Sabtu, 13 Juni 2026

Oleh Elias Bere Klau

Harus Berani Mulai

HARIAN Umum Pos Kupang edisi Kamis (1/7/2010) menampilkan sebuah judul berita yang menarik. "Kemampuan Karya Ilmiah Guru Rendah". Selanjutnya dalam lead berita itu tertulis: "Kemampuan para guru di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam penulisan karya ilmiah masih rendah".

Tayang:

Judul tersebut minimal menyiratkan dua hal sekaligus. Di satu tepi judul tersebut mengejutkan banyak kalangan, namun pada tepi yang lain ia justru menantang. Masyarakat terkejut sebab fakta ketidakmampuan menulis karya ilmiah justru terjadi di kalangan para guru yang saban hari berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Guru yang mendidik dan mengajar peserta didik bagaimana merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat serta kalimat menjadi alinea dan seterusnya. Mereka yang mengeksplorasi potensi peserta didik serta memaksimalkan kesanggupan siswa untuk mengenal berbagai pungtuasi semisal tanda koma (,), tanda titik (.), tanda tanya (?), tanda seru (!) dan aneka tanda baca lainnya.

Tugas mahaluhur ini pada dasarnya bertautan erat dengan upaya pembentukan karakter serta pembiasaan (baca: tradisi) membaca dan menulis di kalangan siswa. Oleh sebab itu para guru seharusnya menjadi pemikir yang ulung dan penulis yang handal dibandingkan dengan profesi lainnya. Akan sangat menyedihkan bila kenyataan rendahnya kemampuan penulisan karya ilmiah terjadi justru di kalangan guru bidang studi bahasa Indonesia. Adalah sangat naif jika di sekolah-sekolah masih terdapat guru bidang studi bahasa yang tidak bisa menulis karya ilmiah. Idealnya guru bidang studi bahasa harus memiliki kemampuan dan keterampilan ekstra dalam menulis karya ilmiah. Jika tidak maka itu merupakan berita duka yang paling mengejutkan dunia pendidikan kita.

Selain mengejutkan, sinyalemen seputar persoalan masih rendahnya kemampuan para guru dalam menulis karya ilmiah juga merupakan tantangan yang perlu disikapi secara kreatif. Dengan mencermati statemen Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT sebagaimana dirilis Pos Kupang, para guru harusnya merasa tertantang, bahwa "sejak tahun 2008 hingga 2010 ada 53 orang guru golongan (IV/a) yang mengajukan karya ilmiah untuk dinilai oleh team penilai pusat namun hanya 18 karya ilmiah yang dinyatakan layak."

Pernyataan di atas sesungguhnya tidak saja mengafirmasi realitas faktual yang sedang terjadi hic et nunc (kini dan di sini), tetapi juga menantang serta memicu keberanian para guru untuk mulai menulis, meskipun menulis itu sendiri merupakan muara dari membaca dan berdiskusi. Francis Beacon, seorang filsuf berkebangsaan Inggris pernah melecutkan tesisnya dengan berujar: "membaca membuat orang jadi penuh (kaya ide), berdiskusi membuat orang jadi siap (terampil), dan menulis membuat orang jadi cermat (arif)." Kalau memang demikian, mengapa para guru enggan dan tidak berusaha maksimal untuk memulai?

Data yang didapatkan di lapangan justru menyingkapkan banyak soal terkait dengan keengganan para guru untuk menulis karya ilmiah. Sebagai pengawas pendidikan, setiap kali mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah kami selalu memotivasi para guru yang sudah memiliki pangkat/golongan (IV/a) untuk menulis karya ilmiah sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat. Tetapi apa jawaban mereka? Ada yang dengan polos dan terus terang mengaku kalau mereka tidak bisa menulis. Yang lain mengatakan sudah putus asa karena beberapa kali mengirim karya tulisnya kepada team penilai pusat namun tidak pernah lolos.

Memang secara sepintas semua jawaban yang dikemukakan cukup masuk akal. Namun sebagai tenaga fungsional penulisan karya ilmiah tetap menjadi unsur yang penting. Untuk itu pertanyaan logis yang dapat dimunculkan di sini adalah: Bagaimana caranya supaya orang bisa menulis karya ilmiah? Ada beberapa langkah konkret yang mesti dilewati, yakni membiasakan diri untuk membaca (menyimak), melibatkan diri secara aktif dan kreatif dalam berbagai even diskusi, dan terakhir harus berani memulai (menulis).

Pertama, "menulis karya ilmiah akan menjadi gampang jika Anda membiasakan diri untuk membaca" (Harefa, 2003:48). Sebab itu jadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Kata orang bijak, membaca merupakan ciri masyarakat beradab. Untuk itu membaca harus menjadi langkah awal bagi siapa saja yang ingin berkelana di rimba raya ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah perampok ilmu pengetahuan dengan membaca, berdiskusi dan menulis. Tanpa itu semua orang akan menjadi hybrid, kerdil dan sulit untuk berkembang selaras zaman. Tumbuhkan di dalam diri Anda prinsip "tiada hari tanpa membaca" sehingga tidak ada waktu yang terlewatkan dengan sia-sia.

Kedua, berdiskusilah dengan sesama teman mengenai topik yang menurut Anda menarik dan layak dijadikan karya tulis ilmiah. Tentu saja sebelum diskusi tetapkan terlebih dahulu topik yang hendak didiskusikan. Minimal pilihan topik harus relevan dengan tugas pokok Anda sebagai guru. Ketiga, jika Anda sudah banyak membaca dan berdiskusi serta pikiran pokok yang akan dikemas menjadi tulisan ilmiah sudah ditetapkan, sekarang tiba saatnya bagi Anda untuk mulai menulis. Namun perlu diingat, judul tulisan harus menarik. Isinya pun harus menggambarkan suatu masalah. Dan masalah yang diangkat tidak boleh terlalu sukar. Ketiga langkah konkret di atas harus dimulai oleh guru sendiri secara kreatif. Boleh dengan modifikasi di sana-sini sesuai situasi konkret di lapangan. Karena tidak ada satu pun kekuatan eksternal yang dapat membantu Anda untuk mulai menulis jika Anda sendiri tidak berani memulai. Semuanya kembali kepada komitmen dan tekad masing-masing orang.

Akhirnya, kuncinya cuma satu, yakni harus berani memulai. *


PNS pada Kantor Kementerian Agama Kota Kupang

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved