Jumat, 12 Juni 2026

Oleh Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo

Selalu Ada Babak Baru

HIDUP menghadirkan kepada kita dua pilihan tak terhindarkan: pengalaman suka dan duka,

Tayang:
Editor: Sipri Seko
zoom-inlihat foto Selalu Ada Babak Baru
Eben Nuban Timo

HIDUP menghadirkan kepada kita dua pilihan tak terhindarkan: pengalaman suka dan duka, kemenangan dan kekalahan, tawa dan tangis, mata air dan air mata. Manakala suka dan bahagia datang, kita merasa waktu yang tersedia bagi kita begitu singkat. Sementara ketika giliran air mata dan duka menjadi bagian kita, terasa waktu berjalan sangat lama. Jadi, apa sikap kita menghadapi kedua realita ini?

Gereja dan umat kristen seantero jagad, sedang menjalani masa-masa pra paskah, atau yang dalam tradisi perenungan gereja disebut quadragessima, masa empat puluh hari. Selama rentang waktu ini, fokus pemberitaan gereja adalah pada kesengsaraan, penderitaan dan kematian Yesus. Untuk merenungkan peristiwa sukacita, yakni Natal gereja hanya melakukannya selama 4 minggu adventus.

Sementara untuk penderitaan dan kematian, waktunya begitu lama. Tujuh minggu jumlahnya. Apa maksud semua ini?

Buku pertama dari kitab suci orang Kristen dan orang Yahudi adalah Kejadian. Kitab itu berisi tentang permulaan segala sesuatu: baik permulaan langit dan bumi maupun permulaan sejarah keselamatan atau hikayat perjanjian yang Tuhan Allah adakan dengan manusia, termasuk juga permulaan penderitaan, yang oleh kitab Kejadian disebabkan oleh kejatuhan dalam dosa.

Orang kristen menyebut nama buku pertama itu: Kejadian. Sedangkan orang Yahudi menamakannya: Pada Mulanya. Nama ini diambil dari kata pertama yang ada di awal kitab itu. Ini memang kebiasaan orang Yahudi. Lima buku pertama dari kitab suci mereka sebut menurut kata pertama dari masing-masing kitab itu. Jadi nama Yahudi dari kelima buku pertama dari kitab suci kristen adalah: Pada Mulanya untuk kitab Kejadian, Inilah Nama-Nama untuk kitab Keluaran, Tuhan Memanggil sebagai nama untuk kitab Imamat, Di Padang Gurun adalah nama kitab Bilangan, dan Inilah Firman-Firman menjadi nama kitab Ulangan.

Sekarang kita perhatikan buku pertama: kitab Kejadian atau kitab Pada Mulanya. Hanya ada satu permulaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, tetapi permulaan yang satu itu terdiri dari tiga babak. Babak pertama berisi cerita tentang permulaan segala sesuatu. Itulah yang kita baca dalam hikayat jadinya langit dan bumi. Babak kedua dari permulaan itu kita baca dalam cerita Nuh dan keluarganya. Itu bercerita tentang tindakan Allah membaharui bumi yang mengalami kerusakan berat akibat dosa. Babak ketiganya adalah pemilihan Allah terhadap Abram untuk menjadi sahabat Allah membangun satu imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah demi menjadikan pembaharuan bumi yang dilakukan bersama Nuh menjadi milik semua kaum di bumi.

Kitab suci orang kristen terdiri dari 66 buku. Baru saja kita membaca buku yang pertama, kita sudah menemukan hal tentang Allah yang mengejutkan dan membawa sukacita, yakni pada Allah dan hidup bersama Allah selalu ada permulaan- permulaan baru. Memulai sesuatu secara baru merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Apalagi pengulangan itu harus dilakukan beberapa kali. Tetapi itulah yang Allah buat bagi kita dan untuk keselamatan kita.

Hidup memang dipenuhi dengan banyak pengalaman menyakitkan. Terkadang kita menangis karena terluka, kita tidak berdaya akibat tekanan berat dan betapa sering kita gagal dalam satu usaha. Memulai kembali usaha itu secara baru? Kita biasanya menganggap pilihan itu sebagai tanda kelemahan dan kekalahan. Dari pada memulai kembali secara baru, kita lebih suka mengerjakan sesuatu yang sama sekali baru.

Jelasnya, memulai sesuatu secara baru, bukanlah pilihan yang biasa bagi kita. Tetapi apa yang tidak kita sukai itu, justru menjadi pilihan Allah. Pada Allah dan bersama Allah selalu ada babak-babak baru yang terbuka dalam setiap kegagalan atau kehancuran. Allah tidak ingin ciptaan yang merupakan buah dari cinta kasihNya gagal ambil bagian dalam keselamatan yang sudah Dia sediakan. Allah mengambil jalan yang tidak disukai manusia. Dia siap menderita di tempat manusia dan bersama-sama manusia. Dengan ambil bagian dalam penderitaan dan air mata manusia, air mata itu dapat diubah menjadi mata air yang memberi kehidupan.

Allah tidak meniadakan air mata dengan menghindar, tetapi dengan menghadapi air mata itu. Allah bukan pribadi yang suka menjaga image (jaim) karena itu menghindar dari keadaan yang dianggap merusak imagenya. Demi keselamatan manusia, Allah masuk dalam derita manusia supaya bisa membawa manusia keluar dari derita dan air mata itu. Apophatisme, kenosis merupakan jalan yang dipilih Allah demi menyelamatkan kita dari kematian. Inilah yang kita temukan dalam kitab Pada Mulanya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan penciptaan dalam enam hari, Allah mendahului manusia masuk ke dalam sabat. Di sana Ia menunggu manusia: Adam dan "Hawa memimpin segenap ciptaan datang kepadaNya untuk mengembalikan kemuliaan, hormat dan kuasa kepadaNya. Ternyata, manusia tidak melakukan itu. Yang manusia buat adalah hidup begitu rupa seolah-olah kemuliaan, kuasa dan hormat itu adalah miliknya dan tertuju kepadanya. Manusia mau menguasai segala sesuatu, termasuk yang ada di tengah-tengah taman di Eden.

Akibatnya dosa dan kejahatan mulai menguasai bumi. Dosa berlipat ganda sangat cepat. Dalam kejadian 6:11 disebutkan bahwa bumi itu telah rusak dan penuh dengan kekerasan. Manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Seluruh ciptaan bergerak mengarah ke jalan buntu, manusia adalah pemimpinnya.  

Untuk memulihkan itu, Allah mengakhiri babak pertama dan memulai babak kedua bersama Nuh dan keluarganya. Setelah air bah, sejarah mengalami lagi kegagalan. Orang-orang yang selamat dari air bah bukannya mempermuliakan Allah. Mereka berkumpul di Sinear untuk membangun sebuah menara dengan maksud untuk mencari nama, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 11:4, bukannya memberitakan dan mempermuliakan nama Allah. Dua kali manusia gagal mengerjakan tugas dan hidup sesuai dengan panggilannya.

Tapi Allah tidak mau kegagalan manusia itu merusak rencanaNya atas manusia. Maka Allah mengambil inisiatif baru. Babak ketiga dari permulaan dibuka lagi oleh Allah. Abram dan Sarai menjadi mitra bagi Allah pada babak ini.

Allah belum mengucapkan kata terakhir betapapun manusia suka mengakhiri semua yang ia terima dari Allah. Pada Allah selalu ada kesempatan baru, babak baru dan permulaan baru. Menghadapi keadaan yang rusak dan kehidupan yang terperosok dalam kebinasaan, Allah selalu menawarkan peluang, kesempatan dan kemungkinan baru. Allah melakukan itu dengan maksud menolong kita untuk menjalani hidup dengan cara-cara yang baru.

Hidup memang menawarkan kepada kita banyak kesulitan, duka, air mata dan penderitaan. Kita tidak boleh putus asa dan berhenti berusaha. Kita tidak boleh terus meratapi nasib, mengeluhkan keadaan sekitar dan membiarkan diri kalah. Kita harus bangkit dan berbenah diri untuk menjalani babak-babak baru yang Tuhan Allah buka bagi kita. Permulaan yang Tuhan sediakan bagi kita belum berakhir. Permulaan itu, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab kejadian terdiri dari banyak babak.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved