Wartawan Tribun Melawat ke Australia
Nila Tanzil Berbagi Tips Kuliah di Negeri Kanguru
Indonesia peringkat keenam negara paling banyak mahasiswanya yang kuliah di Australia. Jumlahnya 20.403 orang.
POS-KUPANG.COM - Australia, benua di selatan garis khatulistiwa, menjadi negara favorit tujuan mahasiswa Indonesia kuliah.
Beberapa alasannya antara lain kualitas pendidikannya standar dunia. Hidup lebih nyaman dan murah. Multikultur atau majemuk. Nuansa Asia sangat berasa. Jaraknya dekat.
Data Februari 2026, lebih dari 20 ribu orang Indonesia, kuliah di Negeri Kanguru. Untuk lebih detail, simak laporan wartawan Tribun Network, Domu D. Ambarita, yang mengikuti perjalanan jurnalistik bersama Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, pekan lalu.
Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan, pertengahan hingga akhir Mei ini.
Delegasi dari Jakarta berjumlah enam orang, lima di antaranya pemimpin media berbagai platform. Seorang lainnya diplomat pada Kedubes Australia di Jakarta, Lucinda Kaval.
Delegasi berangkat dari bandara Soekarno Hatta, Sabtu sore, dan pulang Sabtu malam, seminggu kemudian. Kami menuju Changi, Singapura. Terjadwal lepas landas pukul 14.20 WIB, namun tertunda hampir satu jam, alasan faktor cuaca.
Pesawat Singapore Airlines SQ959 akhirnya mengangkasa. Lama penerbangan 2 jam 5 menit. Kami menempati kelas bisnis.
Mendarat di Changi, langit senja. Kami transit, pindah pesawat. Tergesa-gesa. Berlari-lari menyusuri terminal satu ke terminal lainnya. Lalu menaiki kereta api bandara. Lanjut ke Perth, Australia Barat.
Pesawat bertolak pukul 19.00 waktu Singapura yang sama dengan Wita. Lama penerbangan 5 jam 10 menit. Mendarat di Perth, tengah malam, pukul 23.55 waktu Perth, sama dengan Wita juga. Tiba di hotel, Minggu dinihari.
Rangkaian perjalanan di Australia, empat hari di Perth, Negara Bagian Australia Barat, kemudian terbang ke arah timur menuju Melbourne, Negara Bagian Victoria. Pesawat Qantas Airways terbang 3 jam 30 menit.
Selisih waktu kedua kota 2 jam, Melbourne lebih cepat 2 jam, atau 3 jam duluan dari waktu Jakarta. Delegasi tiga hari di Victoria. Terbang ke Singapura dalam waktu tempuh hampir 8 jam.
Delegasi mengikuti serangkaian kegiatan yang padat. Sehari, rata-rata 4 pertemuan. Keluar hotel pukul 08.30. Selalu santap siang dengan relasi atau narasumber. Kembali larut malam, selalu setelah diakhiri santap malam.
Jadwalnya antara lain berkunjung dan berdialog dengan murid-murid sekolah dasar yang belajar budaya dan Bahasa Indonesia, bertemu menteri, atlet, asosiasi, pebinis, kalangan akademisi, lembaga think-thank dan diplomat.
Delegasi berkunjung ke banyak kampus perguruan tinggi. Di Perth, berjumpa Dekan Fakultas Global dan ASEAN Universitas Curtin Dr Thor Kerr dan tim.
Lokasinya di kampus School of Media, Creative Arts and Social Inquiry (MCASI). Di sini, delegasi bertemu dengan beberapa orang Indonesia, status dosen maupun mahasiswa doktoral.
Selanjutnya bertemu Professor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik terkemuka di kawasan Indo-Pasifik. Gordon, warga Amerika, telah pindah ke Australia sejak 2014.
Ia Chief Executive Officer (CEO) Perth USAsia Centre yang berbasis di The University of Western Australia (UWA), Perth.
Setelah di Kota Melbourne, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham.
Ia guru besar manajemen Monash Business School, Melbourne, sekaligus Program Director untuk Master in Business Innovation (MBI) di Monash University Indonesia di BSD, Tangerang.
Edward menjabat Chair Victoria Chapter Australia Indonesia Business Counsil (AIBC). Ia juga pengusaha.
Hari yang sama, bertemu dengan dua orang yang pernah tinggal di Indonesia. Tito Ambyo, wartawan Indonesia/Australia dan dosen di Universitas RMIT.
Satu lagi, Dr Nasya Bahfen, dosen dan peneliti perilaku remaja pada Department of Politics Media and Philosophy, Universitas La Trobe.
Kemudian Rachel Thompson, Chief Executive Officer (CEO) Asialink Universitas Melbourne.
Asialink adalah pusat kerja sama, lembaga pemikir (think tank), dan penggerak utama hubungan internasional di Australia dan negara-negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia dan ASEAN.
Delegasi juga diskusi dengan pihak Southeast Asia Intelligence (SEAQ), Asia Society Australia, ASEAN-Australia Centre Universitas Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT). Di antaranya dengan Dr Tassia Joannides, Wakil Dekan Desain RMIT School of Fahsion & Textile.
20 Ribu Mahasiswa
Data pemerintah Australia yang dikutip Tribunnews.com dari laman education.gov.au, Indonesia peringkat keenam negara paling banyak mahasiswanya di negeri paling Selatan itu.
Jumlah orang Indonesia, 20.403 orang; 18.817 mahasiswa lama, dan 1.586 mahasiwa baru 2026.
Australia memang menjadi negara tujuan mahasiswa internasional untuk kuliah. Mahasiswa dari berbagai negara yang kuliah di Australia berjumlah 622.043 orang.
Sebaran mahasiswa Indonesia yang menempuh perguruan tinggi di Benua Australia adalah mencakup 6 negara bagian.
Negara Bagian New South Wales yang beribu kota Sydney sebanyak 10.217 mahasiswa, Victoria ibu kota Melbourne 6.088 mahasiswa, Queensland ibu kota Brisbane 1.527 mahasiswa, Australia Barat (Western Australia/WA) ibu kota Perth 1.636 mahasiswa, Australia Selatan (South Australia/SA) ibu kota Adelaide 473 mahasiswa, Tasmania (TAS) ibu kota Hobart 74 mahasiswa.
Dua wilayah teritorial utama, yaitu Wilayah Ibu Kota Australia (Australian Capital Territory/ACT) ibu kota nasional Canberra 314 mahasiswa, dan Wilayah Utara (Northern Territory/NT) ibu kota Darwin 96 mahasiswa.
Australia menjadi negara yang paling tinggi jumlah mahasiswa asal Indonesia. Negara kedua Malaysia. Tercatat sekitar 11.443 mahasiswa.
Amerika Serikat (8.348 mahasiswa pascasarjana) pada 2023-2024. Jerman (5.600 mahasiswa).
Di Jepang, berkisar 5.400 hingga 6.778 orang. Di Inggris 3.124, Turki 2.252, Arab Saudi 2.001, Kanada 1.437, dan Korea Selatan 1.185 mahasiswa.
Buka Kampus di Indonesia
Banyaknya mahasiswa asal Indonesia, menjadi pasar untuk perguruan tinggi asing.
Terdapat beberapa universitas asal Australia yang membuka kampus cabangnya di Indonesia, antara lain Monash University berlokasi di BSD City, Tangerang, Banten.
Western Sydney University berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Dan Deakin University, kampusnya di Bandung, Jawa Barat.
Guru besar manajemen di Monash Business School, Monash Univesity, Profesor Edward Buckingham mengatakan perguruan tinggi Australain menyasar mahasiswa Indonesia.
Edward mengatakan banyak mahasiswa berminat menempuh pendidikan di Australia.
"Makanya kami membuka Monash University di Indonesia," kata Prof Edward dalam jamuan makan siang di restoran bernama Makan, menyajikan menu khas Minang, di Melbourne.
Lebih Dekat, Biaya Terjangkau
Nila Tanzil, seorang wirausahawan sosial dan pendiri Taman Bacaan Pelangi (Rainbow Reading Gardens) di kawasan Indonesia Timur, kini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Curtin University, Perth.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Nila meraih gelar Master of Arts (MA) Studi Ilmu Komunikasi Eropa dari University of Amsterdam. Kini, ia tahap akhir kuliah Philosophiae Doctor (PhD) bidang pendidikan.
"Apa alasan Nila memilih kuliah di Australia, mengapa tidak di Eropa atau Amerika?" Tanya Tribun.
"Untuk pendidikan S3 di Curtin University, saya mencari beasiswa yang tidak ada batas umurnya, yaitu Australia Award yang diberikan pemerintah Australia. Saat itu, usia saya 45, sedangkan dari pemerintah Indonesia, yaitu LPDP batasnya usia pemohon beasiswa adalah 40 tahun," kata Nila.
Selain itu, Nila sudah pernah mengenyam pendidikan S2 di Amsterdam, Belanda. Dia juga sudah pernah bekerja di Singapura.
"Jadi saya ingin merasakan studi di benua yang lain, dalam hal ini Asutralia. Australia adalah negara tetangga, lebih dekat. Biaya tiket penerbangan lebih ringan," kata Nila.
Nila mengelola bidang literasi, sebanyak 61 Taman Bacaan Pelangi yang tersebar di sekolah dasar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Papua.
Menurutnya, pemerintah Australia berminat membantu literasi, jadi cocok dengannya. Nila merasakan ada perbedaan dalam hal kualitas kuliah dan metode pengajaran dengan perkuliahan di Indonesia.
Ketika ia kuliah di Amsterdam, sebelum masuk kelas perkuliahan, mahasiswa harus membaca minimum 10 bab buku.
Mahasiswa wajib membaca 1 buku dalam seminggu. Saat di kelas tinggal diskusi, dosen tidak mengajar. Dosen meminta mahasiswa mengkritisi buku yang dibacanya. Mahasiswa boleh mendebat penulis buku, dan dosen.
Nila mengatakan, "Sedangkan di Indonesia, mahasiswa semacam disuapi. Seolah isi buku sudah pasti benar semua. Itu yang menjadi kesulitan saya saat kuliah di Eropa, karena menurut saya isi buku, sudah benar. Sedangkan mahasiswa asal Eropa dan Amerika, mengkritisi, mendebat karena menurut mereka, mereka tidak sependapat dengan isi bbuku. Jadi mendebat dosen, menyampaikan mahasiswa tidak sependpat, adalah hal biasa. Dosen sangat terbuka terhadap umpan balik dari mahasiswa."
Biaya Kontrak Rumah
Gegar budaya (culture shock) kerap dialami mahasiswa kelas internasional yang baru memasuki satu negara. Hal ini tidak berlaku bagi Nila, sebab sudah pernah kuliah di Eropa dan bekerja di negara lain.
Tantangannya adalah, kesulitan membagi waktu. Karena dana beasiswa cukup untuk satu orang, padahal dia membawa keluarga. Jadi harus kerja sampingan supaya kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
"Karena di sini tidak ada asisten rumah tangga, jadi tantangan tersendiri juga," ujarnya.
Bagi orang Indonesia, kuliah di Australia, lebih mudah beradaptasi dalam hal budaya. Sebab negara multikultur, orang datang dari berbagai negara. Kampus-kampus pun, banyak mahasiswa internasional.
Apalagi bahasa Australia memakai bahasa Ingris, sedangkan di Amsterdam menggunakan bahasa Belanda, dengan demikian kesulitan budaya tidak akan berasa di negeri Koala.
Banyak juga restoran dan makanan khas Asia ditemui di Negeri di Bawah, julukan untuk Australia karena letaknya paling bawah globe dunia.
Adapun persoalan yang mungkin dihadapi mahasiswa adalah menyangkut biaya hidup. Tidak murah.
"Living cost, di Perth vs Amsterdam, perumahan mahal di Australia lebih mahal. Terutama di Perth karena banyak perusahaan tambang. Gaji gede, jadi mereka mampu membayar perumahan mahal. Sedangkan bagi mahasiswa, ini jadi masalah," kata Nila.
Nila berbagi tips untuk memperoleh fasilitas beasiswa di Austalia. Pertama, carilah beasiswa sesuai dengan kondisi mahasiswa. Misal, sisi umur.
Pertama riset di internet, ada beasiswa apa saja. Kedua, lihat persyaratannya, minimum IPK. Cek skor kemampuan berbahasa Inggris, Test of English as a Foreign Language (TOEFL) atau International English Language Testing System (IELTS). Jika skor test Bahasa English masih minim, dianjurkan mengikuti les.
Ketiga, persiapkan dokumen-dokumen pendidikan dan perjalanan. Keempat, dan menjadi hal terpenting kata Nila, "kenali alasan mengapa ingin lanjut S2 atau S3? Kalau alasan ini kurang kuat, dengan segala tantangan di masa kuliah, apalagi dengan bahasa Inggris, yang bukan bahasa ibu, tidak mudah. Ada kemungkinan kena dropped-out (DO)." (amb)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Lirik Lagu Daerah NTT dari Etnis Manggarai Judul Songke Manggarai |
|
|---|
| Cek Jadwal Tol Laut KM Sabuk Nusantara 102 Bulan Juni 2026, Mantangisi - Poso 4 Juni Jam 02.00 Wita |
|
|---|
| Jadwal Kapal Fery ASDP Kupang Hari Ini, Sabtu 30 Mei 2026, Kupang-Sabu KMP Uma Kalada Jam 09.00 Wita |
|
|---|
| Sidang MPH PGI dan HUT ke-76 PGI Sukses Digelar, Ketua Tim Pelaksana Obeth Bolang Ucap Terima Kasih |
|
|---|
| 2 Zodiak Beruntung, Ramalan Zodiak Kesehatan Besok 30 Mei Virgo Vitalitas Tinggi Tapi Sendi Kaku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kunjungan-Domu-ke-Australia.jpg)