Sabtu, 30 Mei 2026

Wartawan Tribun Melawat ke Australia

Nila Tanzil Berbagi Tips Kuliah di Negeri Kanguru

Indonesia peringkat keenam negara paling banyak mahasiswanya yang kuliah di Australia.  Jumlahnya 20.403 orang.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
TRIBUN NETWORK/DOMU D. AMBARITA
DISKUSI - elegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). 

Dua wilayah teritorial utama, yaitu Wilayah Ibu Kota Australia (Australian Capital Territory/ACT) ibu kota nasional Canberra 314 mahasiswa, dan Wilayah Utara (Northern Territory/NT) ibu kota Darwin 96 mahasiswa.

Australia menjadi negara yang paling tinggi jumlah mahasiswa asal Indonesia. Negara kedua Malaysia. Tercatat sekitar 11.443 mahasiswa. 

Amerika Serikat (8.348 mahasiswa pascasarjana) pada 2023-2024. Jerman (5.600 mahasiswa). 

Di Jepang, berkisar 5.400 hingga 6.778 orang. Di Inggris 3.124, Turki 2.252, Arab Saudi 2.001, Kanada 1.437, dan Korea Selatan 1.185 mahasiswa.

Buka Kampus di Indonesia

Banyaknya mahasiswa asal Indonesia, menjadi pasar untuk perguruan tinggi asing. 

Terdapat beberapa universitas asal Australia yang membuka kampus cabangnya di Indonesia, antara lain Monash University berlokasi di BSD City, Tangerang, Banten. 

Western Sydney University berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Dan Deakin University, kampusnya di Bandung, Jawa Barat.

Guru besar manajemen di Monash Business School, Monash Univesity, Profesor Edward Buckingham mengatakan perguruan tinggi Australain menyasar mahasiswa Indonesia. 

Edward mengatakan banyak mahasiswa berminat menempuh pendidikan di Australia.  

"Makanya kami membuka Monash University di Indonesia," kata Prof Edward dalam jamuan makan siang di restoran bernama Makan, menyajikan menu khas Minang, di Melbourne. 

Lebih Dekat, Biaya Terjangkau

Nila Tanzil, seorang wirausahawan sosial dan pendiri Taman Bacaan Pelangi (Rainbow Reading Gardens) di kawasan Indonesia Timur, kini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Curtin University, Perth. 

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Nila meraih gelar Master of Arts (MA) Studi Ilmu Komunikasi Eropa dari University of Amsterdam. Kini, ia tahap akhir kuliah Philosophiae Doctor (PhD) bidang pendidikan. 

"Apa alasan Nila memilih kuliah di Australia, mengapa tidak di Eropa atau Amerika?" Tanya Tribun. 

"Untuk pendidikan S3 di Curtin University, saya mencari beasiswa yang tidak ada batas umurnya, yaitu Australia Award yang diberikan pemerintah Australia. Saat itu, usia saya 45, sedangkan dari pemerintah Indonesia, yaitu LPDP batasnya usia pemohon beasiswa adalah 40 tahun," kata Nila.

Selain itu, Nila sudah pernah mengenyam pendidikan S2 di Amsterdam, Belanda. Dia juga sudah pernah bekerja di Singapura. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved