Breaking News
Kamis, 7 Mei 2026

Internasional Terkini

Menlu Parrilla Tuding AS Lancarkan Perang Ekonomi ke Kuba

Rodriguez mengatakan pembatasan ekonomi serta kemungkinan aksi militer akan melanggar hukum internasional dan merupakan "kejahatan internasional."

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/HO
Bendera Kuba berdampingan dengan bendera AS 

POS-KUPANG.COM, HAVANA - Kuba menuduh Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap negara itu. Tuduhan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla pada Selasa (5/5/2026). 

"Pemerintah (AS) terus mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer terhadap (Kuba) karena 'negara itu hancur' … dan akan menjadi suatu kehormatan untuk membebaskannya," ungkap Rodriguez di platform X.

"Hal sinis dan munafik dari (tindakan) ini adalah bahwa AS selama beberapa dekade telah berupaya menghancurkan negara itu dengan melancarkan perang ekonomi; dan pemerintah itu melakukannya dengan semangat lebih besar dalam dua bulan terakhir melalui penerapan dua Perintah Eksekutif yang bersifat genosida," ujarnya.

Rodriguez mengatakan pembatasan ekonomi serta kemungkinan aksi militer akan melanggar hukum internasional dan merupakan "kejahatan internasional."

Baca juga: Solidaritas pada Kuba, Timor Leste Serukan Akhiri Embargo

"Baik blokade ekonomi dan pengepungan energi maupun langkah-langkah koersif ekstrateritorial yang baru; ancaman serangan militer dan agresi itu sendiri adalah kejahatan internasional," katanya.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah pemerintahnya memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba meski AS mengancam menerapkan tarif terhadap negara mana pun yang menjual minyak ke Kuba.

"Tidak ada blokade minyak terhadap Kuba, secara spesifik," kata Rubio dalam konferensi pers.

Kuba saat ini menghadapi krisis bahan bakar dan pemadaman listrik yang meluas setelah AS memberlakukan embargo minyak pada 30 Januari.

Presiden AS Donald Trump berulang kali mengatakan Kuba adalah target "berikutnya" setelah operasi militer terhadap Iran. Ia juga menyebut negara Karibia itu akan segera "gagal."

Dalam pernyataan terpisah, Rodriguez menolak klaim Rubio bahwa tidak ada blokade minyak terhadap Kuba.

"Ia memilih untuk berbohong. Ia bertentangan dengan Presiden dan Juru Bicara Gedung Putih," katanya.

Ia menunjuk pada perintah eksekutif Trump pada 29 Januari, yang menurutnya mengancam negara-negara pengekspor bahan bakar ke Kuba dengan tarif. Rodriguez berpendapat langkah itu telah menghalangi pasokan bahan bakar ke negara itu secara drastis.

"Dalam empat bulan, hanya satu kapal tanker bahan bakar yang tiba di Kuba. Semua pemasok kami diintimidasi dan diancam, yang melanggar aturan perdagangan bebas dan kebebasan navigasi," ujarnya.

Rodriguez juga menyinggung perintah eksekutif Trump pada 1 Mei yang menetapkan sanksi sekunder di sektor energi, yang semakin memperketat akses Kuba terhadap bahan bakar.

"Menteri Luar Negeri itu sangat memahami dampak dan penderitaan yang ditimbulkan oleh pengepungan minyak kriminal terhadap rakyat Kuba saat ini, yang ia usulkan sendiri kepada presidennya," kata Rodriguez. (*)

 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved