Opini
Opini: Komentar Apa Lagikah yang Tersisa?
Pedagang bakso lebih tragis lagi. Dulu pelanggan bertanya, “Baksonya isi apa?” Sekarang bertanya, “Kuahnya gratis kan?”
Ternyata bukan hanya harga jual. Masalahnya pembeli juga sedang bertahan hidup. Pedagang kecil menurunkan margin.
Pembeli menurunkan belanja. Yang naik hanya tagihan. Ekonomi Indonesia rupanya sedang menjalankan program kebugaran nasional: Semua orang dipaksa mengencangkan ikat pinggang.
Bedanya, sebagian orang masih punya ikat pinggang. Sebagian lagi tinggal lubangnya.
Di pasar, terdengar percakapan yang makin filosofis.
“Bu, berapa telur?”
“Dua ribu.”
“Hmm…”
Lalu pergi.
Padahal zaman dahulu orang bertanya harga untuk membeli. Sekarang bertanya harga untuk mengenang masa lalu. Seperti ziarah ekonomi. “Oh… dulu segini ya…” Pedagang gorengan mulai hafal ekspresi pelanggan.
Ada ekspresi “mau beli”.
Ekspresi “cuma lihat-lihat”.
Espresi “sedang menghitung saldo dalam hati”.
Dan ada ekspresi paling populer, “Mbak, nanti saya balik lagi. Kalimat yang secara statistik memiliki tingkat kepastian sama dengan ramalan cuaca tujuh bulan ke depan.
Pedagang bakso lebih tragis lagi. Dulu pelanggan bertanya, “Baksonya isi apa?” Sekarang bertanya, “Kuahnya gratis kan?”
Pedagang kopi pinggir jalan juga bingung. Harga kopi belum naik banyak. Tapi pelanggan berkurang banyak. Ternyata rakyat sedang menjalankan puasa lain yang tidak diumumkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fransiscus-Go-123.jpg)