Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 28 September 2025: Beriman Berarti Peduli

Tapi dosa si kaya adalah, karena ia tidak peduli. Ia melihat, tetapi menutup mata; ia tahu, tetapi hatinya tertutup. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LEO MALI
RD. Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Beriman dengan sungguh-sungguh berarti peduli pada kehidupan. 

Karena itu iman bukan hanya soal kata-kata atau doa-doa yang indah, melainkan pertama-tama adalah keterlibatan dan keterarahan hati yang sungguh-sungguh kepada Allah. 

Oleh keterarahan hati yang sungguh-sungguh kepada Allah, kita mengenal Allah sebagai Bapa yang peduli pada kehidupan manusia yang telah memberikan hidup kepada segala sesuatu dalam diri Yesus Kristus. (1Tim. 6: 13). 

Pengenalan akan figur Allah yang sedemikian peduli pada manusia, melibatkan kita dalam cara-Nya memandang dan memperlakukan dunia dengan penuh kasih. 

Karena Allah peduli dan tidak tinggal diam di hadapan penderitaan manusia maka kita pun tidak boleh diam dan masa bodoh di hadapan penderitaan sesama di sekitar kita. 

Beriman berarti menjadi peduli; berani bersikap adil dalam rasa rasa syukur atas semua berkat yang sudah didapatkan dan rela menaruh hati pada penderitaan sesama. Iman menjadikan kita murah hati. Berani peduli.

Injil Lukas 16:19-31 mengisahkan perbedaan tajam antara orang kaya dan Lazarus yang miskin. 

Orang kaya itu selalu hidup dalam pesta pora, sementara Lazarus tergeletak di depan pintunya dalam keadaan lapar dan penuh luka. Dosa si kaya bukan karena ia memiliki harta. 

Tapi dosa si kaya adalah, karena ia tidak peduli. Ia melihat, tetapi menutup mata; ia tahu, tetapi hatinya tertutup. 

Sehingga ia tidak berbuat apa-apa. Perilaku Si kaya menggambarkan iman yang mati: iman yang tidak melahirkan kepedulian dan kasih pada sesama.

Memilih untuk peduli semestinya membuat hati kita tidak pernah nyaman melihat ketidakadilan yang melahirkan penderitaan. Hati seorang beriman, selalu terusik oleh derita sesama. 

Rasa terusik itu terjadi karena ia menyatukan hatinya, dengan hati Allah yang selalu berpihak kepada yang lemah. 

Kita tidak bisa mengakui diri sebagai orang beriman, lalu duduk tenang ketika ada sesama seperti Lazarus. Lazarus di zaman modern yang berada di sekitar kita. 

Lazarus bisa hadir hari ini dalam rupa anak-anak muda pengangguran, para pekerja kecil yang haknya terabaikan, anak-anak terlantar tanpa masa depan, korban perdagangan manusia, para korban kekerasan, korban perang dan pengsungsi, ibu-ibu rumah tangga yang terjerat Pinjol dan koperasi harian yang mencekik, atau orang-orang sakit dan Lansia yang dibiarkan sendirian, dll. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved