Opini
Opini: Ketika Sebuah Gestur Menjadi Vonis
Kita sedang membangun budaya di mana simbol lebih menentukan daripada substansi. Dan itu berbahaya.
Catatan tentang Kepemimpinan, Persepsi, dan Keadilan dalam Ruang Publik
Oleh: Tasogare Suus Nenobais
Peneliti dan pengamat kebijakan publik.
POS-KUPANG.COM - Politik modern adalah dunia yang kejam terhadap simbol. Kadang bukan keputusan besar yang membentuk persepsi publik, melainkan satu detik gestur yang tertangkap kamera.
Sebuah tatapan yang dianggap tidak fokus. Sebuah ekspresi yang terbaca dingin. Sebuah tangan yang menggenggam telepon genggam di momen yang oleh publik dianggap formal, penting, bahkan sakral. Lalu pengadilan dimulai. Cepat. Bising. Tanpa jeda.
Di era digital, publik tidak menunggu notulensi. Tidak menunggu klarifikasi protokoler. Tidak pula sabar menanti konteks yang utuh. Yang mereka lihat adalah gambar. Dan gambar, di zaman ini, punya kekuatan brutal untuk membentuk makna, bahkan sebelum fakta selesai menjelaskan dirinya.
Baca juga: Opini: NTT Menunggu Harapan- Hospital of Hope di Tengah Luka Tata Kelola
Dalam komunikasi politik, persepsi sering bergerak jauh lebih cepat daripada realitas.
Karena itu, ketika muncul kritik terhadap seorang kepala daerah yang tertangkap kamera sedang memegang telepon genggam saat mendampingi pejabat negara dalam agenda resmi, reaksi publik sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan.
Seorang gubernur adalah pejabat publik. Ia tidak hanya hadir membawa nama pribadi, tetapi juga mewakili institusi, pemerintahan, dan daerah yang dipimpinnya. Maka ekspektasi publik terhadap etika visual, bahasa tubuh, dan gestur tentu sangat tinggi.
Ekspektasi itu sah. Namun justru karena ekspektasi itu tinggi, publik juga seharusnya menjaga satu hal penting: keadilan dalam menilai. Sebab kita hidup di zaman yang terlalu sering menyederhanakan realitas.
Satu potongan gambar dianggap cukup untuk menjelaskan keseluruhan karakter
seseorang. Satu momen dijadikan representasi penuh atas integritas seorang pemimpin.
Satu frame dijadikan dasar untuk menyimpulkan apakah seseorang serius bekerja atau tidak. Padahal realitas pemerintahan tidak sesederhana itu.
Tidak semua orang yang melihat telepon genggam sedang bermain-main. Tidak semua yang terlihat tidak menatap lurus ke depan berarti tidak menghormati forum.
Dalam dunia pemerintahan, terlebih di level pimpinan daerah, koordinasi tidak mengenal jeda yang sempurna.
Informasi strategis bisa masuk kapan saja. Persoalan lapangan bisa muncul di waktu yang tidak memilih momen. Keputusan kadang harus dibuat paralel dengan agenda resmi yang sedang berlangsung.
Apakah ini berarti sensitivitas visual tidak penting? Sama sekali tidak. Justru di situlah kompleksitas kepemimpinan hari ini.
Pemimpin modern bukan hanya dituntut bekerja dengan benar. Mereka juga dituntut memahami bagaimana setiap gestur mereka akan diterjemahkan oleh publik.
Itulah beban kepemimpinan di era kamera. Tetapi ada perbedaan besar antara mengingatkan soal sensitivitas etika dengan menjatuhkan vonis atas karakter seseorang. Di sinilah ruang publik sering kehilangan proporsinya.
Dalam teori framing komunikasi politik, publik jarang menilai fakta dalam bentuk mentah.
Publik menilai fakta yang telah dibingkai oleh narasi tertentu. Sebuah tindakan bisa dibaca sebagai bentuk ketidaksopanan oleh satu pihak, tetapi sebagai konsekuensi koordinasi kerja oleh pihak lain.
Yang menentukan bukan selalu fakta objektifnya, tetapi bagaimana cerita itu dibentuk dan dikonsumsi.
Lebih jauh lagi, George Marcus melalui Affective Intelligence Theory menjelaskan bahwa emosi memainkan peran besar dalam perilaku politik publik.
Baca juga: Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?
Masyarakat tidak selalu merespons berdasarkan kalkulasi rasional murni. Ketika ada kecemasan, kekecewaan, atau sensitivitas tertentu terhadap kepemimpinan, stimulus kecil dapat memicu reaksi besar. Karena itu, penting bertanya secara jujur: apakah kemarahan ini murni tentang satu gestur?
Ataukah satu gestur itu sekadar menjadi simbol dari akumulasi rasa yang lebih besar?
Karena politik memang sering bekerja seperti itu. Kadang yang meledak bukan peristiwa hari ini. Yang meledak adalah emosi yang telah lama menumpuk, lalu menemukan satu objek yang mudah divisualisasikan.
Jika demikian, maka persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar telepon genggam. Namun bahkan jika kritik itu lahir dari akumulasi kekecewaan, publik tetap perlu menjaga keadilan dalam penilaian.
Karena demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang membebaskan pemimpin dari kritik, tetapi juga bukan demokrasi yang terlalu cepat menghukum berdasarkan persepsi parsial.
Kalau seorang kepala daerah gagal menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, kritiklah. Kalau pelayanan publik memburuk, kritiklah.
Kalau janji pembangunan diabaikan, kritiklah. Kalau rakyat kesulitan mengakses layanan dasar sementara pemerintah sibuk dengan pencitraan, kritiklah. Itu inti dari akuntabilitas.
Tetapi ketika energi publik habis untuk menguliti satu potongan visual tanpa kejelasan konteks, kita patut bertanya: apakah ini pengawasan demokratis, atau sekadar budaya penghakiman digital?
Sebab bila politik hanya diukur dari potongan gambar, maka perlahan kita menyerahkan penilaian publik kepada algoritma, bukan akal sehat.
Kita sedang membangun budaya di mana simbol lebih menentukan daripada substansi. Dan itu berbahaya.
Karena seorang pemimpin yang bekerja keras tetapi gagal mengelola visual bisa dihukum lebih keras daripada pemimpin yang pandai menjaga pencitraan tetapi minim hasil. Itulah paradoks politik digital.
Tentu, ini bukan berarti kepala daerah tidak boleh diingatkan. Sebaliknya, justru kritik publik adalah alarm yang penting.
Karena seorang pemimpin perlu terus diingatkan bahwa setiap gerak tubuh di ruang publik membawa makna.
Dalam politik, hal-hal kecil sering menjadi besar bukan karena substansinya, tetapi karena simbolismenya.
Namun kritik yang sehat seharusnya tidak kehilangan rasa adil. Dan kalua kita berbicara khusus tentang Gubernur NTT hari ini, publik juga semestinya melihat lanskap yang lebih utuh.
Kepemimpinan daerah tidak pernah bekerja dalam ruang yang sederhana. NTT bukan provinsi tanpa tantangan.
Infrastruktur, konektivitas, investasi, kemiskinan, air bersih, energi, hingga pelayanan dasar adalah pekerjaan rumah yang nyata dan kompleks.
Terlebih semua itu dihadapi dalam situasi ruang fiskal daerah yang terbatas, sementara di saat yang sama daerah juga harus beradaptasi dengan berbagai penyesuaian dan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang ikut mempersempit ruang gerak.
Dalam kondisi seperti itu, kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dipahami publik. Ada kerja-kerja sunyi yang tidak selalu tampak di
permukaan.
Dalam beberapa bulan terakhir, energi pemerintahan daerah terlihat diarahkan untuk menjawab berbagai agenda strategis tersebut.
Ada kerja diplomasi investasi, ada upaya membangun jejaring strategis, ada ikhtiar membuka peluang kolaborasi dan pembiayaan alternatif, serta ada kerja pembangunan yang tidak selalu tampil dalam bentuk konten media sosial yang rapi.
Apakah semua itu sempurna? Tentu tidak. Apakah ada ruang kritik? Selalu ada.
Tetapi tidak adil jika keseluruhan kerja kepemimpinan direduksi hanya menjadi satu frame visual. Karena satu gambar tidak pernah cukup untuk menjelaskan keseluruhan manusia.
Seorang pemimpin bisa saja keliru dalam satu gestur. Bisa saja kurang sensitif dalam satu momen. Itu manusiawi.
Tetapi menjadikan satu momen sebagai bukti final tentang siapa dia, adalah simplifikasi yang tidak sehat. Negeri ini sudah terlalu sering terjebak dalam politik persepsi yang dangkal.
Kita cepat marah pada simbol, tetapi sering lambat mengawal kebijakan. Kita cepat menghakimi bahasa tubuh, tetapi kadang kurang tekun membaca keputusan anggaran. Kita gaduh pada gestur, tetapi diam pada substansi yang jauh lebih menentukan hidup rakyat.
Padahal demokrasi membutuhkan kedewasaan yang lebih dalam dari itu. Kritik tetap penting. Pengawasan tetap wajib. Tetapi keadilan dalam menilai juga sama pentingnya.
Karena demokrasi bukan sekadar hak untuk bereaksi. Demokrasi juga adalah kemampuan untuk menahan diri agar tidak terlalu cepat menjatuhkan vonis.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah seorang gubernur memegang telepon genggam dalam satu momen tertentu.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah pemerintahan ini bekerja? Apakah rakyat merasakan manfaatnya? Apakah keputusan-keputusan yang diambil bergerak ke arah perbaikan?
Karena jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu positif, maka satu gestur seharusnya menjadi catatan kecil, bukan hukuman seumur hidup. Dan jika jawabannya negatif, maka kritik kita seharusnya diarahkan pada hal yang benar-benar penting. Bukan sekadar pada sebuah foto. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tasogare-Suus-Nenobais.jpg)