Oleh karena itu saya kira pilihan strategis NTT adalah Paslon dan Partai yang tak sibuk memanipulasi identitas sekedar bisa menang," tegasnya.
Strategi rasional dari rakyat kedua, jelas Lucius, konsisten dengan kriteria untuk pilpres di atas, pileg juga mesti selaras dengan pertimbangan di atas.
Prioritas rakyat NTT harus terarah pada caleg-caleg yang partai asalnya tidak termasuk dalam list partai penjual politik identitas untuk meraih kemenangan.