Rabu, 27 Mei 2026

Ende Terkini

Satpol PP Ende Usir PKL dan Bengkel Tambal Ban di Bekas Lapak Ndao yang Digusur 

Puluhan aparat yang sebelumnya sedang melakukan penertiban di Pasar Mbongawani, tiba-tiba bergerak menuju eks lapak PKL di Pantai Ndao.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Sebuah bengkel tambal ban dan pemilik dua lapak dagangan sederhana yang beroperasi sementara di bekas lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) di Sempadan Pantai Ndao yang telah digusur beberapa waktu lalu, Jumat (22/5/2026). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo 

POS-KUPANG.COM, ENDE - Pemilik bengkel tambal ban dan pemilik dua lapak dagangan sederhana yang beroperasi sementara di bekas lapak pedagang kaki lima (PKL) di sempadan Pantai Ndao yang telah digusur beberapa waktu lalu diusir oleh petugas Sat Pol PP Kabupaten Ende, Jumat (22/5/2026).

Aksi itu disebut berdasarkan perintah Bupati Ende yang tidak menginginkan adanya aktivitas apapun di eks lapak PKL yang rencananya akan dibangun taman terbuka hijau tersebut.

Puluhan aparat yang sebelumnya sedang melakukan penertiban di Pasar Mbongawani, tiba-tiba bergerak menuju eks lapak PKL di Pantai Ndao.

Di eks lapak PKL Ndao, aparat meminta agar pemilik bengkel tambal ban dan dua lapak PKL sederhana yang beroperasi di lokasi itu pindah dan jangan melakukan aktivitas di lokasi itu.

Bengkel tambal ban tanpa tenda dan hanya menyimpan alat-alat perbengkelan di bawah sebuah pohon besar itu diminta untuk tidak lagi beroperasi di lokasi itu.

Begitu juga dengan dua buah lapak PKL yang hanya menggunakan tenda darurat juga diminta untuk tidak berjualan dilokasi itu.

Azhar Alwinudin, pemilik bengkel tambal ban mengatakan, dirinya membuka bengkel di lokasi itu hanya sementara waktu sambil menunggu Pemerintah Kabupaten Ende membangun taman terbuka hijau.

Pekerjaan itu merupakan cara Azhar mencari nafkah untuk keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Penghasilan yang ia dapatkan dari usaha bengkel tambal ban di lapas itupun tak seberapa, hanya berkisar Rp 30-40 ribu/hari.

Baca juga: Pedagang Pasar Mbongawani Kucing-kucingan Dengan Sat Pol PP Ende

"Saya buka bengkel ini saya buka setiap hari untuk cari makan, untuk anak sekolah, satu hari itu hanya bisa dapat Rp 30-40 ribu, buat makan hari-hari, Pak Bupati kasihanilah kami masyarakat kecil, kan bangun taman kan belum jadi kami cari makan untuk sementara disini, kalau besok lusa sudah bangun, kami keluar," tutur Azhar.

Bengkel tambal ban milik Azhar yang baru beroperasi satu Minggu itupun dipaksa harus pindah ke lokasi lain.

Permintaan yang samapun disampaikan dua pedagang PKL yang berjualan di lokasi itu.

Mereka mengaku, banyaknya kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan dan biaya cicilan yang memaksa mereka kembali berjualan sementara di lokasi itu dengan tenda darurat.

"Ini hanya sementara saja, bukan permanen, kami pakai terpal seadanya, kasian kami, buat makan, biaya sekolah anak, bayar koperasi setiap hari, kalau pemerintah sudah mau bangun, kami pindah," ujar Sales, seorang bapak-bapak PKL.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved