Sabtu, 30 Mei 2026

Wartawan Tribun Melawat ke Australia

Nila Tanzil Berbagi Tips Kuliah di Negeri Kanguru

Indonesia peringkat keenam negara paling banyak mahasiswanya yang kuliah di Australia.  Jumlahnya 20.403 orang.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
TRIBUN NETWORK/DOMU D. AMBARITA
DISKUSI - elegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). 

"Jadi saya ingin merasakan studi di benua yang lain, dalam hal ini Asutralia. Australia adalah negara tetangga, lebih dekat. Biaya tiket penerbangan lebih ringan," kata Nila. 

Nila mengelola bidang literasi, sebanyak 61 Taman Bacaan Pelangi yang tersebar di sekolah dasar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Papua. 

Menurutnya, pemerintah Australia berminat membantu literasi, jadi cocok dengannya. Nila merasakan ada perbedaan dalam hal kualitas kuliah dan metode pengajaran dengan perkuliahan di Indonesia. 

Ketika ia kuliah di Amsterdam, sebelum masuk kelas perkuliahan, mahasiswa harus membaca minimum 10 bab buku. 

Mahasiswa wajib membaca 1 buku dalam seminggu. Saat di kelas tinggal diskusi, dosen tidak mengajar. Dosen meminta mahasiswa mengkritisi buku yang dibacanya. Mahasiswa boleh mendebat penulis buku, dan dosen.

Nila mengatakan, "Sedangkan di Indonesia, mahasiswa semacam disuapi. Seolah isi buku sudah pasti benar semua. Itu yang menjadi kesulitan saya saat kuliah di Eropa, karena menurut saya isi buku, sudah benar. Sedangkan mahasiswa asal Eropa dan Amerika, mengkritisi, mendebat karena menurut mereka, mereka tidak sependapat dengan isi bbuku. Jadi mendebat dosen, menyampaikan mahasiswa tidak sependpat, adalah hal biasa. Dosen sangat terbuka terhadap umpan balik dari mahasiswa." 

Biaya Kontrak Rumah 

Gegar budaya (culture shock) kerap dialami mahasiswa kelas internasional yang baru memasuki satu negara. Hal ini tidak berlaku bagi Nila, sebab sudah pernah kuliah di Eropa dan bekerja di negara lain. 

Tantangannya adalah, kesulitan membagi waktu. Karena dana beasiswa cukup untuk satu orang, padahal dia membawa keluarga. Jadi harus kerja sampingan supaya kebutuhan sehari-hari terpenuhi. 

"Karena di sini tidak ada asisten rumah tangga, jadi tantangan tersendiri juga," ujarnya.

Bagi orang Indonesia, kuliah di Australia, lebih mudah beradaptasi dalam hal budaya. Sebab negara multikultur, orang datang dari berbagai negara. Kampus-kampus pun, banyak mahasiswa internasional. 

Apalagi bahasa Australia memakai bahasa Ingris, sedangkan di Amsterdam menggunakan bahasa Belanda, dengan demikian kesulitan budaya tidak akan berasa di negeri Koala. 

Banyak juga restoran dan makanan khas Asia ditemui di Negeri di Bawah, julukan untuk Australia karena letaknya paling bawah globe dunia. 

Adapun persoalan yang mungkin dihadapi mahasiswa adalah menyangkut biaya hidup. Tidak murah. 

"Living cost, di Perth vs Amsterdam, perumahan mahal di Australia lebih mahal. Terutama di Perth karena banyak perusahaan tambang. Gaji gede, jadi mereka mampu membayar perumahan mahal. Sedangkan bagi mahasiswa, ini jadi masalah," kata Nila.

Nila berbagi tips untuk memperoleh fasilitas beasiswa di Austalia. Pertama, carilah beasiswa sesuai dengan kondisi mahasiswa. Misal, sisi umur. 

Pertama riset di internet, ada beasiswa apa saja. Kedua, lihat persyaratannya, minimum IPK. Cek skor kemampuan berbahasa Inggris, Test of English as a Foreign Language (TOEFL) atau International English Language Testing System (IELTS). Jika skor test Bahasa English masih minim, dianjurkan mengikuti les.

Ketiga, persiapkan dokumen-dokumen pendidikan dan perjalanan. Keempat, dan menjadi hal terpenting kata Nila, "kenali alasan mengapa ingin lanjut S2 atau S3? Kalau alasan ini kurang kuat, dengan segala tantangan di masa kuliah, apalagi dengan bahasa Inggris, yang bukan bahasa ibu, tidak mudah. Ada kemungkinan kena dropped-out (DO)." (amb)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved