NTT Terkini
Laurensius: Hasil Survey Belum Mampu Membaca Kompleksitas Sosial dan Geografis NTT
Padahal, menurutnya, cara masyarakat desa dan kota memaknai kemiskinan, pelayanan publik, hingga pembangunan sangat berbeda.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Ringkasan Berita:
- Akademisi Undana Laurensius Sayrani mengkritik survei satu tahun kepemimpinan Melki - Johni
- Terlalu kompleks dibaca dengan kaca mata sederhana
- Angka kepuasan di atas 80 persen memang patut diapresiasi
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. Laurensius Petrus Sayrani, S.Sos, M.PA menilai hasil survei kepuasan publik terhadap kepemimpinan Gubernur Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma (Melki - Johni) belum sepenuhnya mampu membaca kompleksitas sosial dan geografis Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Laurensius, angka kepuasan di atas 80 persen memang patut diapresiasi, namun pertanyaannya adalah apakah angka tersebut cukup untuk menggambarkan realitas NTT yang sangat beragam.
“Seberapa cukupkah angka 80 persen itu untuk membaca kompleksitas NTT? Kita ini provinsi kepulauan dengan karakter sosial, budaya, dan geografis yang berbeda-beda. Kalau dibaca dengan paradigma yang terlalu sederhana, hasilnya tidak akan utuh,” ujar Laurensius Sayrani Jumat (20/2/2026) dalam diskusi publik satu tahun kepemimpinan Melki - Johni.
Laurensius menyoroti survei yang tidak memisahkan responden berdasarkan domisili desa dan kota.
Padahal, menurutnya, cara masyarakat desa dan kota memaknai kemiskinan, pelayanan publik, hingga pembangunan sangat berbeda.
Baca juga: Pdt Mery Kolimon: Jangan Abaikan Suara Kelompok Rentan
“Orang desa mendefinisikan kemiskinan berbeda dengan orang kota. Akses digital, akses layanan, referensi berpikir itu berbeda. Kalau ini tidak dipisahkan, kita kehilangan kedalaman analisis,” ujarnya di Aula El Tari Kantor Gubernur NTT.
Ia juga mengkritik tidak adanya pembacaan berbasis wilayah geografis seperti pesisir dan pegunungan.
Padahal, kata dia, masyarakat pesisir memiliki pola produksi dan konsumsi berbeda dengan masyarakat di wilayah daratan tinggi.
“Kalau survei menyebut jalan sebagai kebutuhan utama, siapa yang mengatakan itu? Wilayah mana? Implikasinya apa bagi kebijakan? Itu yang tidak terlihat,” katanya.
Lebih lanjut, Laurensius menilai karakteristik responden yang ditampilkan, seperti kelompok etnik, yang dinilai belum diolah menjadi analisis yang menjelaskan persepsi masyarakat berdasarkan pulau atau kawasan.
“Bagaimana masyarakat di Pulau Timor mempersepsikan kinerja gubernur? Bagaimana di Flores, Sumba, atau Alor? Data wilayah ada, tapi analisisnya tidak dilakukan secara mendalam,” kritiknya.
Ia menambahkan, NTT sebagai provinsi kepulauan semestinya dibaca dalam paradigma yang mengakui keragaman dan kompleksitas, bukan sekadar pendekatan administratif prosedural.
Laurensius juga membedah hasil survei dari dua dimensi yakni dimensi kepemimpinan (leader) dan dimensi kebijakan publik (public policy). Menurutnya, survei menunjukkan tingkat kepuasan tinggi terhadap figur gubernur dan wakil gubernur, namun tidak menjelaskan secara rinci faktor-faktor yang membentuk kepuasan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pengamat-kebijakan-publik-Laurensius-Sayrani.jpg)