Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 20 September 2025, "Hati yang Terbuka akan Sang Sabda"

Ia menaburkan sabda keselamatan kepada siapa saja, sebab keselamatan tidak hanya ditujukan kepada orang atau kelompok tertentu

Editor: Eflin Rote
YOUTUBE SUARA PAGI RENUNGAN HARIAN KATOLIK
RP. John Lewar SVD 

Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Sabtu, 20 September 2025
Peringatan Wajib
S. Andreas Kim Tae-gon, Paulus Chong Hasang
1Tim. 6:13-16; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 8:4-15
Warna Liturgi Merah

Hati yang terbuka akan sang sabda

Dalam injil Lukas (8: 4-15) hari ini, Yesus mengemukakan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih. Seorang penabur pasti punya harapan besar agar benih yang ditaburkannya tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan panen berlimpah.

Supaya hal itu terwujud, ada dua faktor yang menentukan, yakni kualitas benih dan kondisi tanah. Penabur dalam perumpamaan ini adalah Tuhan sendiri.

Ia menaburkan sabda keselamatan kepada siapa saja, sebab keselamatan tidak hanya ditujukan kepada orang atau kelompok tertentu. Sabda keselamatan berlaku untuk siapa saja, dalam kondisi apa pun.

Tugas sebagai penabur kemudian diteruskan oleh para rasul, dan sekarang dipercayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk menjadi penabur benih sabda. Kita harus terus menaburkannya di mana saja, meski tampaknya tak ada hasil. 

Tentu kita berdoa; tentu Roh Kudus bekerja terus. Benih merupakan perlambang sabda Allah. Benih yang ditaburkan artinya sabda Allah yang diwartakan.

Sabda Allah menjadi pribadi dalam diri Yesus, dan pribadi Yesus ini dapat kita kenali melalui kisah dan ajaranNya yang terdapat dalam Alkitab. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Alkitab bukanlah buku biasa.

Sumber penulisannya adalah kebenaran Allah sendiri. Karena itu, Alkitab menjadi sarana yang nyata, yang membawa kita kepada kebenaran dan keselamatan. Sabda Allah sanggup mengubah hidup kita, membawa kita dari jalan yang sesat kepada jalan keselamatan. Membaca Alkitab setiap hari menjadi ungkapan iman dan keyakinan kita bahwa Yesus senantiasa mengajar kita. 

Tanah menggambarkan hati manusia dalam mendengarkan dan menanggapi sabda Allah. Ada empat tipe tanah.

Pertama, tanah di pinggir jalan. Ini adalah gambaran hati yang mendengarkan sabda Allah secara sepintas, sambil lalu, dan tidak mau meluangkan waktu untuk merenungkannya.

Kedua, tanah yang berbatu-batu. Ini adalah gambaran hati yang mendengarkan sabda Allah sekadar untuk menyenangkan telinga dan mulut, sehingga sabda Allah itu tidak berpengaruh pada sikap dan hidupnya.

Ketiga, tanah dengan semak berduri. Ini adalah gambaran hati yang sudah menerima sabda Allah, namun masih mudah terbawa pengaruh jahat.

Keempat, tanah yang subur. Inilah hati yang menerima sabda dengan penuh syukur dan menjadikannya sebagai pegangan hidup.

Tentu saja kita diharapkan dan diundang agar senantiasa berusaha menjadi tanah yang subur. Dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium Paus Fransiskus berkata, Injil berbicara tentang benih (Evangelii Gaudium, No. 22). Benih itu ialah sabda Allah dan sabda Allah tak terduga kekuatannya (Ibid.)

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved