Opini
Opini: Anak Anak Itu Hanya Meminta Didengar
Ironi terbesarnya adalah ketika ruang yang mengajarkan demokrasi justru gagal memberi ruang bagi keberatan yang demokratis.
Ada guru honorer yang mengabdi puluhan tahun tetapi baru memperoleh pengakuan setelah kisahnya viral.
Ada anak muda desa yang berbicara tentang lapangan kerja tetapi dianggap “belum cukup pengalaman”.
Ada warga yang menyampaikan keluhan soal pendidikan, air bersih, jalan rusak, atau pelayanan publik, tetapi respons yang muncul sering kali lebih cepat defensif daripada mendengar secara sungguh sungguh.
Baca juga: Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Belum lama ini, publik NTT tersentuh oleh kisah seorang guru honorer di Timor Tengah Selatan yang mengabdi selama 36 tahun sebelum akhirnya diangkat sebagai PPPK paruh waktu (Soe FM, 2026).
Kisah itu mengharukan bukan hanya karena ketekunannya, tetapi karena memperlihatkan betapa panjang perjalanan seseorang untuk sekadar diakui.
Di sisi lain, arus migrasi anak muda NTT terus meningkat. Banyak anak muda pergi keluar daerah bahkan keluar negeri bukan semata karena ingin merantau, tetapi karena mereka merasa ruang hidup di daerah sendiri semakin sempit.
Data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia menunjukkan bahwa NTT masih menjadi salah satu kantong besar pekerja migran Indonesia dengan tingkat kerentanan sosial yang tinggi, terutama pada kelompok usia muda (BP2MI, 2025).
Di banyak kampung di NTT, anak anak muda tumbuh seperti lontar di tanah kering: keras bertahan, tetapi sering belajar diam ketika suaranya tidak dianggap penting. Mereka melihat orang tua bekerja tanpa kepastian.
Mereka melihat banyak anak muda lain meninggalkan kampung demi mencari hidup yang lebih layak. Dan perlahan, sebagian dari mereka mulai percaya bahwa bersuara tidak selalu mengubah keadaan.
Karena itu, ketika publik melihat seorang siswa meminta rekaman diputar ulang tetapi justru dianggap sekadar “perasaan”, banyak orang merasa peristiwa itu sangat akrab dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Mungkin inilah sebabnya video itu cepat menyebar dan mengusik begitu banyak orang.
Sebab masyarakat tidak hanya melihat seorang siswa yang dipotong nilainya. Mereka melihat gambaran yang lebih besar: betapa sering suara yang lemah dianggap terlalu emosional, terlalu muda, terlalu kecil, atau terlalu tidak penting untuk benar benar didengar. Padahal demokrasi bertumbuh justru dari kemampuan mendengar keberatan.
Demokrasi yang Kehilangan Kemampuan Mendengar
Anak muda hari ini tumbuh dalam budaya digital yang terbiasa memeriksa ulang fakta. Mereka hidup di tengah rekaman video, tangkapan layar dan ruang partisipasi publik yang jauh lebih terbuka.
Mereka tidak mudah menerima jawaban “karena saya yang berwenang”. Mereka ingin transparansi. Mereka ingin dialog. Mereka ingin didengar.
Namun sebagian lembaga masih bekerja dengan budaya lama: bahwa kewibawaan harus dijaga meskipun fakta dipersoalkan. Akibatnya, koreksi sering dianggap ancaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru4.jpg)