Jumat, 10 April 2026

Ngada Terkini

Pelayanan RSUD Bajawa Kembali Disorot, DPRD Ngada Panggil Manajemen

Petugas IGD sempat melakukan pemeriksaan awal dan pemasangan infus sebelum menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/CHARLES ABAR
Situasi ruang rapat Komisi III di Kantor DPRD Ngada, Kamis 5 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Pelayanan kesehatan di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT, kembali menjadi sorotan publik
  • Dugaan kelalaian tenaga medis mencuat setelah keluarga almarhum Bripka Maksimus Ngai Rema menyampaikan keluhan atas pelayanan yang dinilai tidak maksimal selama menjalani perawatan
  • Ia menilai perawat yang bertugas tidak menunjukkan respons cepat dan itikad baik demi keselamatan pasien

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Charles Abar

POS-KUPANG.COM, BAJAWA – Pelayanan kesehatan di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT, kembali menjadi sorotan publik.

Dugaan kelalaian tenaga medis mencuat setelah keluarga almarhum Bripka Maksimus Ngai Rema menyampaikan keluhan atas pelayanan yang dinilai tidak maksimal selama menjalani perawatan.

Keluhan tersebut disampaikan oleh istri almarhum, Yuliana Anu Bue, pada Rabu, 4 Maret 2026. Ia menilai perawat yang bertugas tidak menunjukkan respons cepat dan itikad baik demi keselamatan pasien.

Kronologi Perawatan Singkat

Dalam kronologi tertulis yang disampaikan keluarga, almarhum mulai dirawat di RSUD Bajawa sejak 26 Februari 2026. Saat itu, ia mengalami sakit gigi disertai pembengkakan pada pipi serta kesulitan menelan makanan.

Petugas IGD sempat melakukan pemeriksaan awal dan pemasangan infus sebelum menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap.

Pada 28 Februari 2026 sekitar pukul 23.00 Wita, cairan infus pasien dilaporkan habis. Menurut istri korban, saat itu suaminya mulai mengalami keringat dingin dan mengeluh lapar. Ia kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada petugas piket malam.

Baca juga: 82 Siswa Pusing Usai Makan Ikan, Dirawat di RSUD Bajawa 

Namun, ia mengaku tidak menemukan petugas di ruang perawat. Setelah mengetuk pintu kamar, ia melihat perawat sedang bermain telepon genggam.

Ia kembali menyampaikan bahwa cairan infus telah habis, tetapi menurut pengakuannya, perawat tidak segera mengganti infus dengan alasan jatah cairan masih cukup hingga pagi dan tetesan dinilai terlalu cepat.

Sejak saat itu, kondisi pasien disebut semakin gelisah, namun belum ada tindakan lanjutan dari petugas.

Kondisi Memburuk Perawat Masih Lalai

Pada 1 Maret 2026 sekitar pukul 07.00 Wita, istri korban memberi makan almarhum lewat selang. Pagi itu, petugas melakukan pemeriksaan gula darah dan infus serta memberikan satu tablet obat Asam Folat kepada keluarga untuk dipecahkan sendiri.

Hal tersebut membuat keluarga merasa heran karena menurutnya tidak lazim keluarga pasien diminta memecahkan obat di ruang medis.

Karena kebingungan dengan pelayanan yang diterima, ia kemudian menghubungi keluarganya yang berprofesi sebagai perawat di RSUD Borong untuk meminta saran.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved