Sumba Timur Terkini
Kekerasan Seksual di Sumba Timur Bukan Dipicu Rendahnya Pendidikan
Anggota Sabana Sumba, Rambu Ana Intan, menyampaikan keprihatinannya atas maraknya kasus kekerasan seksual yang dialami generasi muda di Sumba Timur.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Aktivis kemanusiaan, Rambu Dai Mami menegaskan bahwa, rendahnya tingkat pendidikan bukan lagi menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Sumba Timur.
Direktur Yayasan Sabana Sumba itu mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir dirinya bersama tim menerima laporan dan mendampingi korban kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
Ia mengatakan, para pelaku berasal dari berbagai latar belakang. Ada tenaga kependidikan, guru, dan yang terbaru ada dugaan dosen di kampus Unkriswina Sumba yang melecehkan mahasiswinya. Saat ini kasus tersebut sedang diselidiki oleh Satgas PPKPT kampus tersebut.
“Selama ini, kalau ada berita kekerasan seksual, orang selalu bilang karena tidak berpendidikan. Sekarang pelakunya adalah pendidik, dan beberapa kasus lainnya belum terungkap. Ini artinya bukan faktor pendidikan,” kata dia kepada POS-KUPANG.COM, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Pemuda 20 Tahun di Waingapu Sumba Timur Ditangkap Polisi Usai Mencuri Sepeda Motor
Ia menegaskan, kekerasan seksual adalah persoalan perilaku, bukan soal tingkat pendidikan seseorang.
Rambu juga menyoroti perilaku netizen di media sosial. Menurut dia, ketika pelaku merupakan orang yang berpendidikan, mereka cenderung dibela dan bahkan diberi penguatan.
Di sisi lain, hal itu justru menambah luka bagi korban kekerasan seksual.
Ia menyebutkan, tidak sedikit netizen memberikan komentar terkait kekerasan seksual yang dialami korban seperti "atas dasar suka sama suka", "kenapa diam dan tidak berteriak" dan "kan tinggal tinggal urus adat kalau sudah terjadi".
“Diharapkan semua pihak bekerja sama menyelesaikan persoalan ini. Bukan malah memberikan penguatan kepada pelaku, dan menambah luka bagi korban. Itu yang terjadi di media sosial terkesan menormalisasi kekerasan yang terjadi,” ungkapnya.
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Polres Sumba Timur, tokoh agama, dan tokoh masyarakat lebih meningkatkan perhatian terhadap kasus kekerasan seksual.
Pentingnya Beradat
Anggota Sabana Sumba, Rambu Ana Intan, menyampaikan keprihatinannya atas maraknya kasus kekerasan seksual yang dialami generasi muda di Sumba Timur.
“Memprihatinkan,” ujarnya.
Ia menyesalkan para pendidik yang telah menempuh pendidikan tinggi, yang semestinya mengajarkan nilai-nilai baik, justru terlibat dalam tindakan yang merusak masa depan generasi muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rambu-Dai-Mami-dan-Rambu-Intan.jpg)